Dark/Light Mode

Dijamu Presiden Lee Di Blue House, Prabowo Bahas Ketahanan Energi

Kamis, 2 April 2026 08:12 WIB
Foto: Bakom RI
Foto: Bakom RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Usai dari Jepang, Presiden Prabowo Subianto melanjutkan lawatan ke Korea Selatan (Korsel). Di negeri Ginseng, Prabowo dijamu Presiden Korsel Lee Jae Myung di Blue House, Seoul untuk melakukan pertemuan bilateral. Ada sejumlah topik yang dibahas Prabowo-Lee, salah satunya ketahanan energi.

Prabowo bertolak ke Korea Selatan usai merampungkan agenda kenegaraan selama dua hari di Jepang. Prabowo tiba di Seoul Air Base (Seongnam Airbase), Korsel, pada Selasa (31/3/2026) pukul 19.15 waktu setempat atau 17.15 WIB dan disambut pasukan jajar kehormatan serta sejumlah pejabat tinggi Korsel dan perwakilan Indonesia.

Dari pihak Korsel, Prabowo disambut Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Kim Sung-whan, Duta Besar Designate Korsel untuk Indonesia Yoon Soon-gu, serta pejabat tinggi lainnya. Sementara dari Indonesia, turut menyambut Duta Besar RI untuk Korsel Cecep Herawan dan Atase Pertahanan RI di Seoul Kolonel Penerbang Muhammad Arif.

Setibanya di Seoul, Prabowo juga disambut antusias diaspora Indonesia. Dua anak, Kaindra dan Luthfi, menyerahkan buket bunga dan mengaku bangga meski sempat grogi saat bertemu langsung dengan Presiden.

Keesokan harinya, agenda utama digelar. Prabowo disambut langsung oleh Presiden Lee di Blue House. Keduanya berpelukan hangat sebelum mengikuti upacara kenegaraan yang berlangsung khidmat, ditandai pengumandangan lagu “Indonesia Raya” dan “Aegukga”, serta inspeksi pasukan kehormatan.

Baca juga : Kunjungi Kediaman Jokowi Di Solo, Dubes Iran Dijamu Menu Spesial

Pertemuan bilateral kemudian digelar dengan dihadiri sejumlah menteri dari kedua negara. Dari Indonesia hadir antara lain Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi Rosan Roeslani, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan Indonesia dan Korsel memiliki kepentingan bersama yang kuat, terutama sebagai negara di kawasan Pasifik dengan orientasi ekonomi berbasis perdagangan.

“Kita memiliki potensi besar untuk saling melengkapi demi kesejahteraan bersama,” ujar Prabowo.

Ia menilai, kemajuan teknologi dan industri Korea Selatan dapat bersinergi dengan kekuatan Indonesia yang kaya sumber daya alam dan memiliki pasar domestik besar. Prabowo juga menekankan pentingnya kerja sama kedua negara dalam menjaga stabilitas kawasan di tengah ketidakpastian global.

“Kunjungan ini berlangsung di tengah situasi dunia yang penuh tantangan. Hubungan Indonesia dan Korea menjadi semakin penting,” tambahnya.

Baca juga : Indonesia Tetap Seksi di Tengah Gejolak Global

Sementara itu, Presiden Lee menegaskan Indonesia merupakan mitra strategis utama bagi Korsel, termasuk dalam investasi dan pengembangan industri. “Indonesia adalah mitra berharga yang telah membantu perkembangan industri Korea,” ujar Lee.

Perkuat Energi Bersih

Dalam kunjungan ini, kedua negara menandatangani sejumlah kerja sama strategis, terutama di sektor energi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korsel Kim Sung-whan meneken MoU kerja sama energi bersih.

“Ini fondasi penting untuk mendorong transisi energi. Jangan sampai ditunda lagi,” tegas Bahlil.

Kerja sama mencakup pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, dan panas bumi, serta energi masa depan seperti hidrogen dan nuklir. Selain itu, penguatan sistem penyimpanan energi (ESS), efisiensi energi, bioenergi, hingga pengolahan limbah menjadi energi juga menjadi fokus.

Pembangunan infrastruktur pendukung turut didorong, termasuk jaringan listrik pintar, stasiun pengisian kendaraan listrik, dan industri baterai dari hulu hingga daur ulang.

Baca juga : Dua Prajurit Gugur Lagi, DPR Usul Tarik TNI dari Lebanon

Tak hanya energi, kerja sama juga diperluas ke sektor kehutanan. Indonesia dan Korsel sepakat memperkuat pengelolaan hutan berkelanjutan serta penanganan kebakaran hutan dan lahan. Kesepakatan ini mencakup pemanfaatan teknologi, termasuk pemantauan berbasis satelit, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Di sektor digital, kedua negara juga menjalin kerja sama peningkatan kualitas jaringan, keamanan data, serta pengembangan teknologi masa depan seperti kecerdasan artifisial (AI). Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, manfaatnya akan langsung dirasakan masyarakat.

“Internet lebih stabil, layanan publik lebih mudah diakses, dan data pribadi lebih aman,” ujarnya.

Selain itu, kerja sama ini juga membuka peluang bagi startup dan talenta digital Indonesia melalui program pelatihan, beasiswa, hingga kolaborasi dengan sektor swasta. Untuk memastikan implementasi berjalan optimal, kedua negara akan membentuk komite bersama. Kesepakatan kerja sama ini berlaku selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti dalam berbagai program konkret lintas sektor.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.