Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
JENESYS2022 For Young Journalists (3)
Wisata Ramah Muslim Ala Si Kuda Putih
Rabu, 1 Maret 2023 04:05 WIB
Sebelumnya
Setelah sempat tutup selama lebih dari dua tahun akibat pandemi Covid-19, hari itu, tempat ski di Hakuba Goryu tampak ramai. Apalagi di akhir pekan.
Turun dari tempat ski, para peserta kemudian diajak menuju ke kawasan hutan. Para peserta diajak trekking, dan merasakan berjalan di atas salju dengan sepatu khusus salju. Jika dihitung pergi pulang, jarak trekking lebih dari 3 kilometer (km).
Sebagai lokasi tujuan wisata, Hakuba ingin terbuka bagi semua kalangan. Termasuk wisatawan Muslim. Otoritas pariwisata setempat memang tidak membangun masjid atau mushala. Tapi, mereka berupaya menciptakan suasana yang ramah bagi wisatawan Muslim.
“Jadi, kalau ada wisatawan yang ingin shalat, kami sediakan tempat, dan sajadah atau hijab, serta memberitahu arah kiblat,” jelas Sato.
Baca juga : 40 Persen Warga Nagano Di Atas 40 Tahun, Koran Lokal Laris
Dia menjelaskan, pertama kali desanya memiliki kesadaran terhadap wisatawan Muslim pada 2010. Saat itu, Hakuba untuk pertama kalinya jadi destinasi para peserta program JENESYS.
Saat itu, ada sejumlah peserta Muslim, termasuk dari Indonesia. Dari para peserta yang juga wisatawan itu, mereka menerima masukan soal sulitnya menemukan makanan maupun tempat ibadah untuk Muslim.
Sejak saat itu, desa yang lebih dari 90 persen wilayahnya tertutup hutan dan pegunungan itu mulai kedatangan wisatawan Muslim dari berbagai negara. Seperti Malaysia dan Indonesia, bahkan Timur Tengah.
Soal makanan, Manajer Asosiasi Pariwisata Desa Hakuba, Yoshizawa Hirokazu mengakui, hingga saat ini belum ada resto bersertifikat halal. Namun, di desa itu terdapat restoran vegetarian yang bisa menjadi pilihan wisatawan Muslim saat liburan ke Hakuba.
Baca juga : Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo Jadi Tempat Wisata Gratis
“Banyak wisatawan Muslim memilih ke restoran itu,” jelas Yoshizawa.
Yoshizawa bercerita, pandemi Covid-19 juga berdampak pada warga di Hakuba. Maklum, dari 8.519 populasi warga di desa itu, sebagai besar bergantung pada sektor pariwisata.
Hakuba memiliki total 25 ribu kamar penginapan. Dan selama pandemi, mereka berupaya menggaet wisatawan lokal. Jumlahnya memang tidak bisa memenuhi target. Namun, bisa meningkatkan gairah penduduk setempat yang bergantung pada sektor pariwisata.
“Sekarang kondisinya agak membaik, tapi ini baru 60 persen dari kondisi sebelum pandemi,” jelasnya.
Baca juga : Ada Milenial Mikir Panen Sawit Kudu Nebang Pohon
Dia menambahkan, Desa Hakuba sangat unik. Di satu tempat ada beberapa musim. Itu karena wilayah Hakuba memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Mulai dari 598 hingga 2.932 mdpl.
Saat musim semi tiba, bunga sakura muncul di mana-mana. Sementara di wilayah yang lebih tinggi, salju masih ada dan bisa untuk bermain ski. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya