Dark/Light Mode

Dubes Rod Brazier Dukung Kolaborasi Inovasi Tangani Sampah Plastik

Rabu, 29 Oktober 2025 07:19 WIB
Dubes Rod Brazier (tengah) bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono (kedua kanan), Direktur CSIRO Asia Tenggara Amelia Fyfield (kedua kiri), Ketua NPAP Dubes Wahid Supriyadi (paling kiri), dan Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan KLHK Erik Teguh Primiantoro dalam acara Demo Day Indo-Pacific Plastics Innovation Network Chapter Indonesia di  Hotel Westin, Jakarta, Selasa (28/10/2025). (Foto Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)
Dubes Rod Brazier (tengah) bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono (kedua kanan), Direktur CSIRO Asia Tenggara Amelia Fyfield (kedua kiri), Ketua NPAP Dubes Wahid Supriyadi (paling kiri), dan Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan KLHK Erik Teguh Primiantoro dalam acara Demo Day Indo-Pacific Plastics Innovation Network Chapter Indonesia di Hotel Westin, Jakarta, Selasa (28/10/2025). (Foto Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Duta Besar (Besar) Australia untuk Indonesia Rod Brazier menegaskan, penanganan sampah plastik adalah tanggung jawab bersama hingga lintas negara. Hal itu disampaikannya dalam acara Indo-Pacific Plastic Innovation NetworkIndonesia Chapter Demo Day 2025 di Hotel Westin, Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Indo-Pacific Plastics Innovation Network (IPPIN) adalah sebuah inisiatif yang mendukung upaya para wirausahawan melalui kekuatan inovasi, sains dan tek-nologi, yang dapat mengubah permasalahan plastik menjadi solusi dalam mengatasi perubahan iklim dan berbagai dampaknya di kawasan ini.

Program Demo Day ini menjadi kesempatan bagi IPPIN Accelerator+ Teams untuk menunjukkan inovasi mereka di panggung dunia. Akselerator IPPIN adalah program pelatihan intensif untuk mengasah ide-ide dan membangun kesiapan pasar terkait pengelolaan sampah.

Program ini lahir dari Plastics Innovation Hub Indonesia, sebuah kemitraan antara badan sains nasional Australia, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia atau National Plastic Action Partnership/NPAP), serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Menurut Dubes Brazier, Australia dan Indonesia memiliki tanggung jawab yang mendalam terhadap polusi plastik. Pasalnya, lingkungan tersebut berdampak pada ekosistem laut, perikanan, jalur pelayaran, serta keberlanjutan ekonomi maritim.

“Kolaborasi internasional dalam mengatasi polusi plastik bukan hanya penting, melainkan menjadi prioritas bersama,” kata Dubes yang bertugas di Indonesia sejak Desember 2024 itu.

Baca juga : Container Cup 2025 Jadi Ajang Kolaborasi Dan Sportivitas Insan Pelindo Group

Dubes Brazier mencatat, Australia dan Indonesia adalah mitra inovasi. Sejak tahun 2022, IPPIN Indonesia telah mendukung lebih dari 85 tim dalam mengembangkan inovasi mereka. Lembaga regional ini telah mengucurkan bantuan anggaran lebih dari Rp 13 miliar untuk mendukung tim yang dapat memberikan solusi terbaik guna mengurangi sampah plastik.

“Pemerintah Australia bangga bisa bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan Bapak Presiden Prabowo Subianto menangani 100 persen dari sampah di Indonesia tahun 2029,” ujarnya.

Acara ini dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LHK) yang juga Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Diaz Hendropriyono. Dalam pidatonya, Diaz menyoroti soal perubahan iklim dan polusi plastik yang menjadi dua tantangan besar dunia.

Dari target 100 persen yang ingin dicapai Indonesia, Diaz mengatakan, baru 39 persen sampah terkelola. Dia tidak menampik masalah sampah masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah. 

Namun dia memastikan, Pemerintah telah melakukan berbagai langkah konkret untuk menanggulangi. Salah satunya, pembangunan fasilitas Waste to Energy (WTE).

“Fasilitas WTE akan dibangun di daerah yang memiliki kapasitas pengelolaan minimal 1.000 ton sampah per hari. Dengan prioritas awal di tujuh kota besar, dan mungkin bisa bertambah,” jelas Diaz.

Baca juga : BI Dorong Kolaborasi Perkuat Ketahanan Pangan Di Sulampua

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan itu mengapresiasi kerja sama IPPIN antara Australia dan Indonesia. Sebab, Indonesia membutuhkan dana sebesar 4,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 75 triliun) per tahun untuk mengatasi dua permasalahan lingkungan tersebut. Tetapi kemampuan anggaran nasional baru sekitar 76 juta dolar AS (sekitar Rp 1,2 triliun).

Menurutnya, inisiatif nyata seperti kerja sama IPPIN antara Australia dan Indonesia adalah contoh konkret bagaimana kolaborasi internasional dapat membantu menutup kesenjangan pendanaan dan mempercepat transisi menuju ekonomi hijau.

Direktur CSIRO Asia Tenggara Amelia Fyfield mengatakan, Demo Day adalah titik awal dari ide kreatif yang dikembangkan untuk mencari solusi ekonomi berkelanjutan dan sirkuler.

Fyfield yang telah tinggal di Indonesia selama tiga dekade ini menyadari, gotong royong menjadi budaya dan salah satu solusi mengurangi sampah plastik.

Dia mengatakan, ada 11 tim inovator yang mempresentasikan ide-ide untuk mengurangi sampah plastik. Mereka diseleksi NPAP dan BRIN untuk masuk dalam program Accelerator+ IPPIN. Di Demo Day, 11 tim inovator tersebut juga membuka booth yang mempromosikan inovasi yang dibuat dalam mengelola limbah plastik.

“Hari ini akan ada juri dari Pemerintah Indonesia dan sektor swasta yang akan menyeleksi tim yang paling terbaik dari 11 tim tersebut,” pungkasnya.

Baca juga : Mukhtarudin Dorong Kolaborasi Vokasi untuk Kirim Tenaga Kerja Profesional ke LN

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.