Dark/Light Mode

Pekan Ketiga Serangan Ke Iran Panen Protes

Trump Jadi Bulan-bulanan Media Hingga Influencer

Selasa, 17 Maret 2026 05:36 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (bertopi) bersama Direktur CIA John Ratcliffe (kiri, membelakangi kamera), Menteri Luar Negeri Marco Rubio (kedua kanan) dan Chief of Staff Gedung Putih Susie Wiles (kanan) membahas serangan ke Iran, di Mar-a-Lago, Florida, AS, pada 28 Februari 2026. (Foto White House)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (bertopi) bersama Direktur CIA John Ratcliffe (kiri, membelakangi kamera), Menteri Luar Negeri Marco Rubio (kedua kanan) dan Chief of Staff Gedung Putih Susie Wiles (kanan) membahas serangan ke Iran, di Mar-a-Lago, Florida, AS, pada 28 Februari 2026. (Foto White House)

RM.id  Rakyat Merdeka - Serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sudah memasuki pekan ketiga. Sejumlah media cetak, televisi hingga para influencer Negeri Paman Sam di berbagai platform media sosial, mempertanyakan alasan perang. Trump pun jadi bulan-bulanan media hingga influencer.

Media mainstream terpecah belah. Saluran televisi Fox News yang memiliki audiens televisi kabel terbesar di AS, hanya sebagian mendukung Trump. Begitu pula The Wall Street Journal.

Kelompok influencer online yang membantu Trump semasa berkampaye pada Pemilu 2024, MAGA (Make America Great Again), mulai mengkritik keputusan Trump. Bahkan, tidak sedikit yang terang-terangan menuntut Presiden ke-47 AS itu menghentikan perang ke Iran.

"Kami menyayangkan Trump tidak menganggap perang seserius kami," sindir editorial New York Times pada 28 Februari lalu.

Para influencer pendukung MAGA dulu mengagungkan Trump karena dia menjanjikan tidak ada lagi perang di masa kepemimpinannya. Sayangnya, janji tidak ditepati.

Salah satu influencer terbesar Trump adalah Joe Rogan. Warga Texas berusia 59 tahun ini dikenal dengan podcast-nya yang santai dan apa adanya.

Rogan memiliki lebih dari 20 juta pengikut di YouTube. Dia merupakan salah satu influencer yang banyak membantu Trump meraup dukungan semasa berkampanye.

"Dia (Trump) mencalonkan diri dan berjanji tidak ada lagi perang. Akhiri perang-perang bodoh dan tidak masuk akal ini," desak Rogan dalam sebuah episode podcast-nya pada 10 Maret 2026, dikutip dari Strait Times, Senin (16/3/2026).

Mantan pembawa acara Fox News Tucker Carlson, pendukung Trump garis keras dengan lebih dari 17 juta pengikut di X, juga tidak tinggal diam. Carlson mengatakan, serangan terhadap Iran sebagai hal yang benar-benar menjijikkan dan jahat. Dia mengatakan, perang tersebut akan menghancurkan dukungan MAGA untuk Trump.

Baca juga : Pertamina Berangkatkan Ribuan Peserta Program Mudik Bareng 2026

"Ini akan mengubah keadaan secara mendalam," tandasnya.

Seorang influencer sayap kanan ekstrem Nick Fuentes, dengan 1,3 juta pengikut di X, juga menentang perang Iran.

“Ini perang untuk Israel. Warga AS dikirim ke medan perang agar Israel dapat memperluas kekuasannya," kecam Fuentes dalam postingannya pada 2 Maret lalu.

Dia menyebut Trump, Wakil Presiden AS JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah mengkhianati rakyat AS.

Influencer bernama Hodgetwins juga bersuara. “Kami tidak peduli jika kehilangan semua pengikut kami karena perang ini. Kami tidak akan tinggal diam tentang rakyat AS yang dikirim untuk mati demi Israel,” tulisnya, yang memiliki 3,5 juta pengikut di X.

Seorang peneliti jajak pendapat pro-Trump Rich Baris juga sama pedasnya.

“Maaf, saya tidak berpikir perubahan rezim secara tiba-tiba adalah hal baik hanya karena Trump yang melakukannya," cuit Baris pada 5 Maret 2026.

