Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Mantan Ahli Bedah Jantung Masoud Pezeshkian Terpilih Jadi Presiden Baru Iran
Sabtu, 6 Juli 2024 13:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Masoud Pezeshkian, reformis sekaligus ahli bedah jantung, terpilih menjadi Presiden ke-9 Iran, setelah memenangkan pemilu putaran 2 dengan 16.384.403 suara dari total 30.530.157 (53,3 persen), Sabtu (6/7/2024). Mengalahkan tokoh garis keras Saeed Jalili, yang hanya mengantongi 13.538.179 suara (44,3 persen).
Pemilu putaran kedua digelar, setelah tak ada kandidat yang memperoleh suara mayoritas pada pemilu putaran pertama tanggal 28 Juni, yang hanya diikuti 40 persen warga Iran. Ini adalah partisipasi terendah dalam sejarah pemilu di negara tersebut.
Pemilu digelar setelah Presiden Iran Ebrahim Raisi tewas dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.
Sebelum hasil akhir diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri Iran, para pendukung Pezeshkian dilaporkan telah turun ke jalan-jalan di Teheran dan sejumlah kota lain, untuk merayakan kemenangan.
Baca juga : Sun Life Indonesia Tunjuk Teck Seng Ho Jadi Presiden Direktur
Rekaman video di media sosial menunjukkan, sebagian besar anak muda menari dan mengibarkan bendera hijau yang biasa dipakai kampanye. Sementara mobil yang lewat membunyikan klakson.
Melansir BBC, Pezeshkian mengkritik kebijakan moralitas Iran serta menjanjikan persatuan dan kohesi, di samping ingin mengakhiri “isolasi” Iran dari dunia.
Pezeshkian yang pernah menjabat Menteri Kesehatan era Presiden Mohammad Khatami, juga menyerukan negosiasi konstruktif dengan negara-negara Barat mengenai pembaruan perjanjian nuklir tahun 2015. Dalam perjanjian itu, Iran setuju untuk mengekang program nuklirnya, dengan imbalan pelonggaran sanksi Barat.
Dukungan Komunitas Religius
Rival Pezeshkian, Saeed Jalili, lebih menyukai status quo. Mantan perunding nuklir ini mendapat dukungan kuat dari komunitas paling religius di Iran.
Baca juga : Persiapkan Pernikahan
Jalili dikenal karena sikap garis kerasnya yang anti-Barat dan penolakannya terhadap pemulihan perjanjian nuklir, yang menurutnya melanggar “garis merah” Iran.
Tingkat partisipasi pemilih pada putaran kedua Pemilu Iran mencapai 50 persen. Lebih tinggi dibanding putaran pertama minggu lalu, yang hanya 40 persen. Ini merupakan partisipasi pemilih terendah sejak revolusi Islam pada tahun 1979.
Mengutip pemberitaan BBC, rendahnya partisipasi pemilu disebabkan oleh ketidakpuasan yang meluas. Hal ini antara lain disebabkan oleh kurangnya pilihan bagi para kandidat, yang didominasi oleh kelompok garis keras Islam, dan ketidakmungkinan perubahan nyata selama pemimpin tertinggi mengontrol kebijakan secara ketat.
BBC juga menyebut, pemilih Pezeshkian tidak menginginkan Iran melakukan lebih banyak konfrontasi dengan dunia luar.
Baca juga : Airlangga: Deputi Kemenko Perekonomian Jadi Pj Gubernur Harus Majukan Daerah
Jalili diyakini tidak akan memberikan apa-apa kepada Iran, kecuali sanksi dan isolasi yang lebih besar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya