Dark/Light Mode

Imbas Perang: 200 Anak di Iran Tewas, 329 WNI Dinyatakan Aman

Senin, 2 Maret 2026 08:31 WIB
Warga Iran mengevakuasi siswa yang tewas akibat serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel di sebuah sekolah dasar perempuan di Minab, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Reuters)
Warga Iran mengevakuasi siswa yang tewas akibat serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel di sebuah sekolah dasar perempuan di Minab, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang Iran vs Israel dan Amerika Sekitar (AS) menelan ratusan jiwa. Banyak infrastruktur dan fasilitas publik juga rusak parah. Korban dan kerusakan itu tidak hanya terjadi di Iran dan Israel, tapi juga di Uni Emirat Arab. Di Indonesia, ratusan jemaah umrah gagal berangkat.

Di Iran, salah satu lokasi serangan Israel menghantam sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab. Berdasarkan laporan CNN, Minggu (1/3/2026), korban meninggal di lokasi sudah mencapai 148 orang.

Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Indonesia menyebut, jumlah korban bahkan bisa mencapai 200 anak. "Dalam serangan brutal tersebut, sebuah sekolah dasar di Kabupaten Minab hancur total dan hampir 200 anak perempuan tak berdosa mencapai kesyahidan," tulis Kedubes Iran, dalam keterangan resmi, Minggu (1/3/2026).

Secara keseluruhan, Juru bicara Bulan Sabit Merah di Iran Mojtaba Khaledi menyampaikan, 24 dari 31 provinsi di Iran telah diserang AS-Israel. Data yang terkumpul sejauh ini, sebanyak 201 orang tewas dan 747 mengalami luka-luka.

Di Israel, juga ada korban, meski tidak sebanyak di Iran, Rudal Iran yang menghantam wilayah Tel Aviv, Sabtu (28/2/2026), menewaskan satu orang dan 20 lainnya terluka. Serangan rudal Iran ke Yerusalem juga menewaskan seorang wanita dan melukai 121 orang.

Serangan balasan Iran juga menargetkan beberapa fasilitas militer AS di Timur Tengah. Seperti pusat dukungan Armada Kelima di Bahrain, pangkalan di Kurdistan Irak, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab, Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti di Yordania, dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi.

Baca juga : Masa Depan Politik Iran Tanpa Khamenei

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim, militer AS menderita dalam serangan balasan Teheran terhadap pangkalan-pangkalan AS itu. "Akibat serangan rudal terhadap pangkalan-pangkalan AS, setidaknya 200 personel militer AS tewas dan terluka," tulis kantor berita Tasnim, mengutip pernyataan IRGC.

Sementara, di Uni Emirat Arab (UEA), salah satu titik yang dihunam rudal Iran adalah Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi. "Akibatnya, satu kematian warga negara Asia dan tujuh luka-luka," kata badan pengelola bandara.

Dilansir Anadolu Agency, Bandara Internasional Dubai juga terkena serangan rudal Iran Minggu pagi. Empat anggota staf bandara dilaporkan terluka.

Mengenai nasib Warga Negara Indonesia (WNI) di Iran, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran memastikan kondisi dalam keadaan aman. Duta Besar RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat menyampaikan, pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan simpul-simpul WNI di berbagai kota.

"Seluruh simpul-simpul WNI yang kami hubungi di berbagai kota di Iran menyampaikan tidak mengalami atau merasakan ancaman langsung," kata Rolliansyah.

Secara resmi, KBRI Teheran mencatat sekitar 329 WNI telah melakukan lapor diri. Data ini menjadi dasar pemantauan dan penilaian situasi keamanan.

Baca juga : Amerika-Israel Serang Iran, Perang Dunia III Di Depan Mata

"Fokus utama perwakilan RI saat ini adalah menjaga komunikasi intensif dengan seluruh WNI di Iran. Agar kami dapat memberikan penilaian paling tepat untuk memberikan bantuan dan perlindungan yang dibutuhkan WNI," ujar Roy.

Ia menambahkan, evaluasi situasi keamanan akan dilakukan KBRI Tehran bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) guna menentukan langkah lanjutan jika diperlukan. KBRI mengimbau, seluruh WNI meningkatkan kewaspadaan serta mengambil langkah pengamanan pribadi dan keluarga.

Selain korban tewas dan luka, konflik di Timur Tengah berdampak pada pelaksanaan ibadah umrah. Sejumlah maskapai terpaksa mengubah rute hingga menunda jadwal penerbangan dari dan menuju Arab Saudi karena penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah.

Banyak jemaah tertahan di bandara transit utama seperti Doha, Dubai, dan Bahrain. Dilansir dari Islamic Information, maskapai Emirates Airlines, Etihad Airways, Flydubai Airlines melaporkan sejumlah penerbangan dibatalkan dan ditunda.

Qatar Airways menangguhkan sementara operasional menyusul penutupan lalu lintas udara di Doha, yang selama ini menjadi pusat transit utama jemaah dari Asia, Eropa, dan Afrika. Saudia Airlines turut mengonfirmasi sejumlah penerbangan dibatalkan, termasuk penerbangan yang membawa jemaah menuju Arab Saudi. Gangguan ini juga merembet ke maskapai global yang memiliki rute melintasi Timur Tengah. 

Ketua DPD Asosiasi Perjalanan Haji dan Umrah Indonesia (Amphuri) Jawa Timur (Jatim) Mohammad Sufyan Arief menyebut, sejumlah rute penerbangan umrah jemaah asal Jatim juga batal berangkat sejak Sabtu. "Yang transit batal," ujar Arief.

Baca juga : Tak Ada Peraih Adipura 2026, Semua Kota Di Indonesia Gelagapan Urus Sampah

Meski demikian, tidak seluruh penerbangan terdampak. Ada sejumlah penerbangan langsung (direct flight) menuju Saudi masih dapat beroperasi. Arief mengaku belum dapat memastikan berapa jumlah jemaah umroh yang batal. 

Dari data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), saat ini tercatat sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Pemerintah memastikan puluhan ribu jemaah tersebut tetap dalam pantauan ketat.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Puji Raharjo mengonfirmasi, Pemerintah terus melakukan monitor secara intensif terkait dinamika situasi regional tersebut. "Kami mengimbau kepada seluruh jemaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi," ujar Puji Raharjo.

Pemerintah, kata dia, tidak akan mengambil risiko terkait keselamatan warga negaranya. Kemenhaj kini terus menjalin komunikasi aktif dengan Kantor Urusan Haji (KUH), KJRI Jeddah, serta KBRI Riyadh. "Kemenhaj terus berkoordinasi memastikan keamanan dan keselamatan jemaah umrah Indonesia tetap menjadi prioritas utama," pungkasnya. FAQ/MEN

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.