Dewan Pers

Dark/Light Mode

Setelah Menunggu Dua Dekade

Sah, Anwar Ibrahim Jadi PM Malaysia

Kamis, 24 November 2022 13:01 WIB
Pemimpin Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim akhirnya jadi PM.
Pemimpin Oposisi Malaysia Anwar Ibrahim akhirnya jadi PM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah dua dekade menunggu, akhirnya, emimpin koalisi Pakatan Harapan Anwar Ibrahim ditunjuk Raja Malaysia sebagai Perdana Menteri (PM), setelah kebuntuan politik mewarnai negara itu usai Pemilu ke-15, 19 November lalu.

Pelantikan Anwar sebagai PM ke-10 akan digelar hari ini sekitar pukul 17.00 waktu setempat.

Dalam keterangannya, Kamis (24/11), Pengawas Rumah Tangga Kerajaan Malaysia, Ahmad Fadil Shamsuddin, menyatakan Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah telah menyetujui penunjukan tersebut.

Berita Terkait : Mahfud: Gitu Aja Kok Jadi Pertanyaan...

"Seri Paduka Baginda telah memberi izin melantik Yang Berhormat Dato' Seri Anwar bin Ibrahim sebagai Perdana Menteri Malaysia yang ke-10," demikian bunyi penggalan pengumuman tersebut.

Diketahui bahwa Pasal 40 ayat 2(a) dan Pasal 43 ayat 2(a) pada Konstitusi Federal Malaysia mengatur soal wewenang Raja Malaysia untuk menunjuk Perdana Menteri yang diyakini memiliki dukungan mayoritas dalam parlemen atau Dewan Rakyat.

Penunjukan Anwar sebagai PM ke-10 Malaysia ini diumumkan setelah Sultan Abdullah menggelar sidang dengan Raja-raja Melayu, atau para raja dari sembilan negara bagian Malaysia untuk memecah kebuntuan politik.

Berita Terkait : Anwar Ibrahim Dan Muhyiddin Klaim Menang Pemilu Malaysia

Kebuntuan itu dipicu oleh hasil pemilu yang tidak memberikan suara mayoritas mutlak kepada salah satu partai atau koalisi politik, membentuk pemerintahan. Alias parlemen gantung.

Perjalanan Anwar Ibrahim menjadi PM berliku-liku. Tapi semangatnya menjadi orang nomot satu di negeri jiran itu, tak pernah pudar.

Anwar Ibrahim dipecat sebagai wakil perdana menteri oleh mentornya yaitu mantan PM Mahathir Mohamad pada 1998, meski dia sudah ditunjuk sebagai calon suksesor. Pemecatan itu berujung bui selama enam tahun karena kasus sodomi.

Berita Terkait : Solid Bergerak, Sukur Buka Diklat Kader Tingkat Madya Di Maluku

Anwar kemudian kembali ke kancah politik sebagai pemimpin oposisi Malaysia. Namun, ambisi politiknya kembali tersendat setelah dia kembali dijebloskan ke penjara untuk kali kedua pada Februari 2015 karena kasus sodomi.

Anwar baru dapat menghirup udara bebas setelah koalisi Pakatan Harapan pimpinannya meraih kemenangan mengejutkan pada pemilu Mei 2018. Ia berkoalisi dengan Mahathir.

Sesuai dengan kesepakatan politik dengan Mahathir, dia seharusnya menggantikan Mahathir setelah dua tahun, tetapi pemerintahan koalisi Pakatan Harapan kolaps pada Februari 2020. Anwar pun harus kembali menjadi pemimpin oposisi.***