Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Akan Jadi PM Perempuan Pertama Jepang
Kesaktian Sanae Takaichi Hadapi Trump, Bakal Diuji
Senin, 6 Oktober 2025 04:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Selangkah lagi Sanae Takaichi akan menjadi Perdana Menteri (PM) Jepang. Kehadiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Negeri Sakura, disebut-sebut akan menjadi tantangan pertamanya dalam memajukan ekonomi Jepang.
Takaichi (64) terpilih menjadi pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP). Dia merupakan mantan Menteri Dalam Negeri, pembawa acara televisi, dan dikenal unik karena kegemarannya bermain drum musik heavy metal.
Pemilihannya terjadi di tengah berbagai tantangan besar yang se dang dihadapi Negeri Matahari Terbit itu. Mulai dari ekonomi yang lesu, inflasi yang tak terkendali, populasi menua, masalah imigran, hingga upah pekerja yang stagnan.
Tak hanya itu, Takaichi harus mengelola hubungan Jepang-AS yang sempat memanas, serta melanjutkan kesepakatan tarif dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang diwarisi dari kabinet sebelumnya.
Kunjungan Trump ke Jepang akhir bulan ini, diperkirakan akan menjadi salah satu tugas besar pertamanya. “Bukannya senang, saya merasa kerja keras justru dimulai dari sekarang,” ujarnya dalam pidato kemenangan seperti dikutip Kyodo, Minggu (5/10/2025).
Tantangan Menyatukan Partai
Jika disahkan parlemen, tantangan utama Takaichi sebagai PM adalah menyatukan kembali LDP yang dalam beberapa tahun terakhir dilanda konflik internal dan skandal politik. Meski peluangnya besar untuk dikukuhkan sebagai PM Jepang, posisi Takaichi tidak sekuat pendahulunya. Hal ini terjadi karena melemahnya dominasi LDP di parlemen setelah kekalahan beruntun dalam beberapa pemilu terakhir.
Parlemen dijadwalkan bersidang untuk memilih perdana menteri pada pertengahan Oktober 2025. LDP memerintah Jepang melalui koalisi yang sudah berlangsung lama dengan mitra junior nya, Komeito, sebuah partai sentris yang didukung organi sasi Buddhis Soka Gakkai.
Organisasi itu dikenal karena memprioritaskan kesejahteraan sosial dan prinsip-prinsip cinta damai. Namun, Komeito telah mengindikasikan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk membubarkan aliansi tersebut jika seorang tokoh sayap kanan yang gigih, seperti Takaichi, menjadi pemimpin partai, karena pilihan seperti itu dapat mengasingkan basis pemilih moderatnya.
Baca juga : Bakal Jadi PM Jepang, Sanae Takaichi Ajak Rekannya Bekerja Keras Bagai Kuda
Sebulan lalu, PM Shigeru Ishiba mengundurkan diri setelah hanya menjabat sekitar satu tahun. Keputusan itu diambil usai koalisi LDP kehilangan mayoritas di Majelis Tinggi dan Majelis Rendah.
Menurut Prof. Jeff Kingston, Direktur Studi Asia di Temple University Tokyo, Takaichi bukanlah pemimpin yang bisa menyatukan partai.
“Dia berasal dari faksi garis keras yang percaya dukungan terhadap LDP menurun karena partai telah menjauh dari nilai-nilai konservatifnya,” kata Kingston kepada BBC.
“Dia mungkin bisa menarik kembali pemilih sayap kanan, tapi dengan risiko kehilangan dukungan yang lebih luas dalam pemilu nasional,” imbuh Kingston.
Takaichi sering menyebut diri nya sebagai versi Jepang dari Margaret Thatcher, Perdana Menteri perempuan pertama Inggris yang dijuluki "Iron Lady”. Namun, menurut Kingston, perbandingan tersebut kurang tepat.
“Secara disiplin fiskal, dia justru sangat berbeda dari Thatcher,” ujarnya.
“Dan seperti Thatcher, dia bukan sosok yang menyatukan. Saya rasa dia juga tidak banyak berbuat untuk memberdayakan perempuan,” tambahnya.
Beberapa kebijakan Takaichi menunjukkan sikap konservatif yang kuat. Dia menolak kaisar perempuan, menolak perempuan mempertahankan nama gadis setelah menikah dan menolak legalisasi pernikahan sesama jenis.
Baca juga : Melalui Program Bedelau, Kilang Pertamina Dumai Berdayakan Masyarakat Lokal
Profesor politik ekonomi dari Universitas Tokyo, Sadafumi Kawato, menyebut terpilihnya Takaichi sebagai pemimpin LDP merupakan keberhasilan dalam mendobrak norma patriarki di Jepang.
“Ini menjadi langkah maju dalam partisipasi perempuan di dunia politik Jepang,” ujar Kawato kepada Reuters, Sabtu (4/10/2025).
Selama kampanye, Takaichi bersumpah untuk mencapai keseimbangan gender dalam kabinetnya dengan meniru negaranegara Nordik, yang biasanya mendekati 50 persen.
Namun Mieko Nakabayashi, profesor ilmu politik di Universitas Waseda di Tokyo, mengatakan bahwa Takaichi sering bertindak sebagai “penghalang” bagi perjuangan kaum feminis.
“Dia tampaknya tidak memiliki keyakinan yang mendalam tentang isu-isu perempuan,” kata Nakabayashi.
“Hak-hak perempuan tampaknya tidak menjadi agendanya,” imbuhnya.
Meski demikian, sebagian warga tetap melihat momentum ini sebagai peluang. Yuka, seorang pekerja kantoran di Tokyo berusia 50-an, mengaku bangga atas kemenangan Takaichi.
“Kami akhirnya bisa dengan bangga mengatakan kepada dunia bahwa Jepang mungkin akan punya pemimpin perempuan,” ujarnya kepada AFP.
Baca juga : PM Keir Starmer Umumkan Pengakuan Inggris Terhadap Negara Palestina
Namun, Yuka juga menyatakan skeptis bahwa hal itu akan membawa kemajuan berarti bagi hakhak perempuan.
Hal senada disampaikan Ryuki Tatsumi (23), seorang pekerja sosial. “Saya rasa ini bisa menjadi langkah awal bagi Jepang untuk berkembang,” tandasnya.
Lanjutkan Abenomics
Sebagai penerus politik Shinzo Abe, Takaichi berkomitmen untuk melanjutkan kebijakan Abenomics. Yakni strategi ekonomi yang mengandalkan belanja fiskal besar-besaran dan suku bunga rendah guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Di bidang keamanan, dia dikenal berhaluan keras dan berencana merevisi Konstitusi Jepang yang saat ini berlandaskan prinsip pasifisme, atau anti-perang. Dia juga menjadi sorotan karena sering mengunjungi Kuil Yasukuni, situs kontroversial tempat me ngenang tentara Jepang yang gugur, termasuk di antaranya penjahat perang yang divonis usai Perang Dunia II — simbol militerisme Jepang yang masih memicu ketegangan di Asia Timur.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya