Dark/Light Mode

AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata, Dunia Lega Nantikan Damai Permanen

Kamis, 9 April 2026 06:38 WIB
Ribuan warga di Teheran turun ke jalan, Rabu (8/4/2026), untuk merayakan pengumuman gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. (Foto Majid Asgaripour/WANA via Reuters)
Ribuan warga di Teheran turun ke jalan, Rabu (8/4/2026), untuk merayakan pengumuman gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. (Foto Majid Asgaripour/WANA via Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat selama dua pekan membawa angin segar bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain menghentikan sementara konflik yang telah berlangsung selama 40 hari, kesepakatan ini membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Iran akhirnya mau memulai perundingan dan membuka Selat Hormuz setelah Trump menyepakati 10 tuntutan Teheran sebagai syarat gencatan senjata.

Negeri Mullah itu menganggap gencatan senjata ini kemenangan karena AS mau menerima semua permintaannya. Sementara itu, Trump juga mengeklaim kemenangan atas Iran karena gencatan senjata tercapai setelah melampaui tujuan militer AS.

Langkah ini memicu respons positif dari berbagai negara, terutama di kawasan Teluk dan komunitas internasional. Perundingan lanjutan menuju perdamaian permanen dijadwalkan digelar di Pakistan pada Jumat (17/4/2026).

Indonesia pun menyambut baik perkembangan ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) Yvonne Mewengkang menyebut kesepakatan tersebut mencerminkan upaya membuka ruang komunikasi untuk mendorong deeskalasi konflik.

Baca juga : Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata 2 Minggu AS-Iran

"Pemerintah Indonesia menyambut baik gencatan senjata. Perkembangan ini mencerminkan adanya upaya dari para pihak untuk tetap membuka ruang komunikasi guna mendorong deeskalasi," ujar Yvonne dalam konferensi pers di Kemlu RI, Rabu (8/4).

Arab Saudi menyambut baik kesepakatan tersebut. Pemerintah di Riyadh menekankan pentingnya menjaga keamanan kawasan serta memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi jalur perdagangan global. Saudi berharap gencatan senjata ini menjadi awal menuju perdamaian yang berkelanjutan.

Sikap serupa ditunjukkan Uni Emirat Arab (UEA). Penasihat diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, menyebut negaranya berhasil melewati konflik yang sejak awal ingin dihindari. Ia menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan serta stabilitas kawasan di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Oman juga mengapresiasi kesepakatan tersebut, termasuk peran Pakistan dalam memfasilitasi dialog. Muscat mendorong peningkatan upaya diplomatik guna mengakhiri konflik secara permanen.

Dari Irak, pemerintah menyatakan dukungan terhadap gencatan senjata dan mendesak dialog serius antara Washington dan Teheran. Irak, yang turut terdampak konflik, berharap langkah ini dapat membangun kepercayaan dan mengatasi akar perselisihan.

Baca juga : Sekjen PBB: Gencatan Senjata AS-Iran Jalan Menuju Perdamaian Abadi

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyambut baik keputusan gencatan senjata.

"Israel mendukung keputusan Presiden Trump untuk menunda serangan terhadap Iran selama dua pekan dengan syarat Iran membuka segera selat (Hormuz) dan menghentikan seua serangan terhadap AS dan Israel serta negara-negara," tulis Netanyahu, Rabu (8/4/2026).

Namun, Netanyahu menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak mencakup penghentian serangan terhadap Lebanon.

Mesir menilai gencatan senjata sebagai peluang penting untuk membuka ruang negosiasi. Kairo juga menekankan perlunya mempertimbangkan kepentingan keamanan negara-negara Teluk dalam setiap pembicaraan lanjutan.

Tak jauh beda, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyambut baik kesepakatan tersebut. Ia menyerukan semua pihak mematuhi komitmen guna melindungi warga sipil dan mengurangi penderitaan kemanusiaan.

Baca juga : Pernyataan Resmi Iran Terkait Gencatan Senjata dan Pembukaan Selat Hormuz

Jepang juga menyebut langkah ini sebagai perkembangan positif. Pemerintah Tokyo berharap gencatan senjata menjadi pintu masuk bagi keputusan final yang lebih permanen.

Malaysia turut menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai langkah krusial dalam meredakan ketegangan. Kuala Lumpur mengingatkan pentingnya komitmen penuh serta menghindari provokasi yang dapat memicu konflik baru.

Australia melalui Perdana Menteri Anthony Albanese dan Menteri Luar Negeri Penny Wong juga memberikan dukungan. Canberra menilai konflik sebelumnya telah mengguncang pasokan energi global dan berdampak besar terhadap perekonomian dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.