Dark/Light Mode

Kalau AS Dan Iran Perang, Apa Dampaknya Ke Kita?

Senin, 23 Februari 2026 07:50 WIB
Kapal induk nuklir USS Gerald R. Ford. (Foto: Facebook U.S. Navy)
Kapal induk nuklir USS Gerald R. Ford. (Foto: Facebook U.S. Navy)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bayang-bayang perang antara Amerika Serikat dan Iran kian nyata. Mobilisasi militer besar-besaran Washington di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran konflik terbuka. Jika perang benar-benar pecah, apa dampaknya bagi Indonesia? 

Dalam video yang beredar, kapal induk nuklir USS Gerald R. Ford tampak melintasi Selat Gibraltar pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat. Kapal induk terbesar milik Angkatan Laut AS itu bergerak dari Samudra Atlantik menuju Laut Mediterania— jalur strategis menuju Timur Tengah. 

Data pelacakan menunjukkan kapal tersebut berada sekitar 700 kilometer dari wilayah Iran dan diperkirakan segera memasuki area operasi di sekitar Teluk Oman. Kehadiran Gerald R. Ford memperkuat USS Abraham Lincoln yang lebih dulu berada di perairan Oman. 

Gerald R. Ford membawa sekitar 90 pesawat tempur dan diawaki lebih dari 5.600 personel. Di dalamnya terdapat F/A-18 Super Hornet, F-35C Lightning II, hingga EA-18G Growler. Kapal ini dikawal kapal perusak kelas Arleigh Burke dengan sistem pertahanan rudal Aegis. 

Tak hanya di laut, citra satelit menunjukkan Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania dipenuhi lebih dari 60 pesawat tempur, termasuk F-35. 

Eskalasi terjadi di tengah kebuntuan negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump pada Februari lalu melontarkan peringatan keras agar Iran menyetujui proposal perjanjian nuklir. 

Baca juga : Dibeberkan Bareskrim Polri, Eks Kapolres Bima Diduga Terima 2,8 M Dari Bandar

“Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka,” ujar Trump dari Air Force One, dikutip Reuters, Minggu (22/2/2026). 

Washington mendesak pembatasan program rudal balistik Iran. Sementara Teheran bersikeras hanya akan membatasi program nuklir jika sanksi dicabut total. 

Iran merespons dengan latihan militer gabungan bersama Rusia di Teluk Oman. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menguji sistem pertahanan Sayyad-3 dalam latihan “Smart Control”. 

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei turut mengeluarkan peringatan terbuka. 

“Kapal induk adalah mesin yang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” ujarnya, dikutip Anadolu Agency

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan terus memantau situasi keamanan melalui KBRI Teheran. Plt Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, memastikan kondisi di Teheran dan kota-kota lain masih relatif normal dan kondusif. 

Baca juga : Perluas Kaderisasi, Gerindra Sumut Rekrut Ratusan Pengemudi Ojol

Meski demikian, pemerintah menetapkan status Siaga 1 untuk Iran sejak Juni 2025. Seluruh rencana kontinjensi disiapkan, termasuk opsi jalur evakuasi apabila diperlukan. 

“KBRI Tehran mengimbau seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komunikasi,” ujarnya. 

Dampak Perang Ke Indonesia 

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai eskalasi ini sangat serius. Menurutnya, ruang kompromi antara Washington dan Teheran kian menyempit. 

“Diperkirakan AS akan menjadi penyerangnya. Konflik terbuka dapat terjadi setiap saat,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Minggu (22/2/2026). 

Jika perang pecah, dampaknya bagi Indonesia terutama di sektor ekonomi. Jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz terancam. Gangguan di jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga minyak global. 

Kenaikan harga minyak bisa memicu tekanan pada rupiah, meningkatkan beban subsidi energi, serta mendorong inflasi domestik. Biaya logistik dan harga pangan pun berisiko terdampak. 

Baca juga : PAN Bela Pemerintah, MBG Tak Pakai Duit Pendidikan

Rezasyah menegaskan Indonesia harus bersikap netral dan memperketat pengawasan wilayah nasional. “RI harus menyatakan diri netral dan mengendalikan ruang udara, darat, dan laut agar tidak terseret konflik,” ujarnya. 

Ia juga mengingatkan perlunya pengamanan instalasi strategis, pengetatan lalu lintas manusia, serta kesiapan menghadapi potensi gangguan pasokan energi dan pangan. 

“Indonesia harus siap sebelum dampak global benar-benar terasa,” pungkasnya. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.