Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Ngeri, Wapres Filipina Sara Duterte Ancam Bunuh Presiden Marcos Jr
Sabtu, 23 November 2024 21:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Filipina Sara Duterte memastikan akan membunuh Presiden Ferdinand Marcos Jr, jika dia terbunuh, Sabtu (23/11/2024).
Hal ini mendorong kantor Marcos untuk mengambil tindakan yang cepat dan tepat.
Dalam konferensi pers yang digelar di tengah perpecahan yang melebar antara dua keluarga politik paling kuat di Filipina, Duterte mengaku telah berbicara dengan seorang pembunuh, dan menginstruksikannya untuk membunuh Marcos, istrinya: Liza Araneta, dan Ketua DPR Filipina Martin Romualdez jika dia mati terbunuh.
“Saya telah berbicara dengan seseorang. Saya berkata, jika saya terbunuh, bunuh BBM (Marcos), (ibu negara) Liza Araneta, dan (Ketua DPR) Martin Romualdez. Ini tidak main-main. Tidak main-main,” kata Duterte dalam pengarahan yang sarat dengan kata-kata kotor, seperti dikutip CNN International, Selasa (23/11/2024).
"Saya bilang, jangan berhenti sampai kamu membunuh mereka," tegasnya.
Pernyataan ini disampaikan Duterte, menanggapi seorang komentator daring yang memintanya untuk berhati-hati. Karena dia dinilai berada di wilayah musuh, saat berada di DPR bersama kepala stafnya.
Baca juga : Kampanyekan Ahmad Ali, Kaesang: Beliau Punya Hubungan Baik Dengan Presiden dan Wapres
Namun, Duterte tidak menyebut adanya ancaman terhadap dirinya.
Kantor Komunikasi Presiden pun merilis pernyataan terkait hal tersebut.
"Bertindak atas pernyataan Wakil Presiden yang jelas dan tegas, bahwa dia telah mengorder seorang pembunuh pembayaran untuk membunuh Presiden, jika dugaan plot terhadapnya berhasil. Sekretaris Eksekutif telah merujuk ancaman aktif ini ke Komando Keamanan Presiden, untuk mengambil tindakan yang cepat dan tepat," demikian bunyi pernyataan tersebut.
"Setiap ancaman terhadap kehidupan Presiden, harus selalu ditanggapi dengan serius. Terlebih, ancaman ini telah diungkapkan secara terbuka dalam istilah yang jelas dan pasti," katanya.
Kantor Duterte tidak segera menanggapi permintaan komentar atas pernyataan Kantor Kepresidenan.
Dalam konferensi pers tersebut, Duterte juga mencacat kepemimpinan Marcos.
Baca juga : Pulang Ke Solo, Wapres Gibran Tinjau Kereta Baterai Di Stasiun Purwosari
"Negara ini akan menjadi neraka, karena kita dipimpin oleh orang yang tidak tahu bagaimana menjadi presiden dan merupakan seorang pembohong," katanya.
Duterte, putri Presiden ke-16 Filipina, mengundurkan diri dari kabinet pada Juni 2024, saat masih menjabat wakil presiden. Ini menandakan runtuhnya aliansi politik tangguh di Filipina, yang membantunya meraih kemenangan telak di Pemilu 2022 bersama Marcos Jr, putra pemimpin otoriter mendiang Ferdinand Marcos.
Ketua DPR Filipina Romualdez, yang notabene adalah sepupu Marcos, disebut telah memangkas hampir dua pertiga anggaran kantor wakil presiden.
Ancaman Duterte ini adalah yang terbaru dalam serangkaian tanda-tanda mengejutkan dari perseteruan di puncak politik Filipina.
Oktober 2024, Duterte menuduh Marcos tidak kompeten dan mengatakan bahwa dia telah membayangkan memotong kepala presiden.
Kedua keluarga politisi berpengaruh itu antara lain berselisih mengenai kebijakan luar negeri dan perang mematikan mantan Presiden Rodrigo Duterte terhadap narkoba.
Baca juga : Menyoal Daulat Pangan Presiden Prabowo Subianto
Di Filipina, wakil presiden tidak dipilih sepaket dengan presiden dan tidak memiliki tugas resmi.
Beberapa wakil presiden sibuk di kegiatan pembangunan sosial, beberapa lainnya ditunjuk untuk jabatan kabinet.
Filipina bersiap untuk pemilihan paruh waktu pada Mei 2024, yang dinilai sebagai ujian lakmus popularitas Marcos. Ini adalah kesempatan baginya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan, sebelum masa jabatan enam tahunnya berakhir pada tahun 2028.
Beberapa kekerasan politik pernah terjadi di Filipina. Sebut saja pembunuhan Benigno Aquino, senator yang gigih menentang pemerintahan Marcos, saat dia keluar dari pesawat begitu tiba dari pengasingan politik pada tahun 1983.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya