Dark/Light Mode

Kramat Festival 2026 Hidupkan Jejak Syekh Yusuf di Cape Town

Senin, 6 April 2026 19:03 WIB
EOAN Group menarikan Dendang Mangkassara dalam acara Kramat Festival 2026 yang berlangsung 3-5 April 2026. (Foto KJRI Cape Town)
EOAN Group menarikan Dendang Mangkassara dalam acara Kramat Festival 2026 yang berlangsung 3-5 April 2026. (Foto KJRI Cape Town)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kramat Festival (KF) 2026 kembali digelar di kawasan Macassar, sekitar satu jam dari Cape Town, Afrika Sekatan, pada 3–5 April 2026. Festival yang telah berlangsung lebih dari dua abad ini menjadi ajang penghormatan sekaligus ziarah ke makam ulama besar asal Nusantara, Syekh Yusuf Al-Makassari.

Tradisi yang dijaga komunitas Muslim Cape Malay—keturunan Indonesia—ini tak sekadar kegiatan spiritual. Dalam keterangan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Cape Town, Senin (6/4/2026), festival juga diramaikan bazar, pawai, hingga pertunjukan seni budaya yang merefleksikan kuatnya jejak Indonesia di Afrika Selatan.

"Tahun ini, KF 2026 terasa lebih istimewa. Selain mempererat hubungan sejarah dan budaya kedua bangsa, perhelatan ini bertepatan dengan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf yang masuk dalam agenda Anniversary UNESCO 2026 atas usulan Indonesia," pernyataan KJRI Cape Town.

Chef Rasmi Madalle mengenalkan coto Makassar kepada para pengunjung.

Baca juga : Kalah Di La Liga, Real Madrid Alihkan Fokus di Liga Champions

Jejak sejarah itu tak lepas dari masa kolonial Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), ketika Syekh Yusuf diasingkan ke Afrika Selatan. Di tanah pengasingan, ia justru berperan besar dalam penyebaran Islam dan pembentukan identitas komunitas Cape Malay yang masih bertahan hingga kini.

Pengaruh Indonesia masih terasa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mulai dari penggunaan istilah seperti “puasa” dan “lebaran”, hingga tradisi ratieb yang mirip praktik debus di Tanah Air. Bahkan, metode belajar membaca Al-Qur’an yang digunakan masih serupa dengan tradisi di Indonesia.

Momentum KF 2026 juga bertepatan dengan peringatan 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hal ini menjadikan festival tidak hanya sarat nilai historis, tetapi juga spiritual yang kuat dalam mempererat ikatan lintas bangsa.

Para pengunjung memadati areal Festival Kramat.

Baca juga : Maknai Paskah 2026, BRI Peduli Salurkan 10.050 Paket Sembako bagi Umat Nasrani

Partisipasi Indonesia tahun ini pun semakin semarak. Berbagai pertunjukan seni seperti Tari Saman, Dendang Mangkassara, hingga Cokek ditampilkan oleh EOAN Group, kelompok seni lokal yang beranggotakan alumni program beasiswa Indonesia.

Tak hanya itu, musisi tradisional Makassar turut hadir membawakan musik kecapi dengan syair perjalanan hidup Syekh Yusuf. Pertunjukan ini menjadi media storytelling yang menghidupkan kembali kisah perjuangan sang ulama.

Promosi kuliner Nusantara juga jadi daya tarik tersendiri. Chef asal Makassar memperagakan pembuatan pisang ijo dan coto Makassar, sekaligus mengajak pengunjung mencicipi langsung cita rasa khas Indonesia.

Layanan konsuler hingga informasi beasiswa tersedia di Pusat Informasi.

Baca juga : Pertama Dalam 30 Tahun, KRI Prabu Siliwangi Bersandar di Pelabuhan Cape Town

Selain itu, Indonesia Information Centre dibuka untuk memberikan informasi seputar beasiswa, kelas Bahasa Indonesia, peluang investasi, hingga layanan konsuler bagi masyarakat setempat.

Sebagai bagian diplomasi budaya, festival ini juga diramaikan pemutaran film dokumenter dan animasi tentang perjalanan hidup Syekh Yusuf, sekaligus menjadi pembuka rangkaian Festival Film Indonesia di Afrika Selatan 2026.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.