Dark/Light Mode

Pasca Demo Berakhir Rusuh Gulingkan PM Sharma Oli

Langit Nepal Hitam Pekat Komplek Pejabat Jadi Abu

Kamis, 11 September 2025 06:27 WIB
Tentara Nepal memeriksa para pengendara, di Kathmandu, Nepal, Rabu (10/9/2025). (Foto Tangkapan Layar CNA/Reuters/Navesh Chitrakar)
Tentara Nepal memeriksa para pengendara, di Kathmandu, Nepal, Rabu (10/9/2025). (Foto Tangkapan Layar CNA/Reuters/Navesh Chitrakar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nepal makin terperosok ke jurang krisis politik. Perdana Menteri (PM) KP Sharma Oli terjungkal, dipaksa mundur di tengah kerusuhan paling brutal dalam dua dekade terakhir.

Tentara Nepal berpatroli di jalan-jalan Kathmandu pada Rabu (10/9/2025), berusaha memulihkan ketertiban setelah para pengunjuk rasa membakar gedung parlemen dan memaksa PM mundur, dalam kerusuhan terburuk yang melanda negara Himalaya itu dalam dua dekade terakhir.

Aksi protes bermula pada Senin (8/9/2025) di Ibu Kota Nepal, Kathmandu. Massa menentang larangan Pemerintah atas media sosial dan praktik korupsi. Namun, unjuk rasa itu dengan cepat berubah menjadi gelombang kemarahan menyusul aparat yang melakukan tindakan keras. 

Sejumlah gedung Pemerintah dibakar massa, rumah-rumah pejabat juga jadi sasaran. Insiden terparah di negara tetangga India itu menewaskan 19 orang dan melukai 300 lainnya.

Militer pada Rabu memperingatkan bahwa tindakan vandalisme, penjarahan, pembakaran, atau serangan terhadap individu maupun properti atas nama protes akan diperlakukan sebagai tindak kejahatan yang bisa dihukum.

Bandara Tribhuvan sempat lumpuh total, tapi dijanjikan buka lagi Rabu sore. Sementara, langit Kathmandu masih diselimuti asap hitam dari gedung-gedung Pemerintah, rumah pejabat, hingga supermarket yang jadi sasaran amukan massa.

Gedung media raksasa Kantipur Group juga ikut disulut. Pemadam kebakaran berjibaku sampai subuh buat jinakkan api.

Baca juga : Rayakan Hari Pelanggan Nasional, BCA Syariah Perkuat Komitmen Pelayanan Prima

“Hari ini agak tenang, tentara ada di mana-mana,” ujar seorang serdadu di pos pemeriksaan darurat, dikutip Channel News Asia.

Puncak drama terjadi ketika rumah pribadi PM Sharma Oli diserbu. Politikus sepuh berusia 73 tahun itu akhirnya menyerah.

“Saya mundur demi solusi politik,” kata Oli, sebelum menghilang entah ke mana.

Bukan cuma Oli. Beberapa rumah politisi lain juga dilahap api. Ada yang berhasil dievakuasi pakai helikopter militer. Singha Durbar-kompleks elite yang menaungi kantor PM, parlemen, dan sejumlah kementerian, juga jadi abu.

Beredar pula video mantan PM Sher Bahadur Deuba, istrinya Arzu Rana, Menlu Arzu Rana dan Menkeu Bishnu Paudel, digebuki massa. Reuters belum bisa memastikan keasliannya, tapi cuplikan itu sudah viral.

Yang menyedihkan, nasib tragis menimpa Rajyalaxmi Chitrakar, istri mantan PM Jhala Nath Khanal. Dia terjebak di rumahnya yang dilalap api. Meski sempat dilarikan ke RS Luka Bakar Kirtipur, nyawanya tak tertolong. Tak jelas di mana Khanal saat itu.

Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel tampil lewat video, meminta semua pihak duduk bareng. “Hentikan protes. Mari cari solusi damai lewat dialog,” ajaknya.

Baca juga : Resmi Dikukuhkan, Menpora Amali IGORNAS Terlibat Dalam Percepatan Implementasi DBON

PBB ikut buka suara. Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak semua pihak ngerem biar kekerasan tak makin meledak.

Dari India, PM Narendra Modi ikut bersuara. “Stabilitas, perdamaian dan kemakmuran Nepal penting buat kami,” katanya.

Bahasanya diplomatis, tapi jelas India juga deg-degan kalau tetangganya ambruk.

Gelombang protes ini memang motor utamanya anak muda. Menurut data Pemerintah, penduduk Nepal berusia 15 hingga 40 tahun mencakup hampir 43 persen dari populasi.

Sementara angka pengangguran sekitar 10 persen, dan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita hanya 1.447 dolar AS, menurut Bank Dunia.

Beberapa platform media sosial—termasuk Facebook, Whatsapp, YouTube dan X—sudah diblokir sejak Jumat lalu, setelah Pemerintah memutus akses ke 26 platform yang tidak terdaftar.

Ketimpangan makin terasa ketika video anak pejabat pamer liburan mewah dan barang branded berseliweran di TikTok. Mereka menyebut anak-anak ini Nepo Kids. Ironisnya, TikTok jadi satu-satunya medsos yang tak diblokir sehingga menjadi bensin bagi kemarahan rakyat.

Baca juga : PM Kanada Serukan Negara Barat Kompak Lawan China

“Larangan medsos cuma pemicu. Yang kami lawan adalah korupsi yang sudah kelewat parah,” kata Yujan Rajbhandari (24), mahasiswa yang ikut aksi.

Hal senada disampaikan Ikshama Tumrok (20). “Kami ingin perubahan. Generasi sebelumnya mungkin bertahan, tapi penderitaan ini harus berhenti di generasi kami,” ujarnya.

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.