Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Hamas Ingin Gencatan Senjata Berlanjut, Pembebasan Sandera Bakal Sesuai Jadwal
Jumat, 14 Februari 2025 10:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Hamas menegaskan tidak ingin kesepakatan gencatan senjata di Gaza gagal. Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel mengatur pembebasan tiga sandera Israel pada Sabtu (15/2/2025).
Namun, pekan ini Hamas mengumumkan bahwa pembebasan sandera tersebut ditunda karena Israel dinilai melanggar persyaratan perjanjian yang telah disepakati.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan delegasinya telah mengadakan pembicaraan di Cairo, Mesir dengan para mediator untuk membahas pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan sandera. Terutama setelah Hamas menilai Israek melakukan pelanggaran berturut-turut terhadap kesepakatan tersebut.
“Kami tidak ingin kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza gagal. Kami bertekad untuk melaksanakannya dan memastikan bahwa Israel sebagai penjajah mematuhinya sepenuhnya,” ujar juru bicara Hamas, Abdel-Latif Al Qanoua.
Baca juga : Jadikan Anggaran Angkutan Umum sebagai Mandatory dalam Revisi UU LLAJ
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa para mediator dari Mesir dan Qatar telah mengonfirmasi komitmen mereka untuk mengatasi hambatan dan menutup celah guna memastikan pelaksanaan pertukaran tahanan dan sandera berjalan sesuai jadwal, Sabtu (15/2/2025).
Pembahasan difokuskan pada perlunya pelaksanaan semua ketentuan perjanjian, terutama yang berkaitan dengan pengamanan perumahan bagi warga Gaza dan masuknya rumah prefabrikasi (rumah yang dibangun dengan cara memproduksi komponen-komponennya di pabrik, kemudian dirakit di lokasi pembangunan), tenda, peralatan berat, pasokan medis, bahan bakar, dan aliran bantuan yang berkelanjutan, serta hal-hal lain sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menekan Hamas agar tetap menjalankan kesepakatan Sabtu siang. Jika tidak, Trump mengancam, kekacauan di Gaza akan terus berlanjut.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga melontarkan ancaman senada. Ia menyatakan bahwa Israel siap melanjutkan pertempuran intensif jika Hamas tidak memenuhi tenggat waktu pembebasan sandera.
Baca juga : Hamas Tunda Bebaskan Sandera, Trump Frustrasi
Menanggapi ancaman tersebut, Hamas menilai bahwa tekanan dari Israel dan AS justru menghambat implementasi kesepakatan.
“Retorika ancaman dan intimidasi yang digunakan Trump dan Netanyahu tidak membantu dalam menjalankan kesepakatan gencatan senjata,” pungkas Qanoua.
Sebagai informasi, gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari 2025 setelah 15 bulan perang dijadwalkan berlangsung dalam tiga fase. Masing-masing berdurasi enam minggu.
Fase pertama mencakup pembebasan 33 sandera Israel dan sekitar 2.000 tahanan Palestina. Hingga saat ini, 21 sandera (16 warga Israel dan lima warga Thailand) telah dibebaskan dengan pertukaran ratusan tahanan Palestina.
Baca juga : Insiden Penembakan Mall Selangor, Satu Keluarga Disandera 45 Menit
Dengan adanya kesepakatan gencatan senjata ini, menghentikan perang Israel yang telah menewaskan lebih dari 48.200 orang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya