Dark/Light Mode

Pemilu Australia 2025, Albanese Vs Dutton Bersaing Ketat

Jumat, 28 Maret 2025 12:26 WIB
Perdana Menteri Anthony Albanese (kanan) dari Partai Buruh hadapi Peter Dutton (kiri) pemimpin koalisi oposisi Liberal-Nasional yang konservatif dalam pemilu Australia 3 Mei 2025. (Foto dokumen RM.id/HO akun X Dutton dan Albanese)
Perdana Menteri Anthony Albanese (kanan) dari Partai Buruh hadapi Peter Dutton (kiri) pemimpin koalisi oposisi Liberal-Nasional yang konservatif dalam pemilu Australia 3 Mei 2025. (Foto dokumen RM.id/HO akun X Dutton dan Albanese)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemilu federal Australia akan berlangsung pada 3 Mei. Perdana Menteri (PM) Anthony Albanese, dari Partai Buruh, mengumumkan tanggal tersebut dan akan berusaha mempertahankan mayoritas tipis yang dimiliki partainya.

Kampanye ini diperkirakan akan didominasi isu-isu biaya hidup. Partai Buruh berjuang untuk menghindari menjadi pemerintahan satu periode pertama yang kalah dalam hampir satu abad.

Dalam konferensi pers Jumat (28/3/2025) pagi, Albanese menegaskan kembali janjinya untuk menangani biaya hidup. Seperti rencana yang telah dia umumkan sebelumnya, seperti menyediakan lebih banyak layanan dokter gratis dan pemotongan pajak.

Pemungutan suara secara tradisional didominasi dua partai besar, Partai Buruh dan koalisi Liberal-Nasional. Salah satu partai harus memenangkan setidaknya 76 dari 150 kursi di DPR untuk membentuk pemerintahan sendiri tanpa koalisi.  Pada pemilu federal Australia terakhir, Sabtu, 21 Mei 2022 Partai Buruh Australia mencapai pemerintahan mayoritas untuk pertama kalinya sejak 2007, memenangkan 77 kursi di DPR. Albanese dilantik sebagai Perdana Menteri pada 23 Mei 2022, menjadi pemimpin Buruh keempat yang memenangkan pemerintahan dari oposisi sejak Perang Dunia II , setelah Gough Whitlam pada tahun 1972 , Bob Hawke pada tahun 1983 , dan Kevin Rudd pada tahun 2007. 

Dia juga mengatakan, jika rakyat mendukung rivalnya, pemimpin koalisi oposisi Liberal-Nasional Peter Dutton, akan menjadi langkah mundur bagi negara.

Baca juga : Kedubes Australia Dan Pemprov DKI Hadirkan Jaring Hantu Di Museum Bahari

“Butuh lebih dari tiga tahun untuk memperbaiki kekacauan selama 10 tahun,” katanya, merujuk pada pemerintahan koalisi sebelumnya yang dikalahkannya pada 2022.

Ia menegaskan dukungan pemilih sangat penting. “Pemilu ini adalah pilihan antara rencana Partai Buruh untuk terus membangun atau janji Peter Dutton untuk melakukan pemotongan.”

Albanese mengatakan kampanyenya akan tentang "harapan dan optimisme," sementara kampanye Dutton akan "hanya tentang ketakutan".

Namun, pemimpin koalisi Liberal-Nasional mengatakan negara itu tidak mampu menanggung tiga tahun lagi pemerintahan Buruh.

"Pertanyaan yang perlu diajukan warga Australia adalah: Apakah negara kita lebih baik hari ini daripada tiga tahun lalu?" kata Dutton dalam konferensi pers setelah pemilu diumumkan, dilansir BBC.

Baca juga : Sobat Aksi Ramadan 2025, BNI Renovasi Masjid Dan Beri Bantuan Pangan

"Karena keputusan Buruh yang buruk, warga Australia mengalami kesulitan dan mereka butuh bantuan," tuturnya.

Ia berpendapat partainya akan mengembalikan Australia ke jalur yang benar dengan memperbaiki ekonomi dengan memangkas birokrasi pemerintah, menurunkan harga bahan bakar, serta meningkatkan keamanan energi Australia.

Jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat antara dua partai utama di negara itu. Dengan kemungkinan salah satu pihak harus bekerja sama dengan anggota parlemen independen atau partai-partai kecil untuk membentuk pemerintahan berikutnya.

Kampanye akan fokus pada isu-isu seperti biaya hidup, yang menjadi perhatian utama banyak pemilih. Partai Buruh juga berusaha menghindari menjadi pemerintahan satu periode pertama yang kalah dalam hampir satu abad.

Ketua Partai Hijau Adam Bandt meminta warga Australia memilih kubunya untuk menjaga pertanggungjawaban Buruh pada isu-isu seperti lingkungan dan perumahan. Partai Hijau dalam pemilu 2022 berhasil mencapai rekor raihan jumlah kursi . 

Baca juga : Sobat Aksi Ramadan 2025, 40 Relawan Pertamina Bersihkan Masjid Di Jakarta Barat

"Pemerintahan minoritas akan segera datang. Dan tawaran partai-partai besar yang sama menariknya dengan ikan mati, anda dapat melihat alasannya," kata Bandt.

Keterjangkauan perumahan dan bahan makanan menjadi perhatian utama para pemilih, begitu pula akses ke layanan kesehatan, meskipun kekhawatiran tentang pengelolaan imigrasi yang tercatat dan pengurangan kejahatan meningkat secara signifikan. Aksi iklim tetap penting bagi banyak warga Australia juga.

Politik di Australia

Pemungutan suara secara tradisional didominasi dua partai besar, Partai Buruh dan koalisi Liberal-Nasional. Salah satu partai harus memenangkan setidaknya 76 dari 150 kursi di DPR untuk membentuk pemerintahan sendiri tanpa koalisi. 

Pada pemilu federal Australia terakhir, Sabtu, 21 Mei 2022, Partai Buruh Australia mencapai pemerintahan mayoritas untuk pertama kalinya sejak 2007, memenangkan 77 kursi di DPR. Perolehan Buruh ini bisa dibilang tipis, namun sebalikknya wujud keberhasilan kandidat independen dan Partai Hijau Australia yang meraup menjadi 16 kursi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.