Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
3 Hari Tewaskan 100 Orang
Perang Thailand-Kamboja Lebih Ngeri Dari Iran-Israel
Minggu, 27 Juli 2025 08:25 WIB
Sebelumnya
Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Kamboja Prak Sokhonn, menegaskan, negaranya mendorong penyelesaian damai berdasar hukum internasional. Perdana Menteri Hun Manet juga telah mengirim surat kepada Presiden Dewan Keamanan PBB dan Perdana Menteri Malaysia untuk mendorong pembahasan gencatan senjata.
Sedangkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Thailand Maris Sangiampongsa meminta, Kamboja perlu menunjukkan ketulusan sejati untuk mengakhiri konflik. Agar gencatan senjata dan perundingan dapat dilakukan.
Pihaknya juga mengapresiasi proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Ketua ASEAN, Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. Namun, Kamboja disebut terus melanjutkan serangan di wilayah perbatasannya.
“Saya mendesak Kamboja menghentikan pelanggaran kedaulatan Thailand dan menyelesaikan melalui dialog bilateral,” kata Maris dilansir AFP, Sabtu (26/7/2025)
Baca juga : Divonis 3,5 Tahun, Hasto Masih Sekjen PDIP
Melihat situasi yang makin panas, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara. “Secara pribadi saya sangat bersedih. Ini setback besar bagi ASEAN yang selama 60 tahun dikenal damai dan stabil,” tulis SBY lewat akun X-nya, Sabtu (26/7/2025).
SBY teringat saat dirinya menjadi Ketua ASEAN, konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja sempat terjadi, tepatnya di tahun 2011. SBY bersyukur, konflik saat itu berhasil diredam usai pemimpin kedua negara membuat kesepakatan damai di Jakarta. Perdamaian ini terjaga selama 14 tahun.
“Saya tetap memiliki optimisme, konflik ini Insya Allah bisa segera dicarikan solusinya secara damai, sesuai dengan jiwa dan semangat ASEAN Charter 2007,” tegas SBY.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) Lodewijk Freidrich memastikan, Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Ditegaskan, kedua negara adalah sahabat Indonesia. Indonesia tidak ingin ketegangan ini terus berkembang.
Baca juga : Akhir Tahun, Pemerintah Lanjutkan Stimulus Ekonomi
Indonesia terus berkomunikasi intensif melalui jalur diplomatik dengan kedua negara. “Langkah-langkah diplomatis akan terus kita upayakan agar konflik tida berlanjut,” ujar Lodewijk.
Keberadaan duta besar serta atase pertahanan RI di masing-masing negara, turut memastikan informasi faktual di lapangan. Lodewijk juga membenarkan Indonesia telah memainkan peran sebagai penengah. Ini telah berjalan melalui mekanisme bilateral maupun ASEAN.
Sementara Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan, Pemerintah RI memantau aktif kondisi keamanan, memastikan keselamatan WNI di dua negara yang tengah berperang. “Mitigasi dan jalur komunikasi darurat telah disiapkan untuk menghadapi situasi terburuk,” ujar Prasetyo.
Di Senayan,Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad berharap dan meyakini, Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Luar Negeri akan menjembatani konflik. Apalagi Indonesia punya hubungan yang baik dengan kedua negara.
Baca juga : Gubernur Dipilih Presiden, Usul Imin Ditolak Teman Koalisi
“Mudah-mudahan Kementerian Luar Negeri maupun Presiden menjembatani agar hubungan kedua negara itu akan tetap baik,” ujar Dasco di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, kemarin. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya