Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kirim Senjata Ke Ukraina & Naikkan Tarif Ke Rusia
Trump Tekan Putin Dari Segala Penjuru
Kamis, 17 Juli 2025 04:05 WIB
Sebelumnya
Untuk mendorong perdamaian, Trump mengancam akan mengenakan tarif 100 persen terhadap Rusia jika dalam 50 hari ke depan tak ada gencatan senjata. Ancaman itu juga menyasar China dan India sebagai pembeli ekspor minyak Rusia.
Selain tekanan ekonomi, Trump juga mengirim tambahan 17 sistem pertahanan udara Patriot untuk Ukraina. Biayanya akan ditanggung oleh negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Kanada. Langkah ini sebagai sinyal tegas ke Moskow.
“Kami sudah beri kesempatan untuk damai. Presiden Trump itu pendamai. Tapi kalau Rusia mau perang, kami akan persenjatai Ukraina,” terang Duta Besar (Dubes) AS untuk NATO Matthew Whitaker.
Baca juga : Kremlin: Pernyataan Trump Serius, Menyangkut Putin Secara Pribadi
Di tengah hubungan yang naik turun dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump dikabarkan sempat frustrasi. Namun, dia belum sepenuhnya menyerah terhadap kemungkinan dialog.
Meski ada komunikasi antara keduanya dan kunjungan utusan khusus AS Steve Witkoff ke Moskow, belum ada pembicaraanrinci soal rencana damai yang diinginkan Rusia.
Saat Rusia tetap bergeming dan Barat menekan dari segala arah, hal yang pasti: arena perang dan meja diplomasi kini memanas.
Baca juga : Trump Pastikan Senjata Untuk Ukraina, Pembeli Minyak Rusia Terancam Sanksi
Menurut media Rusia, Tass (16/7/2025), Putin tidak merespons langsung ancaman Trump. Kremlin menegaskan, Rusia akan melanjutkan operasi militer hingga tuntutan Moskow dipenuhi.
Tiga pejabat senior Rusia menyatakan bahwa Putin semakin yakin pada daya tahan ekonomi dan militernya, meski mendapat tekanan tambahan dari Barat.
“Putin menghargai hubungan dengan Trump dan berdiskusi baik dengan Witkoff, tapi kepentingan Rusia di atas segalanya,” pungkas sumber.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya