Dewan Pers

Dark/Light Mode

Soal Konflik Taiwan Vs China

Menlu AS Curhat Ke Bu Retno

Sabtu, 6 Agustus 2022 08:05 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken. (Foto Instagram @secblinken)
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken. (Foto Instagram @secblinken)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Antony Blinken mendiskusikan situasi panas antara China dengan Taiwan bersama Menlu RI Retno Marsudi, di sela pertemuan Menlu ASEAN dengan negara mitra di Phnom Penh, Kamboja, Kamis (4/8).

Dalam pertemuan bilateral itu, Blinken menegaskan bahwa AS tidak pernah mencari gara-gara dengan lawatan Ketua DPR Nancy Pelosi ke Taiwan pada Rabu (3/8). Dia menuturkan, AS tetap menjunjung prinsip Satu China atau One China Policy.

“Saya ingin berbicara soal aktivitas terbaru tentang Taiwan, karena saya tahu itu ada di benak banyak orang. Amerika Serikat memiliki kepentingan abadi dalam perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan,” kata Blinken dalam pertemuan itu pada Kamis, dikutip pernyataan Kedubes AS, kemarin.

Namun Blinken juga menegaskan, Washington menentang segala upaya sepihak untuk mengubah status quo, terutama dengan kekerasan. Menurutnya, dia tetap berkomitmen pada kebijakan Satu China dengan tetap memegang teguh Undang-Undang Hubungan Taiwan (Taiwan Act), Three Communiques, dan Six Assurances yang menjadi basis relasi AS-Taiwan.

Berita Terkait : Pelosi Kunjungi Taiwan, AS-China Makin Mendidih

Kunjungan Pelosi ke Taipei membuat China marah, sampai menggelar latihan militer besar-besaran di sekeliling Taiwan. China menganggap kunjungan Pelosi menandakan AS sudah tak lagi mengindahkan prinsip Satu China. Bagi Beijing, setiap negara yang menjalin hubungan diplomatik dengannya harus menerapkan kebijakan Satu China.

Prinsip Satu China itu menyatakan, China adalah Pemerintah resmi wilayahnya yang mencakup daratan China, Tibet, Hong Kong, Macau, hingga Taiwan. Sementara Beijing menilai kunjungan Pelosi, pejabat tertinggi ketiga di AS, ke Taiwan menandakan dukungan Washington terhadap Taipei yang ngotot ingin merdeka.

Namun, AS dan negara Barat mendukung lawatan Pelosi dengan mengatakan, kunjungan itu tidak mengubah sikap soal prinsip Satu China.

“Saya ingin menekankan, tidak ada yang berubah tentang posisi kami. Saya sangat berharap, Beijing tidak akan membuat krisis atau mencari dalih untuk meningkatkan aktivitas militernya yang agresif,” lanjut Blinken.

Berita Terkait : Skandal Kredit Tambang Viral Di Medsos, Aparat Diminta Usut

AS dan negara-negara lain percaya, eskalasi tak menguntungkan siapa pun dan bisa memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan yang tidak melayani kepentingan siapa pun, termasuk anggota ASEAN dan China.

Lebih lanjut Blinken menerangkan, Washington telah melibatkan China dalam beberapa hari terakhir di setiap tingkat pemerintahan untuk menyampaikan pesan itu.

“Menjaga stabilitas lintas selat adalah kepentingan semua negara di kawasan, termasuk semua rekan kita di ASEAN,” imbuhnya.

Sementara Indonesia juga prihatin dengan ketegangan China-Taiwan akibat lawatan Pelosi pekan ini. Jakarta khawatir, kesalahan perhitungan bisa menyebabkan konflik terbuka di Selat Taiwan.

Berita Terkait : Sandi Manut Ke Prabowo

Dalam pertemuan dengan Blinken, Retno menegaskan, bagi Indonesia dan ASEAN, sangat penting untuk menjalin kerja sama yang konkret dengan para mitra. Termasuk dengan AS. Kerja Sama yang saling menguntungkan serta dapat berkontribusi pada perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di Indo-Pasifik.

“Menlu Blinken, rekan-rekan, di masa yang penuh tantangan ini, yang dibutuhkan dunia adalah kebijaksanaan dan tanggung jawab semua pemimpin, kita semua, untuk memastikan perdamaian dan stabilitas,” pungkas Retno. ■