Profesor Emeritus Michael Traugott dari Universitas Michigan, yang berspesialisasi dalam studi politik, opini publik dan pemilihan umum, mengatakan, semua keluhan dan kecaman media dan para influencer ini bergantung pada berapa lama perang berlangsung.

"Politisi dan pendukung partai Republik akan tetap mendu￾kungnya," sebut Traugott.

Baca juga : Prabowo Kini Lebih Banyak Mendengar

Menurutnya, meski efek inflasi dari perang akan mengurangi dukungan, para influencer tidak akan mengambil alih narasi pemerintahan. Namun, mereka dapat mengurangi tingkat dukungannya di antara basis MAGA dari waktu ke waktu.

Meski punya kebijakan sama dengan para pendahulunya, Trump dinilai gagal mengemas intervensi militer dalam kebijakannya untuk mempertahankan dukungan domestik dan internasional.

Sebelum perang Irak pertama, Presiden George H. W. Bush saat itu menggunakan analogi Perang Dunia II dan menggambarkan Saddam Hussein sebagai agresor seperti Hitler yang menyerang Kuwait, untuk membenarkan tindakan koalisi yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Perang yang dilancarkannya mendapat persetujuan lebih dari 80 persen pada 1991.

Setelah serangan 11 September 2001 di AS, putranya, yang saat itu menjabat sebagai Presiden George W. Bush, menggambarkan invasi Irak 2003 sebagai hal penting dalam perang global melawan teror.

Bush mengaitkan Saddam dengan Al-Qaeda, terorisme dan senjata pemusnah massal meski bukti yang ada sangat minim. Perang tersebut awalnya mendapat dukungan publik lebih dari 75 persen, tetapi dengan cepat runtuh ketika tidak ditemukan senjata pemusnah massal di Irak.

Penerusnya, Barack Obama, membenarkan penambahan pasukan di Afghanistan sebagai pemenuhan janji kampanye melawan terorisme. Dia membingkai serangan terhadap Libya pada 2011 sebagai tindakan AS yang memimpin dari belakang melalui Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Sementara, Trump meluncurkan Operasi Epic Fury tanpa persetujuan siapa pun. Serangan 28 Februari itu – yang menargetkan kepemimpinan, rudal dan angkatan laut Iran – diumumkan dalam unggahan Truth Social tanpa konsultasi dengan Dewan Keamanan PBB.

"Rakyat Amerika tidak bersatu di bawah Trump karena mereka tidak tahu apa-apa. Tidak mendapat penjelasan apa pun," sebut Traugott.

Kurangnya penjelasan dari pihak Pemerintah telah menyebabkan opini publik terbentuk tanpa arahan. Sebuah jajak pendapat Fox News yang dilakukan antara 28 Februari dan 2 Maret 2026, responden terbagi rata (50-50) dalam dukungan atau penentangan mereka terhadap perang.

Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Beri Diskon Iuran 50 Persen Buat Pekerja Informal

Jajak pendapat Ipsos, yang dilakukan pada 6 hingga 9 Maret 2026, mengukur dukungan terhadap perang sebesar 29 persen, dengan 43 persen menentangnya.

Dua jajak pendapat Washington Post yang dilakukan berturut-turut menemukan dukungan untuk aksi mogok semakin meningkat. Hasil survei mereka pada 6-9 Maret lalu, 34 persen mengatakan, rakyat AS harus melanjutkan aksi mogok sebagai bentuk penolakan pada aksi perang ke Iran.

CNN menjadi sasaran kemarahan Trump karena memberitakan Washington tidak punya persiapan atas penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

“CNN berita palsu berulah lagi," cibir Trump dalam akun Truth Social.

"Di saat pasukan AS memukul telak Iran, jurnalis CNN menyebar kebencian dan merusak kesuksesan Operasi Epic Furry," tuding Trump.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mengecam pemberitaan pers karena dianggap kurang positif.

“Semakin cepat David Ellison mengambil alih CNN, semakin baik,” keluh Hegseth, merujuk pada sekutu Trump yang memimpin Paramount Skydance dan akan segera mengakuisisi Warner Bros, yang juga memiliki CNN.

Saking kesalnya dengan jurnalis, para fotografer dilarang menghadiri konferensi pers Pentagon, karena memuat foto-foto Hegseth yang dianggap tidak menarik. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.