Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Trump Pastikan Senjata Untuk Ukraina, Pembeli Minyak Rusia Terancam Sanksi
Selasa, 15 Juli 2025 12:48 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memastikan pengiriman senjata baru untuk Ukraina, Senin (14/7/2025). Trump bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada pembeli ekspor Rusia, jika Presiden Vladimir Putin tidak menyetujui kesepakatan damai.
"Perlengkapan perang akan kami kirim lengkap dengan baterainya. Sebagian akan datang dalam beberapa hari. Negara-negara yang memiliki rudal Patriot akan bertukar, dan mengganti Patriot dengan yang mereka miliki," papar Trump seperti dikutip Reuters, Selasa (15/7/2025).
"Sebagian atau seluruh dari 17 baterai Patriot yang dipesan negara lain dapat dikirim ke Ukraina dengan sangat cepat," sambungnya.
Baca juga : Rusia-China Makin Rapatkan Barisan
Terkait hal ini, Sekjen Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte mengungkap, negara-negara seperti Jerman, Finlandia, Denmark, Swedia, Norwegia, Inggris, Belanda, dan Kanada ingin menjadi bagian dari persenjataan kembali Ukraina.
Langkah ini merupakan perubahan kebijakan besar AS yang dipicu oleh rasa frustrasi atas serangan Moskow yang terus berlanjut terhadap Ukraina.
Ancaman sanksi Trump yang disertai dengan masa tenggang 50 hari, disambut baik oleh para investor di Rusia. Mengingat nilai tukar rubel dan pasar saham Rusia saat ini menguat.
Baca juga : Trump: AS Akan Kirim Bantuan Senjata Ke Ukraina Lewat NATO, Yang Bayar NATO
Ancaman Trump untuk menjatuhkan apa yang disebut sanksi sekunder terhadap Rusia, jika terlaksana, akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan sanksi Barat.
Anggota parlemen dari kedua partai politik AS kini sedang mendorong RUU yang akan mengesahkan tindakan yang menargetkan negara-negara pembeli minyak Rusia.
Selama perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, negara-negara Barat telah memutuskan sebagian besar hubungan keuangan mereka dengan Moskow. Mereka menahan diri untuk tidak mengambil langkah-langkah yang membatasi Rusia menjual minyaknya ke negara lain. Sehingga, Moskow bisa terus meraup ratusan miliar dolar dari pengiriman minyak ke pembeli seperti China dan India.
"Kita akan menerapkan tarif sekunder," kata Trump.
Baca juga : Trump Frustrasi Sama Putin
"Jika kita tidak mencapai kesepakatan dalam 50 hari, itu sangat mudah. Tarifnya akan mencapai 100 persen," imbuhnya.
Sumber Gedung Putih mengatakan, sanksi yang dimaksud Trump mengacu pada tarif 100 persen untuk barang-barang Rusia. Serta sanksi sekunder terhadap negara-negara lain yang membeli ekspornya.
Sebanyak 85 dari 100 senator AS ikut mensponsori RUU yang akan memberi Trump wewenang untuk mengenakan tarif 500 persen kepada negara mana pun yang membantu Rusia. Namun, para pemimpin Partai Republik di majelis tersebut telah menunggu Trump untuk memberikan lampu hijau pemungutan suara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya