Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Badai Matahari Ekstrem Melanda, Aurora Menyala Di Inggris Dan Tasmania
Minggu, 12 Mei 2024 08:31 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badai matahari ekstrem melanda Bumi pada Jumat, 10 Mei 2024. Akibat badai tersebut, Aurora Borealis yang biasanya hanya terlihat di wilayah kutub, dapat diamati di daerah dengan lintang lebih rendah seperti Inggris dan Tasmania, pulau dan negara bagian di Australia. Meskipun fenomena ini menakjubkan, para ilmuwan mengingatkan tentang potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya, termasuk gangguan pada satelit dan jaringan listrik.
Laporan adanya badai Matahari itu disampaikan Pusat Prediksi Cuaca Antariksa National Oceanic and Atmospheric Administration (SWPC- NOAA). Lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bertugas memantau dan memberikan informasi serta prediksi tentang cuaca antariksa itu melaporkan letusan massa koronal pertama—yang merupakan pelepasan plasma dan medan magnet dari Matahari—terjadi tepat setelah pukul 4 sore GMT atau sekitar pukul 11 malam waktu Jakarta.
Badai ini kemudian meningkat menjadi badai geomagnetik "ekstrem". SWPC menyebut badai ini merupakan badai terkuat dalam dua dekade terakhir dan badai pertama sejak Badai Halloween pada Oktober 2003.
"Diperkirakan lebih banyak lagi letusan massa koronal (CMEs) akan menghantam planet kita dalam beberapa hari mendatang," tulis laporan AFP, Sabtu (11/5/2024).
Sekadar tahu saja, Badai Halloween adalah serangkaian badai matahari ekstrem yang terjadi pada akhir Oktober hingga awal November 2003. Badai ini mengakibatkan kerusakan pada satelit, gangguan komunikasi dan navigasi serta menyebabkan pemadaman listrik luas di Swedia dan Afrika Selatan. Karena intensitasnya yang luar biasa, badai itu menyebabkan Aurora Borealis yang biasanya tampak di sekitar kutub bisa dilihat di Texas dan Florida.
Baca juga : Man City-Arsenal Memanas, Juara Liga Inggris Ditentukan Pekan Ini
Badai matahari ekstrem kali ini pun menyebabkan hal serupa. Aurora Borealis (Aurora Australis di belahan bumi selatan) bisa diamati di wilayah Eropa Utara, Australia dan Selandia Baru.
Di Amerika, Aurora dapat diamati di California Utara dan Alabama. Mr. Brent Gordon, kepala cabang layanan antariksa di Pusat Prediksi Cuaca Antariksa, mengajak masyarakat untuk mencoba mengabadikan langit malam dengan kamera ponsel meskipun mereka tidak dapat melihat aurora dengan mata telanjang.
"Cukup keluar melalui pintu belakang dan ambil gambar dengan ponsel terbaru dan Anda akan terkejut dengan apa yang Anda lihat dalam gambar dibandingkan dengan apa yang Anda lihat dengan mata Anda sendiri," kata Gordon, kepada AFP.
Kabar ini membuat media sosial penuh dengan foto Aurora yang menakjubkan dari berbagai wilayah.
"Kami baru saja membangunkan anak-anak untuk menonton Aurora Borealis di taman belakang! Jelas terlihat dengan mata telanjang," kata Mr. Iain Mansfield di Hertford, Inggris.
Baca juga : Kecelakaan Maut Bus Terguling Di Ciater Subang, 11 Orang Meninggal Dunia
Rasa takjub yang serupa juga terasa di negara bagian Australia, Tasmania.
"Langit yang benar-benar seperti di dalam kitab suci di Tasmania pada pukul 4 pagi ini. Saya akan pergi hari ini dan tahu saya tidak bisa melewatkan kesempatan ini," tulis fotografer Sean O'Riordan membagikan pengalamannya di platform media sosial X, lengkap dengan foto yang diambilnya.
Karena kejadian ini, otoritas setempat telah memberitahu operator satelit, maskapai penerbangan, dan jaringan listrik untuk mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap potensi gangguan yang disebabkan oleh perubahan pada medan magnet Bumi.
Profesor fisika luar angkasa dari Reading University, Mathew Owens menjelaskan alasan kenapa badai matahari ekstrem menyebabkan Aurora Borealis dapat terlihat di lokasi yang lebih jauh dari kutub.
Biasanya, aurora terbatas pada daerah kutub karena interaksi partikel bermuatan dari matahari dengan medan magnet Bumi terutama terjadi di dekat kutub magnet Bumi. Namun, selama badai geomagnetik yang kuat, perubahan besar dalam medan magnet dapat memperluas cakupan aurora ke lintang yang lebih rendah. Kata dia, seberapa jauh dampak akan terasa di lintang utara dan selatan planet tergantung pada kekuatan akhir badai.
Baca juga : Jaga Marwah Akademis, Dekan FEB Unas Prof Kumba Mengundurkan Diri
"Saran saya, keluar malam ini dan lihatlah. Jika Anda melihat aurora, itu adalah pemandangan yang sangat spektakuler," ujarnya.
Owens mengingatkan potensi bahaya dari matahari ekstrem ini. Badai ini bisa menyebabkan kerusakan pada jaringan listrik di Bumi. Ketika CMEs mencapai atmosfer Bumi, interaksi dengan medan magnet Bumi dapat menghasilkan arus listrik yang besar di atmosfer bumi dan bumi itu sendiri.
Arus ini dapat menginduksi tegangan tak diinginkan di jaringan listrik, terutama pada transformator. Transformator yang terkena dapat mengalami kerusakan atau kegagalan karena beban listrik berlebih dan panas yang dihasilkan, yang pada gilirannya bisa menyebabkan pemadaman listrik yang luas.
Tak cuma itu, CMEs mempengaruhi hewan yang memiliki kompas biologis karena gangguan yang terjadi pada medan magnet Bumi. Menurut Laboratorium Propulsi Jet NASA, penangkar merpati telah mencatat penurunan jumlah burung yang kembali ke rumah selama badai geomagnetik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya