Dark/Light Mode

Idul Fitri Di Gaza, Ibu-ibu Bikin Kue Lebaran Di Tengah Krisis

Minggu, 30 Maret 2025 15:17 WIB
Perempuan Palestina membuat kue tradisional menjelang Idul Fitri di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 27 Maret 2025. (Foto oleh Mahmoud Zaki/Xinhua)
Perempuan Palestina membuat kue tradisional menjelang Idul Fitri di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, pada 27 Maret 2025. (Foto oleh Mahmoud Zaki/Xinhua)

RM.id  Rakyat Merdeka - Idul Fitri, yang menandai berakhirnya bulan Ramadan, dulunya sangat ditunggu-tunggu di Gaza, dengan persiapan beberapa hari sebelumnya. Tahun ini, Hari Raya itu tetap mereka nantikan meski dijalani di tengah krisis, dampak dari serangan Israel.

Di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, maupun di Khan Younis, Gaza selatan, para ibu Palestina tengah menyiapkan Kaak, kue tradisional Idul Fitri, dengan harapan dapat mengadirkan senyum di wajah anak-anak mereka. Meskipun serangan militer Israel kembali berlanjut sejak 18 Maret 2025.

Anak-anak di kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, membawa kue Lebaran. (Foto TRT World)

Di tengah duka mendalam, kehancuran, serta kehilangan rumah dan orang-orang tercinta, para ibu berusaha menciptakan momen kebahagiaan sekecil apa pun bagi anak-anak mereka. Mereka mencoba melindungi buah hati mereka dari kesulitan yang semakin parah akibat penutupan perbatasan oleh Israel.

Asma, salah satu ibu di kamp Jabalia berkata, “Meskipun kami kehilangan rumah dan tinggal di tenda, dan meskipun situasi kami sangat sulit, kami tetap ingin memberikan kebahagiaan kepada anak-anak.”

Umm Mohammed, di kamp pengungsiang yang sama juga berusaha menghadirkan suasana Idul Fitri bagi anak dan cucunya dengan membuat kue untuk mereka.

Baca juga : Awal Ramadan & Idul Fitri Bareng, Menag: Keberuntungan Bangsa Indonesia

"Kami tidak bisa membelikan baju baru buat mereka, jadi kami membuat sedikit kue agar anak-anak gembira bisa merasakan kembali kegembiraan Idul Fitri," ujarnya, dikutip Middle East Eyes, Jumat (28/3/2025).

Seorang ibu sibuk membuat kue Lebaran di kamp pengungsi Khan Younis, Jalur Gaza selatan. (Foto TRT World)

Di tengah keterbatasan di Khan Younis, Kawthar Hussein duduk di samping tungku tanah di sudut tempat pengungsian, berusaha menyalakan api untuk memanggang kue Idul Fitri, sementara artileri Israel terus membombardir wilayah sekitarnya di Jalur Gaza.

Karena blokade menghambat akses ke gas untuk memasak, para perempuan di sana terpaksa menggunakan kardus dan kayu bakar untuk memasak, sebuah proses yang melelahkan dan memakan waktu.

Meski asap memenuhi udara, Hussein tetap telaten menyusun adonan kue di atas nampan sebelum dipanggang.

"Suasana di sini sangat menyedihkan. Kami kehilangan banyak saudara dan orang-orang yang kami cintai, serta menghadapi krisis kemanusiaan yang sangat berat," ujarnya, dilansir Kantor Berita Turki Anadolu.

Baca juga : Dukung Operasi Migas Pertamina Selama Lebaran, PDC Siagakan 1.165 Tenaga Katering

"Kami adalah bangsa yang mencintai kehidupan. Kami tidak ingin anak-anak kami hidup dalam kekurangan. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka, meskipun hanya sedikit," kata Hussein.

Sebelum perang, ia biasa membuat sekitar 9 kilogram kue untuk Idul Fitri. Namun tahun ini, ia hanya mampu membuat 1 kilogram, sekadar untuk memberikan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak yang terkena dampak perang.

Sejak 2 Maret 2025, Israel telah memberlakukan blokade total di Jalur Gaza dengan menutup seluruh perbatasan dan mencegah masuknya bantuan kemanusiaan, medis, serta logistik darurat.

Pasar-pasar nyaris kosong, sementara harga barang yang tersisa melambung tinggi, membuat warga Palestina --yang semakin terpuruk akibat perang -- kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Pekan lalu, Kantor Media Pemerintah Gaza mengumumkan bahwa wilayah itu telah memasuki fase pertama kelaparan akibat blokade yang berkepanjangan serta terhambatnya akses bantuan penyelamatan jiwa.

Baca juga : Indodana Hadir Di Jakarta Lebaran Fair 2025, Tawarkan Promo Menarik

Pada 18 Maret lalu, tentara Israel melancarkan serangan udara mendadak ke Gaza, menewaskan 896 orang dan melukai hampir 2.000 lainnya, mengakhiri gencatan senjata serta kesepakatan pertukaran tahanan.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah merenggut nyawa lebih dari 50.200 warga Palestina -- sebagian besar perempuan dan anak-anak -- serta melukai lebih dari 114.000 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.

Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant November lalu atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perang yang mereka lancarkan di wilayah tersebut.
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.