Dark/Light Mode

Bentrok Dengan Demonstran Serbia Di Kosovo

Tentara Hongaria Babak Belur

Rabu, 31 Mei 2023 00:17 WIB
Tentara NATO Kosovo Force (KFOR) bentrok dengan pengunjuk rasa Serbia Kosovo di pintu masuk kantor Pemerintahan Kota Zvecan, Kosovo, 29 Mei 2023. (Foto Reuters/Laura Hasani)
Tentara NATO Kosovo Force (KFOR) bentrok dengan pengunjuk rasa Serbia Kosovo di pintu masuk kantor Pemerintahan Kota Zvecan, Kosovo, 29 Mei 2023. (Foto Reuters/Laura Hasani)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lebih dari 30 tentara penjaga perdamaian dalam misi pimpinan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Kosovo mengalami luka-luka akibat bentrokan dengan demonstran etnis Serbia, Senin (29/5). Beberapa di antaranya, babak belur alias luka parah.

Para demonstran dari etnis Serbia itu menuntut pencopotan sejumlah wali kota terpilih dari etnis Albania, di tengah gejolak ketegangan di negara Balkan itu.

Pasukan Kosovo NATO (KFOR) menyampaikan, pihaknya menghadapi serangan saat menghadapi massa yang tidak bersahabat, setelah para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi, dan mencoba menerobos sebuah gedung pemerintahan di kota Zvecan, di utara negara itu.

Etnis Serbia bentrok dengan pasukan NATO di Kota Zvecan, 45 kilometer (km) utara Kota Pristina.

Baca juga : Di Depan Lautan Suporter, Erick Serukan Revolusi Mental Dari Sepak Bola

“Kedua belah pihak harus bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi dan mencegah eskalasi lebih lanjut, daripada bersembunyi di balik narasi palsu,” kata komandan KFOR Mayjen Angelo Michele Ristuccia.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengatakan, 52 warga Serbia terluka, tiga di antaranya menderita luka berat.

“Satu terluka dengan dua tembakan oleh pasukan khusus (etnis) Albania,” dilansir AFP, kemarin.

Konflik Kosovo-Serbia

Sementara, Kementerian Pertahanan Hongaria mengatakan di laman Facebooknya bahwa lebih dari 20 tentara Hongaria terluka. Tujuh tentara di antaranya mengalami luka parah namun dalam kondisi stabil.

Baca juga : Begini Cara Tangani Kebakaran Baterai Motor Listrik

Kemudian, Menteri Luar Negeri Italia menyampaikan tiga tentaranya terluka parah. Menanggapi ketegangan, Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni bersama NATO mengimbau semua pihak mundur untuk menurunkan ketegangan.

Warga Serbia di Kosovo memboikot pemilihan umum pada bulan lalu di kota-kota di sisi utara negara itu, yang mengizinkan warga etnis Albania untuk berkuasa di dewan-dewan kota meski jumlah pemilih hanya 3,5 persen suara.

Banyak warga Serbia menuntut penarikan pasukan polisi Kosovo karena kehadirannya di Kosovo utara dianggap memicu perlawanan. Serbia juga tak terima dengan wali kota etnis Albania yang mereka anggap tidak mewakili mereka.

Pemerintahan PM Kosovo Albin Kurti melantik para wali kota pekan lalu, menentang seruan Uni Eropa (UE) dan AS untuk meredakan ketegangan.

Baca juga : Prabowo Diserang Kembali, Dasco Minta Kader Gerindra Tidak Membalas

UE dan AS sama-sama memperjuangkan kemerdekaan wilayah itu dari Serbia pada 2008. Kosovo dan Serbia telah bermusuhan selama beberapa dekade.

Konflik di Kosovo meletus pada1998 ketika separatis etnik Albania memberontak melawan kekuasaan Serbia. Hal itu dibalas Serbia dengan melakukan balasan brutal.

Sekitar 13.000 orang, kebanyakan etnis Albania, tewas. Intervensi militer NATO pada 1999 akhirnya memaksa Serbia untuk menarik diri dari wilayah tersebut.

Washington dan sebagian besar negara UE telah mengakui Kosovo sebagai negara merdeka, tetapi Serbia, Rusia, dan China belum. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.