Dewan Pers

Dark/Light Mode

Perang Ukraina

Serangan Rudal Rusia Sambut Pengakuan Sekjen PBB, Atas Kegagalan Dewan Keamanan

Jumat, 29 April 2022 07:19 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres dalam kunjungannya di Kiev, Ukraina, Kamis (27/4). (Foto: BBC)
Sekjen PBB Antonio Guterres dalam kunjungannya di Kiev, Ukraina, Kamis (27/4). (Foto: BBC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Serangan rudal Rusia menghantam Kiev, seolah menyambut pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, di tengah kunjungannya ke Ibu Kota Ukraina, Kiev.

Dalam kunjungan itu, Guterres mengakui kegagalan Dewan Keamanan PBB, dalam mencegah atau mengakhiri perang di Ukraina, yang dimulai sejak 24 Februari lalu.

"Ini adalah sumber kekecewaan besar, frustrasi dan kemarahan. Biarkan saya bicara dengan jelas. Dewan Keamanan PBB gagal menggunakan kekuasaannya untuk mencegah dan mengakhiri perang Ukraina," kata Guterres dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky seperti dikutip BBC, Kamis (28/4).

Sebanyak 15 negara yang bertugas di Dewan Keamanan PBB, sejatinya diamanatkan untuk memastikan perdamaian dan keamanan dunia.

Rusia yang merupakan salah satu dari lima anggota tetap badan tersebut, telah memveto lebih dari satu resolusi mengenai konflik tersebut.

Berita Terkait : Peluang Ekonomi Digital Harus Dibarengi Keamanan Data Dan Kualitas Jaringan

"Saya di sini untuk mengatakan kepada Anda, Presiden dan rakyat Ukraina, bahwa kami tidak akan menyerah," tegas Guterres.

Namun, pria asal Portugal itu juga membela organisasi yang dipimpinnya. Dia bilang, di tengah kelumpuhan Dewan Keamanan, PBB telah bergerak mengambil tindakan lain. 

"Melalui 1.400 anggota staf di Ukraina, PBB memberikan bantuan, makanan, uang tunai dan bentuk dukungan lainnya," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zelensky mengatakan, Guterres berkesempatan untuk menyaksikan sendiri "semua kejahatan perang" yang dilakukan oleh Rusia di Ukraina.

Dia kembali menyebut tindakan Rusia di negaranya sebagai "genosida".

Berita Terkait : Satgas Pangan Polri Pastikan Stok dan Harga Pangan Aman Jelang Ramadan

Di tengah kunjungan Sekjen PBB, dua ledakan menghantam distrik Shevchenko tengah di Kiev. Tiga orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena cedera.

Dalam kunjungannya, Guterres juga mendatangi sejumlah tempat, yang disebut Ukraina sebagai lokasi kejahatan perang Rusia. Tuduhan itu jelas dibantah Moskow.

Di Kota Borodyanka yang berada di wilayah barat laut Kiev, Guterres berbicara kepada wartawan di depan gedung-gedung yang luluh lantak oleh serangan dan penembakan.

Dia pun membayangkan, bagaimana seandainya keluarganya sendiri yang menjadi korban perang.

Guterres bilang, perang di Ukraina adalah absurditas di abad ke-21.

Berita Terkait : Persiapan IPU Ke-144 Di Bali, Puan Dorong Pembahasan Isu Keamanan Dan Perdamaian

Mantan Perdana Menteri Portugal (1995-2002) ini pun menyerukan semua pihak, agar menyelamatkan ribuan orang di Kota Mariupol, di selatan Ukraina, yang telah menjadi korban pengeboman berat Rusia selama berminggu-minggu.

"Mariupol adalah krisis di dalam krisis," tandas Guterres.

"Ribuan warga sipil membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan jiwa. Banyak lansia yang membutuhkan perawatan medis, atau memiliki mobilitas terbatas. Mereka butuh jalan keluar dari kiamat ini, imbuhnya.

Rusia sejauh ini menolak permintaan Kiev, untuk mengizinkan seluruh warga yang terperangkap di kawasan industri Azovstal dievakuasi.

Namun, Guterres mengatakan kepada BBC, bahwa pada prinsipnya Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan warga sipil mengungsi. [HES]