Dark/Light Mode

Bang Yos Lega Tiang Monorel Mangkrak Rasuna Said Dibongkar

Rabu, 14 Januari 2026 15:45 WIB
Bang Yos Lega Tiang Monorel Mangkrak Rasuna Said Dibongkar

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai melakukan pemotongan tiang monorel yang telah lama mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026). 

Proses pembongkaran dilakukan di kawasan Halte LRT Setia Budi dan ditinjau langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.

Pantauan RM.id di lokasi menunjukkan Pramono Anung tiba sekitar pukul 08.57 WIB dengan mengenakan pakaian dinas berwarna putih. Ia didampingi Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo, serta sejumlah pejabat terkait lainnya. Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso atau Bang Yos juga turut hadir dalam peninjauan tersebut.

Suasana haru dan lega terlihat dari raut wajah mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso saat menyaksikan pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. 

Setelah hampir 22 tahun terbengkalai, proyek yang pernah ia gagas itu akhirnya dipastikan dibongkar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di era Gubernur Pramono Anung.

“Jujur saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini gitu," kata Sutiyoso saat menghadiri peninjauan pemotongan tiang monorel di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Baca juga : Bongkar Tiang Monorel, Pramono Dikawal Bang Yos, KPK Dan Kejaksaan Tinggi

Sutiyoso mengenang awal mula munculnya ide pembangunan monorel Jakarta yang berangkat dari keprihatinannya terhadap kemacetan Ibu Kota pada awal 2000-an. Ia menyebut gagasan tersebut lahir dari kajian panjang bersama para pakar transportasi. 

“Dan saya kumpulkan semua pakar-pakar transportasi dari beberapa universitas ya, untuk merancang jaringan transportasi makro ibukota," katanya.

Dari hasil kajian tersebut, Sutiyoso memutuskan sistem transportasi makro Jakarta terdiri yang saling terintegrasi, mulai dari MRT, monorel, busway, hingga waterway.

"Jadi akhirnya saya putuskan jaringan transportasi ibukota itu terdiri dari empat moda ya. Moda yang paling besar ada MRT bawah tanah, terus ada monorel di atas, ada busway 15 koridor di bawah, dan ada alternatif namanya waterway," jelasnya. 

Ia menegaskan seluruh moda tersebut dirancang agar saling terhubung sehingga memudahkan mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya.

“Jalurnya ada masing-masing tetapi terintegrasi sehingga rakyat Jakarta dan sekitarnya dari titik mana mau ke mana pasti dapat transportasi makro tadi ya gitu kan," katanya. 

Baca juga : Gubernur Pramono Tebang Tiang Monorel Mangkrak

Namun, Sutiyoso mengakui kondisi sosial ekonomi pasca kerusuhan Mei 1998 membuat kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya. Karena itu, ia memilih memulai pembangunan moda transportasi yang tidak membutuhkan investor besar.

“Jadi saya tanya kepada tim itu, ‘Ini moda apa yang nggak perlu investor?’ Dijawab jelas ‘Busway, Pak’ gitu," tutur Sutiyoso.

Untuk mengejar percepatan penanganan kemacetan, pembangunan monorel tetap dijalankan bersamaan dengan moda lainnya.

Proyek monorel kemudian dicanangkan pada 2004 agar dapat segera direalisasikan, dengan dukungan rencana dan investor yang telah disiapkan. Namun, masa jabatan Sutiyoso berakhir pada 2007 sebelum proyek tersebut selesai.

“Nah terus akibatnya saya tidak tahu terus mangkrak jadi besi tua seperti ini dan tahun 2014 monorel ini diganti dengan LRT yang tidak ada rencana sebelumnya," katanya. 

Kondisi tiang monorel yang mangkrak selama puluhan tahun tersebut dinilai merusak estetika kota dan memerlukan keputusan tegas dari pemerintah. 

Baca juga : Besok Pemprov DKI Bongkar Tiang Monorel Mangkrak di HR Rasuna Said

“Hanya ada dua pilihan, lanjutkan atau bongkar," katanya dengan tegas. 

Ia menilai keputusan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk membongkar monorel mangkrak merupakan langkah paling realistis meski bukan pilihan ideal.

“Itu pilihan yang paling buruk tetapi harus kita lakukan itu ya. Kepastian itulah yang diberikan oleh Gubernur Pramono dan itu adalah keputusan yang paling tepat," tutup Sutiyoso.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.