Dark/Light Mode

Setelah Telepon Trump, Hubungi Presiden Iran

Putin Layak Jadi Juru Damai

Kamis, 12 Maret 2026 08:10 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: IG russian_kremlin)
Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: IG russian_kremlin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah perang Timur Tengah yang kian membara, Presiden Rusia Vladimir Putin bergerak menjadi Juru Damai. Setelah menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Putin juga menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Inti pembicaraanya sama, mendorong kedua negara untuk damai.

Putin melakukan percakapan via telepon dengan Masoud Pezeshkian baru-baru ini. Putin menyerukan agar konflik Iran dan AS-Israel segera mereda. Dia berharap negara yang terlibat memilih jalur perundingan politik untuk menyelesaikan konflik.

"Presiden Rusia menegaskan kembali posisi prinsipnya yang mendukung de-eskalasi konflik yang cepat dan penyelesaiannya melalui cara-cara politik," kata Kremlin dalam pernyataan resminya tentang percakapan telepon Putin-Pezeshkian dilansir AFP, Rabu (11/3/2026).

Kremlin mengklaim, pembicaraan keduanya berlangsung hangat. Rusia juga menyatakan telah mengirimkan bantuan kepada Iran.

"Pezeshkian berterima kasih kepada Rusia atas dukungannya, khususnya atas bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada Iran," sebut Kremlin.

Baca juga : Soal Negosiasi Selat Hormuz, Presiden Prabowo Harus Turun Tangan

Di kesempatan lain, Putin juga merespons terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Dalam pesannya, Putin menegaskan komitmen Moskow untuk terus mendukung Teheran di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.

Ucapan tersebut disampaikan tidak lama setelah Mojtaba Khamenei diumumkan sebagai pengganti ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan militer AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Dalam pesan resminya, Putin menyampaikan solidaritas Rusia kepada Iran dan menegaskan bahwa hubungan kedua negara akan tetap kuat. Menurut Putin, Rusia akan tetap berdiri sebagai mitra strategis bagi Iran di tengah situasi internasional yang penuh tekanan.

“Saya ingin menegaskan kembali dukungan tak tergoyahkan kami untuk Teheran dan solidaritas dengan teman-teman Iran kami,” kata Putin dalam pesan kepada Mojtaba, dikutip AFP, Selasa (10/3/2026).

Putin juga menyinggung kondisi sulit yang kini dihadapi Iran akibat konflik bersenjata yang masih berlangsung. Ia menilai kepemimpinan Mojtaba Khamenei akan menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga stabilitas negara dan menghadapi tekanan eksternal.

Baca juga : Konflik Timur Tengah: Putin dan Presiden Iran Sepakat Jaga Kontak

“Pada saat Iran menghadapi agresi bersenjata, masa jabatan Anda di posisi tinggi ini pasti akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar,” tegasnya.

Sambungan telepon antara Putin dan Pezeshkian itu merupakan yang kedua kalinya sejak perang antara AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari 2026. Dalam percakapan sebelumnya, Putin juga sempat menghubungi Pezeshkian untuk mengedepankan de-eskalasi. Namun, Pezeskhian mengecam keras pembunuhan Ayatollah Khamenei.

Ia menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin memaksakan kehendaknya terhadap bangsa lain.

“Tetapi dukungan besar dan heroik rakyat Iran terhadap sistem dan negara mereka menunjukkan bahwa serangan-serangan ini hanya memperkuat tekad bangsa untuk membela tanah airnya," tegas Presiden Iran itu, dilansir media Iran Press TV, Sabtu (7/3/2026).

Sebelumnya, Putin juga berbicara langsung dengan Trump melalui sambungan telepon selama sekitar satu jam pada Senin (9/3/2026). Dalam percakapan tersebut, Putin mendesak Washington agar segera mengakhiri perang melawan Iran.

Baca juga : Bertemu Hampir 2 Jam, Andi Gani: Presiden Prabowo Akan Hadiri May Day 2026

Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Investasi dan Kerja Sama Ekonomi dengan Negara Asing sekaligus Direktur Jenderal Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), Kirill Dmitriev mengatakan, pembicaraan kedua pemimpin berlangsung konstruktif dan mencakup berbagai isu strategis, termasuk konflik di Ukraina serta perang yang sedang berkecamuk di Timur Tengah.

"Percakapan konstruktif berlangsung selama satu jam. Mereka membahas solusi yang potensial untuk akhiri konflik Ukraina dan Iran," tulis Dmitriev melalui akun X, Selasa (10/3/2026).

Di sisi lain, Trump mengakui usulan Putin yang disampaikan lewat telepon terkait konflik di Timur Tengah belum semuanya disetujui. "Saya katakan kepada Putin, anda akan lebih membantu dengan cara mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Itu akan sangat membantu," aku Trump.

Di sisi lain, Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran, Kamal Kharrazi, menilai saat ini hampir tidak ada ruang bagi diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Ia menyatakan diplomasi dengan Washington sulit dilakukan karena Presiden AS dianggap tidak dapat dipercaya. “Karena Donald Trump menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya,” ujar Kharrazi, dilansir Anadolu, Rabu (11/3/2026).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.