Dark/Light Mode

Analisa Pakar Politik Timteng

Masa Depan Politik Iran Tanpa Khamenei

Senin, 2 Maret 2026 08:18 WIB
Penduduk Iran berduka setelah pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel dan AS, di Teheran, Minggu (1/3/2026). (Foto: Reuters)
Penduduk Iran berduka setelah pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan Israel dan AS, di Teheran, Minggu (1/3/2026). (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tewasnya Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tidak akan mengubah prinsip-prinsip Bangsa Arya. Penggunaan sistem Pemerintahan Syiah Velayat e-Faqih (Perwakilan Ahli Fikihatau kekuasaan tertinggi di tangan Mullah, mambuat Iran tidak akan tunduk kepada siapa pun, termasuk Amerika Serikat (AS).

Ahli Kajian Timur Tengah, Tia Mariatul Kibtiah menilai, Presiden AS Donald Trump terlalu percaya diri usai menyebut telah memiliki pemimpin Iran setelah kematian Khamenei. Padahal, Iran tidak seperti negara lain yang pernah ditaklukan AS.

Seperti halnya Venezuela dan Irak. Saat Presiden Venezuela Nicolas Maduro diculik, Trump bisa langsung mengganti pemimpin Venezuela dengan orang kepercayaannya. Begitu juga di Irak, setelah tidak ada Saddam Hussein.

"Karena sistem Velayat e-Faqih di Iran itu susah digantikan. Kekuasaan tertinggi di tangan Mullah," ulas Tia saat dihubungi, Minggu (1/3/2026).

Sekadar informasi, di Iran, ada organisasi Mullah beranggotakan sekitar 88 orang yang salah satu tugasnya menentukan masa depan Iran. Sehingga, sekalipun Khamenei tewas, jabatannya akan cepat tergantikan.

Baca juga : Dave Laksono: Langkah Ini Cermin Politik Bebas Aktif

"Saya melihat ada empat kandidat yang cukup kuat. Salah satunya adalah putra beliau, walaupun tidak memiliki pengalaman di pemerintahan," ungkap Tia, merujuk suksesor Khamenei.

Ia meyakini, sistem Wilayat al-Faqih tetap berlanjut, sehingga AS tidak akan mampu mengintervensi Iran. Terlebih, rakyatnya sangat solid dengan Pemerintah. "Iran tidak akan tunduk terhadap Amerika," katanya.

Dengan kondisi ini, Tia memprediksi perundingan nuklir akan dilanjutkan dengan poin-poin yang tetap menguntungkan Iran. Justru saat ini, sebaiknya AS mulai cooling down jika tidak ingin menerima kerugian lebih banyak akibat terlalu ingin mewujudkan keinginan PM Israel Benjamin Netanyahu.

Tia memandang, setiap negara mempunyai hak untuk menggunakan energi nuklir. Sedangkan saat ini, Iran sudah mampu membuat rudal balistik yang dianggap mengancam kegiatan Israel di Kawasan.

"Termasuk Indonesia kalau mempunyai kemampuan membuat rudal balistik, kenapa nggak. Sayangnya hanya sedikit negara yang memiliki kemampuan itu, dan itu yang membuat Israel ketakutan, karena hanya Iran yang menjadi sandungan Israel," ungkapnya.

Baca juga : TB Hasanuddin: Niat Baik Ini Butuh Kalkulasi Matang

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah mengatakan, Iran merupakan negara dengan peradaban tinggi dan tua. Ia meyakini, Negeri Para Mullah akan melewati transisi ini dengan baik dan benar.

"Masyarakat dan pemerintah sudah terbiasa taat konstitusi, sehingga akan dengan cepatnya memulihkan keadaan," urai Rezasyah kepada Rakyat Merdeka, Minggu (1/3/2026).

Rezasyah meyakini bahwa Iran tidak akan tunduk kepada AS. Terlebih, rakyat Iran juga memegang teguh idealis yang sama dengan para Mullah, sehingga tidak akan ada perbedaan sikap ke depannya.

Rezasyah memproyeksi, siapapun suksesor Khamenei tentu akan meneruskan visi dan misi Ayatollah. "Pemimpin baru akan melanjutkan pencapaian pemimpin sebelumnya, serta menjamin terpenuhinya semua kebutuhan dasar masyarakat," tuturnya.

Sementara, praktisi dan pengajar hubungan internasional Dinna Prapto Raharja memprediksi, ada dua kemungkinan masa depan politik Iran tanpa Khamenei. Pertama, Iran masih akan melawan AS, dengan alasan mempertahankan kedaulatan. 

Baca juga : DPR Janji Perjuangkan Guru Madrasah Swasta Jadi PPPK

Menurut Dinna, opsi ini mungkin terjadi karena posisi penting Iran dalam geopolitik energi juga telah menarik perhatian China dan Rusia. Kedua negara tersebut tidak mau Iran jatuh ke tangan imperialisme AS, sehingga seluruh akses minyak menuju Asia akan bergantung pada AS dan Israel.

Menurut data otoritas energi di AS, 84 persen minyak yang berangkat dari Selat Hormuz menuju Asia: China, India, Jepang, Korea Selatan. "Artinya, jika China dan Rusia tidak membantu Iran, ke depannya harga dan pasokan energi akan bergantung pada permainan AS," ulas Dinna, tadi malam.

Opsi kedua, Iran akan digempur habis-habisan dan menyerah. Dinna menduga, AS dan Israel telah mempersiapkan calon pengganti Khamenei. Jika ini terjadi, situasi di internal Iran tidak akan stabil. Namun, dari sisi pasokan energi untuk AS dan agenda keamanan Israel bisa berjalan.

Ia menyerukan, PBB maupun negara di dunia segera bertindak memprioritaskan kepentingan bersama. "Dalam situasi seperti ini, negara-negara dunia perlu mengantisipasi ketegangan baru akibat penguasaan Selat Hormuz oleh AS dan Israel," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.