Dark/Light Mode

Trump Mau Caplok Gaza, Palestina: Ini Pelanggaran Serius Hukum Internasional

Rabu, 5 Februari 2025 21:54 WIB
Presiden Palestina Mahmoud Abbas (Foto: AFP/Getty Images via CNN Int)
Presiden Palestina Mahmoud Abbas (Foto: AFP/Getty Images via CNN Int)

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Palestina memastikan, pihaknya tidak akan membiarkan terjadinya pelanggaran atas hak-hak warga Gaza, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan niatnya untuk mencaplok wilayah yang selama ini menjadi perselisihan dengan Israel.

"Kami tidak akan membiarkan hak-hak rakyat kami dilanggar. Apalagi, kami telah memperjuangkannya selama beberapa dekade,” demikian pernyataan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, seperti dikutip Kantor Berita Wafa, Rabu (5/2/2025).

Abbas menekankan, setiap pengambilalihan oleh AS akan menjadi pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Dia pun menegaskan kembali dukungannya untuk solusi dua negara.

Dukungan Arab Saudi 

Baca juga : Indonesia Siap Gelar Kejuaraan Berkuda Internasional

Abbas juga menyambut baik sikap Arab Saudi, yang menolak rencana AS mengambil alih Gaza dan menegaskan kembali dukungan tak tergoyahkan untuk negara Palestina.

“Arab Saudi akan melanjutkan upaya tanpa henti untuk mendirikan negara Palestina merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Tanpa itu, Arab Saudi tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi, yang diposting di platform media sosial X, Rabu (5/2/2025).

“Tidak mungkin ada perdamaian yang langgeng dan adil, jika rakyat Palestina tidak mendapatkan hak-hak sah mereka sesuai resolusi internasional. Sebagaimana telah diklarifikasi sebelumnya dengan pemerintah Amerika Serikat,” imbuh pernyataan tersebut.

Bentuk Pembersihan Etnis 

Baca juga : Warga Palestina Sambut Kepulangan 110 Sandera

CEO interim Bantuan Medis untuk Palestina, Steve Cutts menilai, rencana Trump mengambil alih Gaza dan mengusir warga Palestina dari tempat itu sebagai bentuk pembersihan etnis.

"Gaza adalah milik rakyat Palestina. Bukan Amerika Serikat atau Israel. Langkah ini akan sama saja dengan pembersihan etnis dan kejahatan perang," kata Cutts dalam pernyataannya, seperti dilansir CNN International, Rabu (5/2/2025).

"Takdir dua juta orang Palestina dan fondasi hukum internasional tergantung pada keseimbangan," ujar Cutts.

Baca juga : Gelar Warna Indonesia, Sashabeebag & Alleira Incar Pasar Internasional

Dia pun menyerukan para pemimpin dunia untuk menantang dehumanisasi rasis rakyat Palestina.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.