Dark/Light Mode

Apa Itu Discord? Media Sosial Yang Dipakai Gen Z Nepal Untuk Pilih PM Baru

Sabtu, 13 September 2025 19:12 WIB
Ilustrasi logo Discord. Foto: Unsplash/Mariia Shalabaieva
Ilustrasi logo Discord. Foto: Unsplash/Mariia Shalabaieva

RM.id  Rakyat Merdeka - Discord jadi buah bibir setelah dipakai generasi muda Nepal untuk menentukan perdana menteri baru. Aplikasi komunikasi daring yang awalnya dikenal sebagai ruang obrolan pemain game itu kini berubah wajah menjadi arena politik digital, yang mengantarkan mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, ke kursi perdana menteri.

Discord lahir pada 2015 di Amerika Serikat sebagai aplikasi komunikasi untuk para pemain game daring. Platform ini menyediakan ruang obrolan berbasis teks, suara, maupun video, lengkap dengan fitur berbagi layar. Gamer bisa berinteraksi sambil bermain, membentuk komunitas kecil, bahkan membangun server khusus.

Namun, seiring waktu, Discord melampaui dunia game. Musik, film, seni, bahkan ruang diskusi akademis menemukan tempat di platform ini. 

Dengan sistem server yang fleksibel, pengguna bisa membangun komunitas sesuai kebutuhan. Kini, Discord memiliki lebih dari 200 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia.

Di Nepal, Discord menjadi ruang alternatif setelah pemerintah memblokir 26 platform media sosial populer, termasuk Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, dan X. Kebijakan itu diambil karena perusahaan teknologi asing dianggap tidak mematuhi regulasi baru. Pemblokiran justru memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyat.

Baca juga : Singapura Ancam Deportasi WNA Pelanggar Vape, Haramkan Untuk Kembali Lagi

Ketika hampir semua jalur komunikasi digital ditutup, Discord tetap lolos dari sensor. Gen Z yang tumbuh bersama teknologi pun mengadopsinya sebagai medium politik. Dari ruang obrolan sederhana, Discord disulap menjadi “parlemen virtual” tempat ribuan orang menyuarakan pilihan politiknya.

Fenomena ini bermula dari krisis politik di Kathmandu. Dua pekan terakhir, jalan-jalan di ibu kota Nepal dipenuhi demonstrasi menuntut mundurnya para pejabat yang dianggap korup dan gagal menjawab persoalan ekonomi. 

Perdana Menteri Sharma Oli akhirnya lengser setelah gelombang protes kian tak terbendung. Ruang kosong kepemimpinan itu segera diisi generasi muda yang selama ini bergerak aktif di ranah digital.

Alih-alih turun ke ruang sidang parlemen, mereka justru memusatkan diskusi di Discord. Ribuan aktivis Gen Z menggelar forum daring, berdebat tentang arah politik, hingga mengusulkan nama Karki. Dua hari perdebatan sengit di ruang virtual itu berujung pada kesepakatan bersama. 

Negosiasi formal di tingkat elite, melibatkan Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel dan Presiden Ram Chandra Paudel, berjalan paralel dengan diskusi di Discord.

Baca juga : Rapimnas III GPK, Kader Diajak Saling Rangkul Untuk Perkuat Partai

Hasilnya, Jumat (12/9), Karki resmi dilantik sebagai perdana menteri. Upacara sederhana berlangsung di istana presiden. Presiden Paudel menyampaikan ucapan selamat di hadapan publik. 

“Selamat! Kami mendoakan kesuksesan Anda, mendoakan kesuksesan negara ini,” ujar Paudel, dikutip AFP.

Karki, mengenakan sari merah, mengambil sumpah tanpa pidato panjang. Ia hanya membungkuk, tersenyum, dan merapatkan kedua tangan dalam salam tradisional.

Pemakaian Discord di Nepal memperlihatkan bagaimana Gen Z menggunakan teknologi untuk melampaui hambatan politik tradisional. Aplikasi yang dirancang untuk hiburan berubah menjadi instrumen demokrasi. Mereka tidak hanya membahas isu di ruang digital, tetapi juga menghasilkan keputusan strategis: penunjukan pemimpin tertinggi pemerintahan.

Bagi generasi yang akrab dengan media sosial, cara ini terasa lebih alami. Diskusi panjang, perdebatan, hingga pengambilan suara berlangsung tanpa harus hadir di ruang fisik. Discord menyediakan semua fasilitas itu.

Baca juga : Hari Media Sosial: Apakah Ini Perayaan atau Pemakaman Kecerdasan Manusia?

Di sisi lain, langkah ini mencerminkan lemahnya institusi formal di Nepal. Parlemen dan mekanisme politik konvensional dinilai gagal menjawab keresahan publik. Ketika saluran tradisional macet, generasi muda membuka jalur baru di dunia digital.

Fenomena Discord tidak bisa dilepaskan dari tekanan jalanan. Demonstrasi besar-besaran yang berlangsung dua pekan terakhir menjadi latar kuat. Massa menuntut mundurnya pejabat tinggi dan reformasi menyeluruh. Polisi merespons dengan gas air mata, peluru karet, bahkan peluru tajam yang seharusnya tidak digunakan untuk membubarkan massa.

Akar persoalan lebih dalam menyangkut ketimpangan ekonomi dan pengangguran yang menghimpit masyarakat. Blokir media sosial hanya menjadi pemicu terakhir yang menyalakan api. Ketika ruang digital resmi ditutup, publik justru menemukan jalannya sendiri di platform yang tidak terduga.

Keputusan memilih perdana menteri lewat Discord mungkin tampak eksperimental. Namun, bagi Nepal, langkah ini menjadi cermin bagaimana generasi muda mengisi kekosongan politik dengan cara yang sesuai zaman mereka.
 
Discord, yang lahir dari dunia game, kini menjelma menjadi ruang demokrasi digital di Nepal. Dari ruang virtual itulah, Sushila Karki lahir sebagai perdana menteri baru, dari ruang obrolan daring yang sederhana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.