Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Trump Mau Pangkas Harga Obat, Industri Farmasi Ditunggu Jalani Negosiasi 30 Hari
Senin, 12 Mei 2025 20:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menandatangani Executive Order atau Perintah Eksekutif, Senin (12/5/2025) yang bertujuan menurunkan harga obat resep bagi rakyat Negeri Paman Sam itu.
Kebijakan ini menetapkan batas waktu 30 hari bagi Departemen Kesehatan AS untuk menegosiasikan harga baru dengan perusahaan farmasi. Jika kesepakatan tidak tercapai, aturan baru akan diberlakukan.
“Mulai hari ini, Amerika Serikat tidak lagi mensubsidi layanan kesehatan negara lain. Kita akan membayar harga yang sama seperti negara dengan harga terendah di dunia. Kita akan membayar seperti yang dibayar Eropa!” ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih usai penandatangan yang didampingi Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr.
Trump mengklaim bahwa kebijakan ini akan memangkas harga obat antara 30 persen hingga 80 persen.
Kemenangan Industri Farmasi
Menariknya, kebijakan ini dianggap sebagai kemenangan bagi industri farmasi, yang sebelumnya mengantisipasi langkah yang jauh lebih agresif dari Trump.
Sebelumnya, ada spekulasi bahwa pebisnis real estate itu akan langsung menerapkan kebijakan MFN yang akan mengikat harga obat di AS dengan harga terendah yang dibayar oleh negara lain. Namun, perusahaan farmasi ternyata masih memiliki ruang untuk bernegosiasi sebelum aturan yang lebih ketat diberlakukan.
Kritikan dari industri Formasi
Baca juga : PT IIM Paparkan Strategi Investasi di Tengah Gejolak Trade War 2.0
Namun, kebijakan ini mendapat kritik dari industri farmasi, yang memperingatkan bahwa pemangkasan harga secara agresif bisa menghambat inovasi dan mengurangi investasi dalam penelitian obat baru.
Presiden dan CEO PhRMA Stephen J. Ubl menyebut, kebijakan ini sebagai “kesepakatan buruk bagi pasien Amerika” dan memperingatkan bahwa langkah ini bisa mengurangi investasi dalam penelitian obat baru.
Selain itu, kebijakan ini berpotensi menaikkan harga obat di negara lain, karena perusahaan farmasi mungkin akan menyesuaikan harga global untuk mengimbangi penurunan harga di AS.
Trump tidak menampik kemungkinan ini. “Harga obat akan naik di seluruh dunia untuk menyesuaikan, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Amerika akan mendapatkan keadilan!” tulisnya dalam unggahan media sosial.
Asuransi Medicare dan Medicaid
Pengeluaran Pemerintah federal Amerika Serikat untuk obat resep, suntikan, transfusi, dan berbagai jenis obat lainnya mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun. Dua program utama yang mendanai pengeluaran ini adalah Medicare dan Medicaid.
Baca juga : Terima Federasi Industri Korea, Prabowo Ditemani Gibran
-Medicare menyediakan layanan kesehatan bagi hampir 70 juta warga lanjut usia (65 tahun ke atas) dan beberapa individu dengan disabilitas tertentu. Program ini memiliki kekuatan besar dalam menentukan harga obat yang ditanggung pemerintah.
-Medicaid, menjangkau hampir 80 juta orang berpenghasilan rendah serta individu dengan disabilitas yang membutuhkan bantuan medis.
Kebijakan Most Favored Nation (MFN) yang ditandatangani Trump berpotensi memangkas harga obat bagi kelompok ini, tetapi masih belum jelas bagaimana dampaknya terhadap jutaan warga AS yang memiliki asuransi kesehatan swasta.
Jika aturan baru benar-benar diberlakukan, harga obat di AS bisa turun secara signifikan. Namun, industri farmasi mungkin akan menyesuaikan harga di negara lain sebagai konsekuensinya.
Harga Obat Turun, Industri Farmasi Berang
Sebelumnya, Perusahaan obat memperingatkan bahwa pemangkasan harga secara agresif bisa menghambat inovasi dan mengurangi investasi dalam penelitian obat baru. Namun, Trump tetap optimis.
“Biaya kesehatan rakyat Amerika akan turun dengan angka yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Kita akan menghemat triliunan dolar!” tegasnya.
Kebijakan Lama yang Kembali Dihidupkan
Baca juga : Ormas Yang Ganggu Pariwisata Dan Industri Harus Ditertibkan
Ini bukan pertama kalinya Trump mencoba menerapkan kebijakan serupa. Pada masa kepresidenannya sebelumnya, dia pernah mengusulkan aturan yang menghubungkan pembayaran Medicare dengan harga obat internasional.
Tetapi kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan pemerintahan Presiden Joe Biden. Kini, dengan perintah eksekutif yang baru, Trump berusaha memastikan bahwa harga obat di AS tidak lagi lebih mahal dibandingkan negara lain.
“Ini adalah salah satu perintah eksekutif paling bersejarah dalam sejarah negara kita!” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya