Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Dari sejumlah paparan mencemaskan itu, penjelasan Komandan Garda Revolusi Ismail Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen cukup meredakan kekhawatiran. Menurut Kowsari, meski Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir ada di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Sebagai informasi, Iran di masa lalu pernah mengancam akan menutup selat ini. Tetapi tidak pernah menindaklanjuti ancaman tersebut.
AS Ketar-ketir
Menanggapi keputusan Parlemen Iran, AS ternyata cemas juga. Padahal wacana penutupan Selat Hormuz terpantik setelah AS melancarkan serangan ke tiga fasilitas nuklir Iran: Fordo, Isfahan dan Naatanz.
Hal itu ditunjukkan dengan respons Menteri Luar Negeri (Menlu) AS yang berusaha mencegah Iran menerapkan keputusan parlemen tersebut. Usaha Rubio antara lain mengingatkan bahaya kebijakan penutupan Selat Hormuz kepada China dan negara lain.
“Saya mendorong pemerintah China untuk menelepon mereka soal itu karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan minyak mereka,” kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional seperti dilansir Channel News Asia, Senin (23/6/2025).
Baca juga : Perang Iran Vs Israel Dan Subsidi BBM
“Langkah penutupan itu akan merugikan ekonomi negara lain jauh lebih buruk daripada ekonomi kami,” imbuhnya, seperti peduli kepada negara lain.
Trump yang dengan bangga mengumumkan telah melancarkan serangan ke Iran, tanpa restu Kongres, kini justru mengajak Iran untuk berdamai. Meski caranya juga mengancam.
“Sekarang saatnya berdamai. Jika mereka tidak melakukannya, serangan di masa depan akan jauh lebih besar dan jauh lebih mudah,” ancam Trump dikutip Washington Post, Senin (23/6/2025).
Kedutaan Besar China di Washington DC, AS, tidak menanggapi langsung permintaan Rubio. Duta Besar (Dubes) China untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Fu Cong dalam rapat Dewan Keamanan (DK) PBB, Minggu (22/6/2025), hanya membahas soal serangan AS ke Iran yang sudah merusak kredibilitas dan citra Negeri Paman Sam.
Baca juga : Inter Milan Vs Urawa Reds, Poin Dan Gengsi
“Serangan AS ke Iran bisa membuat kacau situasi. Semua pihak harusnya menahan diri,” ujar Dubes Fu Cong dalam rapat Dewan Keamanan (DK) PBB, Minggu (22/6/2025).
Fu menegaskan, tindakan impulsif Presiden Trump sudah seperti menyiram bensin ke dalam kobaran api.
“Jika ingin berdamai, Israel harus mau melakukan gencatan senjata,” tegas Fu.
AS melancarkan serangan ke Iran, menyusul ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv yang dimulai 13 Juni 2025. Ketika itu, Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menargetkan fasilitas militer dan nuklir. Iran merespons dengan serangan balasan.
Baca juga : Perang Iran- Israel, Kemenko Polkam Koordinasikan Pemulangan WNI Dari Iran
Menurut pihak berwenang Israel, 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan rudal Iran. Sementara itu, Minggu (22/6/2025), Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan, 430 orang meninggal dunia dan lebih dari 3.500 orang terluka akibat serangan Israel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya