Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tanggapi Pidato Jokowi Di KTT G7, Pengamat: Semua Sudah Capek Perang

Rabu, 29 Juni 2022 17:04 WIB
Prof Hikmahanto Juwana/IG
Prof Hikmahanto Juwana/IG

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar Universitas Indonesia Prof Hikmahanto Juwana setuju dengan ajakan Presiden Jokowi agar negara-negara keanggotaan G7 dan G20 bersatu padu menyelamatkan negara-negara berkembang dari krisis pangan. Pasalnya, saat ini ancaman kelaparan ekstrem mengancam masyarakat di negara berkembang.

“Ini pendekatan yang dilakukan Pak Jokowi agar negara-negara tidak memanasi Ukraina,” kata Hikmahanto saat dihubungi, Rabu (29/6).

Dikatakan Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani itu, dalam pidatonya, Jokowi tidak langsung menyinggung soal bahaya perang yang terjadi di Ukraina, namun maksud dari pernyataan tersebut lebih pada mendamaikan dua negara Eropa Timur. Karena produksi hasil pertanian (gandum) terbesar di dunia berada di Rusia dan Ukraina.

Bahkan, lanjut Hikmahanto, sebagian besar negara-negara berkembang berafiliasi atau masuk dalam keanggotaan NATO. Jokowi mengharapkan ada jaminan dukungan perdamaian dari negara-negara tersebut saat bertemu dengan Presiden Rusia.

Berita Terkait : Jokowi Selamat Sampai Jerman

Menurut Hikmahanto, meski tidak dimunculkan di dalam pidato, tapi sudah disepakati bahwa jaminan dari negara-negara G7 untuk tidak terima Ukraina sebagai anggota NATO, karena ini menjadi bekal saat Pak Presiden bertemu sama Presiden Rusia. 

“Karena nanti Pak Jokowi juga ketemu sama Presiden Zelensky. Beliau akan mengatakan, pokoknya saya harus mendapat jaminan bahwa Anda tidak akan menyerang warga negara Anda yang mempraktikkan budaya Rusia,” ucapnya.

Jadi, dua hal yang akan disampaikan Jokowi. Kepada Presiden Putin, bahwa NATO tidak akan menerima Ukraina. Kepada Ukraina, agar tidak menyerang warga negaranya yang masih menggunakan budaya Rusia dan bahasa Rusia. “Hingga nanti beliau minta agar serangan ke Ukraina dihentikan,” ucap Hikmahanto.

Menurutnya, pernyataan Jokowi soal menyelamatkan negara-negara berkembang dari krisis pangan ekstrem ini pasti diikuti oleh negara anggota G7 dan G20. 

Berita Terkait : Kata Mahathir, Nasdem Dan Surya Paloh Pasti Punya Peran

“Saya rasa ini imbauan dari Pak Jokowi dan mungkin saja negara-negara ini akan mengikuti untuk selamat dari krisis pangan ekstrem. Karena perang ini sudah terlalu lama di Eropa, semua sudah capek dan terus terang semua tidak tahu tujuannya apa,” jelasnya.

Hikmahanto juga yakin betul, krisis pangan ekstrem akan menimpa negara-negara berkembang yang secara finansial sangat lemah. Jutaan orang akan mati jika krisis pangan ini dibiarkan terjadi. 

Untuk itu, komitmen perdamaian yang dilakukan oleh Jokowi akan didukung penuh oleh negara-negara tersebut.

Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi menyerukan negara G7 dan G20 untuk bersama-sama mengatasi krisis pangan yang saat ini mengancam rakyat di negara-negara berkembang, yang akan jatuh ke jurang kelaparan dan kemiskinan ekstrem.

Berita Terkait : Penentu Capres Partai Papan Tengah

“323 juta orang di tahun 2022 ini, menurut World Food Programme, terancam menghadapi kerawanan pangan akut. G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar untuk atasi krisis pangan ini. Mari kita tunaikan tanggung jawab kita, sekarang dan mulai saat ini,” ajak Jokowi dalam pandangannya pada KTT G7 sesi II dengan topik ketahanan pangan dan kesetaraan gender, yang berlangsung di Elmau, Jerman, Senin (27/6).

Menurut Jokowi, pangan adalah permasalahan Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling dasar. Kaum perempuan dari keluarga miskin dipastikan menjadi yang paling menderita menghadapi kekurangan pangan bagi anak dan keluarganya.

“Kita harus segera bertindak cepat mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasok pangan dan pupuk global harus kembali normal,” tegas Jokowi.■