Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Bukan main. Di podium paling terhormat di dunia, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia tidak lagi sekadar berkeluh kesah. Tidak lagi hanya menagih janji. Kali ini, Indonesia datang dengan tawaran konkret. Sangat konkret.
"Indonesia siap mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra-putri kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza," tegas Presiden Prabowo Subianto, saat pidato di Sidang Umum PBB itu.
Tawaran itu tidak berhenti di situ. Diikuti dengan "...atau di tempat lain di Ukraina, di Sudan, di Libya".
Ini bukan lagi diplomasi basa-basi. Ini adalah penawaran "boots on the ground". Lengkap dengan komitmen finansial. Sebuah pernyataan yang membuat para delegasi dari negara lain pasti menegakkan punggung kursinya.
Pidato ini seperti disusun dalam tiga babak. Sangat terstruktur.
Baca juga : Indonesia Kembali!
Babak pertama adalah pembukaan yang cerdas: mengingatkan PBB pada "utang budi"-nya. Dengan sangat halus, Presiden Prabowo mengingatkan bagaimana PBB, melalui Security Council, UNICEF, FAO, dan WHO, dulu membantu Indonesia meraih kemerdekaan dan melewati masa-masa sulitnya.
Pesannya jelas: investasi Anda pada kami di masa lalu tidak sia-sia. Lihat kami sekarang. Kami berdiri di sini, di ambang kemakmuran, siap membalas budi kepada dunia. Ini adalah cara elegan untuk membangun kredibilitas sebelum melancarkan kritik.
Masuklah babak kedua: kritik terhadap dunia saat ini. Presiden Prabowo mengutip Thucydides, sejarawan Yunani kuno: "Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, yang lemah menderita apa yang mereka harus."
Doktrin inilah yang ditolak mentah-mentah. PBB, katanya, didirikan justru untuk menolak doktrin rimba seperti itu. Kritik ini tidak mengawang-awang. Ia langsung dibumikan dengan contoh nyata yang dialami Indonesia.
Bukan soal kolonialisme masa lalu. Tapi soal ancaman masa kini. "Permukaan laut di pesisir utara ibu kota kami naik 5 cm setiap tahun," katanya. Angka lagi. Sangat spesifik. Sangat nyata.
Untuk itu, Indonesia terpaksa membangun tembok laut raksasa sepanjang 480 kilometer. Sebuah proyek yang mungkin butuh 20 tahun. Dengan menyebut angka-angka ini, sang orator menunjukkan bahwa bagi Indonesia, perubahan iklim bukanlah slogan, melainkan ancaman eksistensial yang harus dijawab dengan beton dan baja.
Baca juga : Tiga Perusahaan APP Group Tembus Fortune Indonesia 100
Lalu tibalah babak ketiga, klimaksnya: Indonesia sebagai solusi.
Setelah membangun kredibilitas dan melancarkan kritik yang berdasar, Indonesia tidak datang dengan tangan hampa. Inilah portofolio yang ditawarkan:
Solusi Perdamaian: Tawaran 20.000 pasukan penjaga perdamaian tadi.
Solusi Pangan: Indonesia tahun ini mencatat produksi beras tertinggi dalam sejarah. Sudah swasembada. Bahkan mulai ekspor, termasuk ke Palestina. Targetnya tidak main-main: "Dalam beberapa tahun, Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia." Sebuah ambisi yang luar biasa.
Solusi Energi: Komitmen beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Mulai tahun depan, mayoritas kapasitas listrik baru akan berasal dari sumber terbarukan.
Inti dari pidato ini, yang terus diulang, adalah soal Palestina. Namun, caranya menyampaikannya patut dicatat. Tuntutan kemerdekaan Palestina disuarakan dengan sangat lantang. Tapi di kalimat berikutnya, ada sebuah pernyataan yang menunjukkan kenegarawanan:
Baca juga : Hodak Minta Pemain Persib Menangkan Timnas Indonesia
"Kita juga harus mengakui, menghormati, dan menjamin keselamatan dan keamanan Israel."
Ini adalah posisi yang sulit, tetapi adil. Solusi dua negara (two-state solution) yang didengungkan bukan lagi slogan kosong. Ia diisi dengan pengakuan atas hak hidup kedua belah pihak. "Dua keturunan Ibrahim harus hidup dalam rekonsiliasi," katanya.
Pidato ini adalah sebuah deklarasi. Deklarasi bahwa Indonesia tidak lagi mau hanya menjadi penonton atau korban dalam percaturan global. Indonesia sedang bertransformasi menjadi pemain. Pemain yang tidak hanya menuntut, tapi juga memberi. Pemain yang membawa modal: pangan, energi hijau, dan jika perlu, dua puluh ribu serdadu perdamaian.
Ditutup dengan salam "Om Shanti Shanti Om", sebuah sentuhan kultural yang khas, pidato ini seakan memberi pesan penutup: kami datang dengan cara kami, dengan identitas kami, siap untuk mengambil bagian dari beban dunia.
Sebuah mimpi, mungkin? Prabowo sendiri mengakuinya. "Tapi ini adalah mimpi indah yang harus kita wujudkan bersama."
Dunia kini tahu, Indonesia tidak sedang bermimpi kosong. Indonesia sudah menyebut harganya.
Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Dosen Manajemen Resolusi Konflik Universitas Udayana
Dosen Manajemen Resolusi Konflik Universitas Udayana
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya