Dark/Light Mode

Presiden Xi Ke Malaysia, Vietnam & Kamboja

Perang Tarif Sama Trump, China Pedekate Ke ASEAN

Selasa, 15 April 2025 04:05 WIB
Presiden Xi Ke Malaysia, Vietnam & Kamboja Perang Tarif Sama Trump, 
China Pedekate Ke ASEAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan ke Vietnam, Malaysia dan Kamboja, pada 14-18 April 2025. Upaya pedekate (pendekatan) ini diharapkan dapat memperkuat hubungan dagang Negeri Tirai Bambu dengan ketiga negara ASEAN tersebut.

Dilansir Guardian, Senin (14/4/2025), Xi terakhir kali mengunjungi Vietnam pada bulan Desember lalu. Untuk Kamboja, Xi terakhir kali melakukan kunjungan sembilan tahun lalu dan Malaysia 12 tahun lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengungkapkan, kunjungan Presiden Xi ke Asia Tenggara tersebut merupakan perjalanan luar negeri pertamanya pada 2025. Tujuannya, untuk mempererat hubungan perdagangan saat Amerika Serikat (AS) menangguhkan selama 90 hari penerapan kebijakan tarif untuk produk impor.

“Kunjungan ini punya arti penting bagi hubungan China dengan ketiga negara tersebut dan juga ASEAN secara keseluruhan. Dan akan menyuntikkan dorongan baru bagi perdamaian, pembangunan di kawasan maupun dunia,” terang Lin Jian.

Xi melakukan kunjungan di tengah perang dagang China dengan AS terkait perang tarif. Kebijakan tarif ini sering kali memicu ketegangan ekonomi dan geopolitik. Oleh karena itu, China berusaha menawarkan pendekatan alternatif yang lebih stabil melalui dialog dan kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Negara-negara ASEAN merupakan penerima terbesar ekspor China 2024. China mengekspor barang-barang ke negara-negara ASEAN senilai 586,5 miliar dolar AS. Vietnam adalah pembeli terbesar barang China 161,9 miliar dolar AS. Kemudian Malaysia, mengimpor 101,5 miliar dolar AS barang-barang China pada 2024.

Baca juga : Xi Jinping Tur Ke Asia Tenggara, Di Tengah Tensi Perang Tarif AS-China

Vietnam merupakan negara dengan kekuatan manufaktur. Sedangkan Kamboja memiliki sektor garmen dan alas kaki sangat kuat serta penting bagi perekonomiannya. Vietnam kena tarif AS sebesar 46 persen. Sedangkan Kamboja sebesar 49 persen. Kamboja secara tradisional merupakan tetangga yang ramah dan sahabat sejati China.

Sedangkan dalam kunjungan ke Malaysia, Lin Jian mengatakan hubungan China dan Malaysia dalam beberapa tahun terakhir mencatat perkembangan pesat. Malaysia kena tarif 24 persen.

Trump mengumumkan penangguhan sementara tarif impor untuk beberapa barang elektronik konsumen, seperti ponsel dan komputer, selama 90 hari. Namun, tarif untuk barang-barang dari China justru dinaikkan menjadi 125 persen. Dengan demikian, total tarif AS untuk China mencapai 145 persen. Angka ini termasuk tarif tambahan sebesar 125 persen yang baru-baru ini diberlakukan, ditambah dengan tarif sebelumnya sebesar 20 persen terkait isu rantai pasokan fentanyl.

“Meskipun ada penangguhan sementara, kebijakan Trump menanamkan kecemasan besar di negara-negara berkembang di Asia,” ujar Wakil Direktur International Crisis Group’s Asia Program Huong Le Thu.

Dia mengatakan, jika tarif-tarif tersebut benar-benar diterapkan, China tidak memiliki pilihan selain terus menjauh dari AS.

Cari Simpati ASEAN

Sebelumnya, China unjuk gigi melalui peran mediasi di berbagai konflik. Mulai dari perang di Ukraina, Gaza, hingga konflik sipil di Myanmar. Namun, upaya ini masih dianggap skeptis oleh sebagian orang di negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN). Meskipun pengaruh ekonomi dan strategis China di kawasan tersebut sangat besar.

Baca juga : Antisipasi Perang Tarif Impor Trump, DPR: Perkuat Regulasi Pro Rakyat

“Mediasi China dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pengaruh globalnya untuk menyelesaikan konflik. Efektivitasnya sering dipertanyakan,” kata Professor Jonathan Ping dari Bond University, yang spesialisasi dalam studi China, dilansir Channel News Asia (CNA), Senin (14/4/2025).

Di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Indonesia, orang-orang mulai mengubah persepsi negatif terhadap China. Terutama, karena sikap Beijing yang vokal mendukung Palestina dan menentang aksi militer Israel di Gaza. Hal ini berbeda dengan AS yang sangat pro-Israel.

“Baik Malaysia maupun Indonesia secara terbuka mendukung Palestina. Sikap China, yang bertentangan dengan AS, menyentuh hati mereka,” kata James Dorsey, peneliti senior dari lembaga S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) yang berbasis di Singapura.

China juga berhasil menjadi penengah dalam rekonsiliasi bersejarah antara Arab Saudi dan Iran. Negara yang dipimpin China juga mendorong kesepakatan nasional di antara faksi Palestina.

Peneliti senior Azmi Hassan dari lembaga riset Nusantara Academy for Strategic Research yang berbasis di Malaysia menilai, sejak saat itu, Beijing semakin dianggap oleh banyak Muslim sebagai pembawa perdamaian. Sementara AS, dilihat sebagai penghasut konflik.

“China adalah negara adikuasa yang lebih netral dan membuka diri tidak hanya dalam hal ekonomi, tetapi juga geopolitik. Hubungan bilateral antara Tiongkok dan Malaysia juga lebih hangat dari sebelumnya,” imbuhnya.

Baca juga : Nego Dengan Trump, Vietnam Siap Nihilkan Tarif Impor Untuk Semua Produk AS

Dalam konteks Myanmar, China menjadi mediator utama antara junta militer dan kelompok etnis bersenjata. Peneliti senior di Stimson Center yang berpusat di Washington DC Yun Sun mengatakan, tujuan langsung Beijing sebagai mediator di Myanmar adalah untuk gencatan senjata dan bukan perdamaian.

Ia menjelaskan, perdamaian akan membutuhkan kesepakatan tentang pembagian kekuasaan dan struktur politik masa depan. Ini akan lebih rumit untuk dicapai dibandingkan dengan gencatan senjata. Yun juga mengakui bahwa keterlibatan China sebagai mediator, berdampak pada kedaulatan Myanmar.

Namun, imbuhnya, langkah China bukan tanpa alasan. Pasalnya, dampak konflik telah terasa di daerahdaerah dekat perbatasan darat mereka. Sebagai informasi, China berbatasan dengan beberapa negara Asia. Seperti Rusia, Mongolia, Korea Utara, Vietnam, Laos, Myanmar, India, Bhutan, dan Nepal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.