Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dialog Damai Dinodai Saling Serang
Upaya Amerika Damaikan Thailand-Kamboja Buntu
Sabtu, 27 Desember 2025 05:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Upaya Amerika Serikat (AS) mendamaikan Thailand–Kamboja, dengan memfasilitasi dialog damai, belum menunjukkan perkembangan positif. Tentara kedua negara Asia Tenggara itu masih saling gempur di perbatasan, wilayah yang dipersengketakan.
Dialog antara pejabat Kamboja dan Thailand telah memasuki hari ketiga di sebuah pos perbatasan, di Provinsi Chanthaburi, Thailand, Jumat (26/12/2025). Pertemuan lanjutan juga telah dijadwalkan pada Sabtu, dengan agenda pertemuan antara Menteri Pertahanan dari kedua negara.
Namun demikian, Kementerian Pertahanan Kamboja mengungkapkan bahwa militer Thailand justru memborbardir wilayah perbatasan Provinsi Banteay Meanchey, Kamboja, pada Jumat pagi.
Konflik perbatasan yang telah berlangsung lama antara kedua negara kembali memanas sejak awal bulan ini, mematahkan gencatan senjata sebelumnya. “Dari pukul 06.08 hingga 07.15 waktu setempat, militer Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk menjatuhkan hingga 40 bom guna meningkatkan intensitas pengeboman di wilayah Desa Chok Chey,” pernyataan kementerian tersebut.
Baca juga : China Turun Gunung Untuk Damaikan Thailand-Kamboja
Sebelumnya, Thailand mengatakan, pasukan Kamboja melancarkan serangan berat semalam di sepanjang perbatasan Provinsi Sa Kaeo. Serangan tersebut dilaporkan merusak sejumlah rumah akibat tembakan artileri.
Pemerintah AS menyampaikan kekhawatiran mengenai konflik kedua negara aggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) itu. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio pada Kamis (25/12/2025) menegaskan bahwa AS siap memfasilitasi pembicaraan.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, sembari menyampaikan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk perdamaian dan perlunya melaksanakan sepenuhnya Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur.
“Menlu Rubio juga kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memfasilitasi diskusi untuk memastikan perdamaian dan stabilitas antara Kamboja dan Thailand,” kata pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Baca juga : Perang Hebat Di Perbatasan, Thailand Dan Kamboja Abaikan Seruan Trump
Kamboja dan Thailand telah menandatangani perjanjian damai pada 26 Oktober lalu di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, di hadapan Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Perjanjian tersebut dikenal sebagai Kuala Lumpur Peace Accord.
Namun, perjanjian tersebut ditangguhkan setelah sejumlah tentara Thailand mengalami luka serius akibat ledakan ranjau darat di sebuah provinsi perbatasan.
Adapun panggilan telepon antara Rubio dan Hun Manet dilakukan setelah Thailand dan Kamboja menggelar perundingan militer pertama, Rabu (24/12) di Provinsi Chanthaburi, Thailand, di tengah kembali pecahnya pertempuran. Pertemuan ini merupakan langkah paling signifikan sejak pertempuran kembali meletus dan menyusul dorongan damai dari Malaysia, China, dan AS yang telah disampaikan ke dua negara jiran itu.
Perdana Menteri Hun Manet melalui Telegram mengatakan, dia dan Rubio membahas perkembangan terkait gencatan senjata serta pelaksanaan kesepakatan damai dengan Thailand. Hun Manet menekankan komitmen kuat Kamboja terhadap perjanjian Bangkok-Phnom Penh dan menyatakan harapan agar upaya bilateral dapat menyelesaikan sengketa perbatasan serta mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.
Baca juga : China, Prancis & AS Desak Thailand-Kamboja Berdamai
Dilansir Anadolu, korban tewas akibat kembali pecahnya pertempuran di wilayah perbatasan sengketa Thailand–Kamboja meningkat menjadi sedikitnya 96 orang. Bentrokan yang telah memasuki hari ke-18 sejak 8 Desember itu, menjadi salah satu eskalasi konflik paling mematikan antara dua negara Asia Tenggara tersebut dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Otoritas Thailand menyatakan, 23 prajurit dan satu warga sipil tewas. Selain itu, 41 warga sipil lainnya dilaporkan meninggal akibat dampak tidak langsung serangan, termasuk tembakan artileri dan serangan udara di kawasan konflik.
Sementara itu, pejabat Kamboja melaporkan sedikitnya 21 prajurit tewas. Jumlah korban diyakini masih bisa bertambah seiring pertempuran yang terus berlangsung di sejumlah titik rawan. Lembaga kemanusiaan mencatat, hampir satu juta warga sipil terpaksa mengungsi akibat intensitas konflik yang meningkat.
Pertukaran tembakan artileri dan serangan udara terus terjadi di wilayah sengketa, khususnya di sekitar kawasan Candi Preah Vihear, yang selama ini menjadi titik sensitif dalam hubungan kedua negara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya