Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
WNI Diminta Hindari Area Konflik
Militer Thailand & Kamboja Baku Tembak Di Perbatasan
Rabu, 10 Desember 2025 04:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Konflik Thailand dan Kamboja belum menunjukkan mereda. Pasukan militer kedua negara itu baku tembak di wilayah perbatasan sengketa. Warga Negara Indonesia (WNI) diimbau menghindar perjalanan ke area konflik.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, Kamboja, mengeluarkan imbauan dan panduan untuk WNI yang ada di sekitar area konflik. Dalam keterangan tertulis, Selasa (9/12/2025), KBRI Phnom Penh meminta seluruh WNI untuk tetap tenang dan waspada.
“Perhatikan dan selalu taati imbauan dari otoritas setempat ter kait perkembangan situasi ke amanan,” bunyi imbauan tersebut.
KBRI juga mengimbau WNI menghindari atau membatasi perjalanan ke wilayah-wilayah yang terdampak konflik seperti di Provinsi Preah Vihear, Oddar Meanchey, dan Banteay Meanchey. Para WNI diminta terus mengikuti kabar terkini dari sumber dan media resmi Kamboja dan KBRI Phnom Penh.
Bagi WNI yang membutuhkan bantuan dapat menghubungi KBRI Phnom Penh melalui nomor WhatsApp +855 12 813 282 (hotline pelindungan WNI) dan +855 61 844 661 (hotline konsuler).
Baca juga : Akui Beri Uang ke Lisa Mariana dari Kocek Pribadi, Ridwan Kamil: Itu Pemerasan
Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk waspada. “Pada 8 Desember, laporan baku tembak artileri dan senjata ringan di wilayah perbatasan Thailand-Kamboja meningkat. Kedua pihak terus melaporkan adanya tembakan lintas batas, dan kondisi masih belum stabil,” bunyi pernyataan Kedutaan Besar AS di Bangkok via laman web-nya, Selasa (9/12/2025).
Warga AS harus menghindari wilayah konflik tersebut atau tidak berada dalam radius 50 kilometer dari perbatasan. “Permusuhan yang masih aktif dan situasi keamanan yang tidak bisa diprediksi,” bunyi pernyataan Kedubes AS, menjelaskan alasan peringatan tersebut.
Disebutkan pula, otoritas AS tidak memiliki jangkauan luas di provinsi-provinsi terdampak konflik sehingga tidak akan bisa menyediakan layanan darurat yang memadai bagi warga AS jika terjadi sesuatu. Namun bagi warga AS yang sudah berada di dalam zona bahaya atau mereka yang memiliki kepentingan mendesak untuk melakukan perjalanan ke dalam radius bahaya, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Warga AS yang tinggal atau masih memilih untuk bepergian ke wilayah berisiko harus mematuhi instruksi pasukan keamanan Thailand, dan memantau informasi terbaru,” tutup imbauan tersebut.
Saling Lempar Tuduhan
Pasukan militer Thailand, Selasa (9/12/2025), menyebut pihaknya berupaya mengusir pa sukan Kamboja dari wilayah mereka. Kedua belah pihak kembali saling lempar kesalahan yang akhirnya memicu kontak senjata pada Senin (8/12/2025).
Baca juga : Ara Siapkan 20 Ambulans, 10 Ribu Paket Sembako, 1.000 Beasiswa
Kontak senjata ini kemungkinan besar akan menghancurkan upaya perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan disaksikan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perhimpunan Asia Tenggara (ASEAN) Oktober lalu.
Kesepakatan damai ini untuk mengakhiri pertikaian kedua negara selama lima hari yang terjadi Juli lalu. 48 orang tewas dari kedua kubu. Sementara 400 ribu lainnya harus mengungsi.
Kementerian Pertahanan Kamboja mengabarkan, Selasa (9/12/2025), dua warganya dinyatakan tewas pada Senin tengah malam (8/12/2025). Total korban tewas akibat bentrok, enam orang dari Kamboja dan satu orang Thailand.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mendesak pasukan Thailand untuk mundur dan tidak lagi menggunakan peluru dan bom di perbatasan.
"Jangan lagi gunakan artileri berat dan menyerang desa dan warga sipil. Ini bukan cara pertahankan kedaulatan,” tandas Hun Manet.
Baca juga : AC Milan Vs Inter Milan, Adrien Rabiot Kembali Merumput
Warga di kedua sisi perbatasan Thailand dan Kamboja dievakuasi besar-besaran sejak Senin pagi (8/12/2025) ketika bentrokan pecah. Kedua pihak saling menuduh satu sama lain sebagai pihak yang memulai kekerasan tersebut.
Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan, negaranya tidak pernah menginginkan kekerasan tetapi akan menggunakan cara yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan.
Sejak Mei, meningkatnya ketegangan antara kedua negara tetangga itu telah menyebabkan larangan impor dan pembatasan perjalanan.
Pada Senin (8/12/2025), militer Thailand mengatakan, pasukannya membalas tembakan Kamboja di Provinsi Ubon Ratchathani, termasuk dengan melancarkan serangan udara di sepanjang perbatasan yang disengketakan. Sementara Kementerian Per tahanan Phnom Penh mengatakan, pasukan Thailand yang menyerang lebih dulu di Provinsi Preah Vihear, Kamboja.
Thailand dan Kamboja telah terlibat sengketa kedaulatan selama lebih dari satu abad atas beberapa area tertentu di sepanjang perbatasan darat mereka –yang totalnya membentang sekitar 800 kilometer (km). Sejak garis batas kedua negara ditetapkan pada masa pendudukan Prancis di Kamboja.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya