Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Para pemimpin Eropa mengungkapkan kekesalan mereka terhadap miliarder teknologi Elon Musk, Senin (6/1), yang ikut campur dalan perpolitikan Eropa.
Sekutu utama Presiden AS terpilih Donald Trump itu telah mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Menteri Perlindungan Anak Jess Phillips soal kegagalan mereka dalam dalam menindak pelaku dalam kasus pelecehan seksual dalam sejarah Inggris Raya.
Musk meramaikannya di postingan akun X nya dalam beberapa hari terakhir. Musk, yang telah beberapa kali memposting tentang politik Inggris sejak Partai Buruh terpilih pada Juli lalu, baru-baru ini menggambarkan menteri perlindungan anak Inggris sebagai “pelindung genosida pemerkosaan” dan “penyihir jahat”.
Baca juga : Hadiri Haul Guru Sekumpul, Habib Aboe Doakan Kepemimpinan Prabowo
Musk juga memposting puluhan kali tentang skandal historis di utara Inggris. Starmer mengecam aksi Musk. Menurutnya Musk menyebarkan kebohongan dan informasi yang salah.
“Kita sudah melihat skenario ini berkali-kali, menghasut intimidasi dan ancaman kekerasan, berharap media akan memperbesarnya," katanya.
Pada awalnya, Senin lalu, Musk, yang telah dipilih oleh Trump untuk memimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan AS, menyarankan bahwa AS harus “membebaskan rakyat Inggris” dengan menggulingkan pemerintah.
Baca juga : Dubes Indonesia Untuk Portugal Rudy Alfonso Bius Porto Dengan Seni & Kuliner Nusantara
Sir Ed Davey, pemimpin Partai Demokrat Liberal, sebuah partai oposisi kecil, mengatakan retorika tersebut adalah bukti bahwa Inggris tidak bisa mengandalkan pemerintahan Trump nanti.
“Orang-orang sudah muak dengan Elon Musk yang ikut campur dalam demokrasi negara kita ketika jelas-jelas dia tidak tahu apa-apa tentang Britania,” tambahnya.
Sementara, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyatakan kekhawatiran atas intervensi Musk tersebut dalam politik Eropa. Apalagi Musk, menyatakan mendukung sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) Jerman. Pengusaha AS kelahiran Afrika Selatan yang kini berusia 53 tahun, dianggap telah melakukan intervensi langsung dalam kampanye politik di Jerman. Menjelang pemilu 23 Februari 2024.
Baca juga : Sherina Munaf Akur Lagi Dengan Suami
Namun Pemerintah Jerman cuek saja dengan campur tangan Musk. “Kita bertindak seolah-olah pernyataan Mr. Musk di Twitter bisa mempengaruhi negara dengan 84 juta orang dengan kebohongan atau separuh kebenaran atau ungkapan pendapat,” tegas Kanselir Jermal Olaf Scholz.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya