Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Terang-terangan Ingin Minyak Iran, Trump Ketahuan Belangnya
Sabtu, 28 Maret 2026 07:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya ketahuan juga belangnya. Ternyata, serangan AS bersama Israel ke Iran bukan semata-mata soal nuklir. Trump terang-terangan ingin kuasai minyak Iran.
Kabar itu diungkap Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Kamis (26/3/2026). Dalam rapat tersebut, Trump tanpa tedeng aling-aling menyebut penguasaan minyak Iran sebagai salah satu opsi di tengah tekanan terhadap Teheran.
“Ini adalah sebuah opsi. Saya tidak akan membicarakannya lebih jauh, tapi ini tetap opsi,” kata Trump.
Baca juga : Pangkas Jatah Bensin Eselon I-III, DPR Mulai Berhemat
Trump bahkan mencontohkan Venezuela. Ia mengklaim keberhasilan AS di negara itu sebagai bukti strategi yang sama bisa diterapkan ke Iran. “Di Venezuela, kami bekerja sangat baik. Kami menghasilkan miliaran dolar. Sekarang Venezuela lebih baik dari sebelumnya, dan AS juga untung besar,” ujarnya bangga.
Pernyataan ini makin menguatkan dugaan, konflik yang melibatkan AS dan Israel dengan Iran tak lepas dari kepentingan energi. Maklum, Iran merupakan salah satu raksasa minyak dunia.
Berdasarkan Statistical Bulletin 2025 dari OPEC, Iran memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, mencapai 208,6 miliar barel. Posisinya hanya kalah dari Venezuela (303,22 miliar barel) dan Arab Saudi (267,2 miliar barel). Di bawah Iran, ada Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Rusia, Libya, AS, dan Nigeria.
Baca juga : Budi Prasetyo: Kami Yakin Dewas Akan Objektif Dan Profesional
Pengakuan Trump ini muncul sehari sebelum tenggat ultimatum yang ia berikan kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump mengancam akan meluluhlantakkan pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran jika selat tersebut tidak dibuka penuh dalam 48 jam.
“Kalau Iran membuat kesepakatan yang tepat, Selat Hormuz akan dibuka. Mereka negosiator hebat. Petarung buruk, tapi jago negosiasi,” sindirnya.
Baca juga : Bonyamin Saiman: Kami Minta Dewas KPK Periksa Pihak Terkait
Namun, ultimatum itu kembali mundur. Melalui Truth Social, Jumat (27/3/2026), Trump mengumumkan penundaan serangan selama 10 hari hingga 6 April 2026. “Sesuai permintaan Pemerintah Iran, saya menunda penghancuran pembangkit energi selama 10 hari,” tulisnya.
Trump juga mengklaim komunikasi dengan Iran masih berlangsung dan berjalan positif.
“Pembicaraan berjalan sangat baik, terlepas dari pemberitaan media palsu,” katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya