Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Minta Palestina Didirikan di Saudi, Netanyahu-Trump Sama-sama Norak
Senin, 10 Februari 2025 08:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mewacanakan akan mencaplok Jalur Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan negera Palestina didirikan di Arab Saudi. Omongan norak keduanya rame-rame dikritik pemimpin dunia.
Netanyahu beralasan, Saudi punya daerah yang luas. "Saudi bisa menciptakan negara Palestina di Arab Saudi. Mereka punya banyak lahan di sana," kata Netanyahu, dalam wawancara dengan Channel 14 Israel, Kamis (8/2/2025).
Dia menyatakan, keberadaan Palestina di daerah yang selama ini menjadi ancaman keamanan untuk Israel. Netanyahu menuding, setelah gencatan senjata berujung perdamaian, Palestina bakal dikuasai kelompok pejuang Hamas yang selama ini berperang dengan Israel dan memakan ribuan korban jiwa.
"Setelah 7 Oktober, tahu kan Anda apa itu? Ada negara Palestina. Namanya Jalur Gaza. Gaza yang dipimpin oleh Hamas adalah negara Palestina dan lihat apa yang didapatkan,” ujarnya.
Merasa takut dengan potensi ancaman ini, Netanyahu berencana menghancurkan Hamas dan menggunakan berbagai cara untuk memulangkan sandera yang ditahan. Dia menyebut, hal itu merupakan instruksi Presiden AS Donald Trump.
Baca juga : Survei Kepuasan ke Penegak Hukum: Kejagung Tertinggi, KPK Mulai Naik
"Presiden Trump sepenuhnya setuju dengan saya. Kami akan melakukan segala cara untuk mengembalikan semua sandera, tetapi Hamas tidak akan ada di sana. Kami akan melenyapkan Hamas," tandas Netanyahu.
Trump juga bersikap sama dengan Netanyahu. Dia mengatakan, Washington akan mengambil alih Jalur Gaza dan merelokasi warga Palestina ke tempat lain.
"AS akan mengambil alih Jalur Gaza, dan kami juga akan menanganinya,” ujarnya, saat menggelar konferensi pers bersama Netanyahu, di Gedung Putih, Selasa (4/2/2025).
Trump ingin untuk merelokasi warga Gaza ke negara lain, termasuk Yordania dan Mesir. Setelahnya, Trump menginginkan wilayah Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah.”
Ia berdalih, banyak pihak yang menyetujui rencana tersebut karena bertujuan baik. Trump mengklaim, langkah ini dapat menghilangkan pemandangan mengerikan seperti yang selama ini hadir di Jalur Gaza.
Baca juga : Kantor ATR/BPN Kebakaran, Nusron Tak Mau Suudzon
“Semua orang yang saya ajak bicara menyukai gagasan Amerika Serikat memiliki bidang tanah itu. Mengembangkan dan menciptakan ribuan pekerjaan menjadi sesuatu yang luar biasa, di wilayah yang benar-benar luar biasa yang tidak diketahui sebelumnya oleh siapa pun,” pungkasnya.
Sikap Netanyahu dan Trump ini ditolak mentah-mentah oleh banyak negara. Presiden Palestina Mahmoud Abbas jadi yang paling keras menolak rencana kontroversial tersebut. Abbas menegaskan, hak-hak warga Palestina tidak untuk dinegosiasikan.
Kata dia, seruan Netanyahu dan Trump merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan perdamaian. "Kami tidak akan membiarkan hak-hak rakyat kami, yang telah kami perjuangkan selama beberapa dekade dilanggar," tegas Abbas, seperti dilansir AFP, Kamis (6/2/2025).
Saudi juga menolak keras. Kementerian Luar Negeri Saudi menegaskan, rakyat Palestina memiliki hak atas tanah mereka. Rakyat Palestina bukan penyusup atau imigran yang dapat diusir kapan saja oleh pendudukan brutal Israel.
Saudi juga menyatakan, mentalitas pendudukan yang ekstremis ini tidak memahami arti tanah Palestina bagi penduduknya. "Para pendukung ide-ide ekstremis ini adalah mereka yang mencegah Israel untuk menerima perdamaian," tulis siaran pers Kemenlu Saudi seperti dikutip AFP, Minggu (9/2/2025).
Baca juga : Gibran Ngaku Sering Ditagih Makan Gizi Gratis
Anggota Dewan Syura Arab Saudi, Yousef bin Trad Al-Saadoun, menyampaikan balasan menonok akas pernyataan Netanyahu. Kata dia, yang harus dipindahkan bukan warga Palestina, tapi Israel. Dia pun meminta Trump menyediakan tempat di Alaska untuk ditempati Israel.
Pernyataan itu dia tuliskan adalah surat kabar Saudi Okaz. Dia mengkritik pendekatan Trump pada Timur Tengah. Menurutnya, Trump telah mengambil keputusan gegabah dengan mengabaikan saran ahli dan mengabaikan dialog.
Dia menyebut, kebijakan Trump sama dengan pendekatan Israel, yakni mengupayakan pendudukan ilegal pada tanah yang berdaulat serta pembersihan penduduk Palestina.
"Siapa pun yang mengikuti jejak kemunculan dan kelanjutan Israel menyadari rencana ini dirumuskan dan disetujui entitas Zionis dan diserahkan pada sekutu agar dibaca dalam podium Gedung Putih," ucapnya, seperti dikutip Middle East Eye, Minggu (9/2/2025).
Dia memastikan, langkah apa pun yang dibuat Israel dan AS tidak akan memikat Saudi. "Kaum Zionis dan penduduknya harusnya sadar tidak akan bisa memikat para pemimpin dan pemerintah Saudi pada perangkat manuver media dan tekanan politik palsu," jelas dia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya