Dark/Light Mode

Dubes Daniel Blockert Kenalkan Tradisi Fika, Cara Sederhana Redakan Stres

Rabu, 3 Desember 2025 07:14 WIB
Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert menikmati secangkir kopi. (Instagram Kedubes Swedia)
Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert menikmati secangkir kopi. (Instagram Kedubes Swedia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bebas pekerjaan menumpuk hingga mobilitas tinggi kerap memicu stres bagi para pekerja kantoran. Di Swedia, ada satu kebiasaan yang dipercaya mampu meredakan tekanan tersebut. Tradisi itu disebut fika, yang baru-baru ini diperkenalkan Duta Besar (Dubes) Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert.

Melalui unggahan di akun Instagram resmi Kedutaan Besar Swedia, @swedenjakarta, Senin (1/12/2025), Dubes Blockert mengatakan, fika sebagai kebiasaan sederhana tapi sarat makna.

“Di Swedia, fika berarti coffee break. Tapi maknanya lebih dari sekadar minum kopi,” ujarnya dalam video berdurasi 1 menit 40 detik.

Dubes Blockert yang tampil mengenakan batik bernuansa kecokelatan mengatakan, fika adalah jeda untuk berhenti sejenak, bernapas dan terhubung dengan orang lain.

Menurutnya, memberi ruang untuk berhenti sejenak membantu menjaga kesehatan mental, menurunkan tingkat stres, sekaligus memulihkan fokus sepanjang hari.

“Sehat itu bukan hanya fisik, tetapi juga bagaimana kita merawat pikiran,” tuturnya.

Baca juga : Delta Sukses Teknologi Kenalkan Dua Inovasi Baru, DWAY Ultra Dan DJOY BEAM

Momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61 dimanfaatkannya untuk mengajak para pekerja di Indonesia mencoba menerapkan fika. Dia mendorong agar momen istirahat tidak sekadar diisi dengan pekerjaan, tetapi juga dipakai untuk berbincang santai dengan rekan kerja.

“Kebiasaan sederhana ini bisa mencegah kita dari burnout akibat tekanan pekerjaan,” jelasnya.

Video itu ditutup dengan pesan singkat. “Jika seseorang mengajak Anda fika, kenapa tidak dicoba?” katanya.

Dalam sejarahnya, minum kopi merupakan momen menakutkan di salah satu Negeri Skandinavia itu. Minum kopi harus sembunyi-sembunyi, berbincang tentang kopi pun dianggap tabu dan legalitasnya dicekal.

Sekitar tahun 1685, kopi mulai dikenal di Swedia, untuk medis dan dijual di apotek-apotek. Dikutip dari Scandinavia Standard, berkat King Karl XII, Raja Swedia pada saat itu, kopi semakin populer sebagai minuman.

Sayang, kepopuleran minuman kopi pada saat itu menyisakan isu bahwa kopi tidak baik untuk kesehatan perempuan. Raja Swedia berikutnya Gustav III melarang warga mengkonsumsi kopi.

Baca juga : Dubes Achmad Rizal Purnama Serahkan Primaduta Award Ke Perusahaan Kosmetik Turki

Tidak hanya itu, untuk membuktikan bahwa kopi berbahaya, menurutnya, Raja Gustav III melakukan penelitian pada sukarelawan, dua orang kembar identik narapidana hukuman mati.

Dia menugaskan dokter kerajaan menganalisa mereka berdua, yang satu minum kopi 3 kali sehari dan yang satu lagi minum teh 3 kali sehari, sampai akhir hayat mereka. Faktanya, kedua orang ini hidup hingga di atas 80 tahun. Namun orang yang minum teh lebih dulu meninggal di umur 83 tahun. Tujuan penelitian ini sebenarnya, agar kopi dan teh seutuhnya dicekal.

Namun sebelum menerima laporan hasil penelitian, Raja Gustav III dan para dokter peneliti sudah lebih dulu tutup usia dari pada narapidana objek penelitian mereka. Hal itu disebutkan dalam Encyclopædia Britannica.

Usut punya usut, larangan Raja Gustav III terhadap kopi timbul karena ketakutannya pada masyarakat penikmat kopi. Pasalnya, pergerakan-pergerakan yang mengancam kedaulatan kerajaan bermula dari orang-orang yang berkumpul di kedai kopi, saling bertukar ide dan pikiran.

Walau dilarang, penikmat kopi tetap ngumpul-ngumpul minum secara sembunyi-sembunyi hingga 1800-an. Pada 1820, Pemerintah menyerah. Warga pun bisa bebas menikmati kopi di kedai-kedai.

Perkembangan kopi di Swedia maju pesat di abad ke-20. Yang unik pada perkembangannya adalah menggabungkan kopi dengan kedai pastries dan bakery.

Baca juga : Kobarkan Indonesia Yang Sehat, Bersih Dan Berdaulat

Ska vi fika? ” (Shall we coffee-break?). Begitulah ajakan dari rekan kerja untuk melepaskan kejenuhan. Hampir tiap kantor di Swedia memastikan pekerjanya tidak meninggalkan fika.

Kebiasaan umum mereka minum kopi pada pukul 3-4 petang dan waktu pagi. Semakin ke sini, arti fika tidak sekadar menikmati kopi, tapi fenomena sosial.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.