Dark/Light Mode

Pencak Silat Masuk Kurikulum Universitas di Uzbekistan

Senin, 20 April 2026 13:11 WIB
Dubes RI Siti Ruhaini Dzuhayatin menyimak penjelasan Rektor JTSU mengenai prestasi atlet nasional Uzbekistan alumni JTSU. (Foto: KBRI Tashkent)
Dubes RI Siti Ruhaini Dzuhayatin menyimak penjelasan Rektor JTSU mengenai prestasi atlet nasional Uzbekistan alumni JTSU. (Foto: KBRI Tashkent)

Sebagai salah satu ujung tombak diplomasi budaya Indonesia di Uzbekistan, gaung pencak silat semakin kuat. Federasi Pencak Silat Uzbekistan, yang didirikan tahun 2015, saat ini telah memiliki lebih dari 10.000 anggota. Melalui perjuangan panjang, 17 April 2026 menjadi tonggak sejarah baru bagi keberadaan pencak silat di negeri yang sangat tersohor di era Jalur Sutera. 

Di hari itu, ditandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara Uzbekistan State University of Physical Education and Sport (JTSU) dengan Federasi Pencak Silat Uzbekistan, dengan disaksikan Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin. Berdasarkan MoU tersebut, pencak silat menjadi mata kuliah baru di universitas yang selanjutnya akan diajarkan di berbagai universitas dan sekolah-sekolah di Uzbekistan. Universitas JTSU telah mencetak sejumlah atlet terkemuka Uzbekistan, termasuk Abdukodir Khusanov, pesepakbola yang kini membela Manchester City.  

Baca juga : Pemerintah: Indonesia Kian Menarik Investor Asing, Stabilitas Jadi Keunggulan

Dubes Ruhaini menyatakan, berbeda dengan seni bela diri lainnya, pencak silat berakar dari tradisi Islam, dengan filosofi bela diri yang tidak membahayakan diri sendiri, kawan dan lawan. Pencak silat hakekatnya dalah seni oleh raga, bela diri dan mengedepankan perdamaian sehingga menitikberatkan pada pertahanan diri dan melindungi diri orang lain, termasuk pihak lawan agar masalah dapat diselesaikan dengan damai.

Dubes RI, Rektor JTSU, dan Presiden Federasi Pencak Silat Uzbekistan Pasca Penandatanganan MoU

Baca juga : Pemerintah Akan Bentuk Pusat Finansial Khusus untuk Tarik Investasi Asing

Dubes Ruhaini juga menekankan adanya pengaruh Uzbekistan pada peradaban Islam di Tanah Air. Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar dari Samarkand membawa ajaran Imam Bukhari ke Indonesia. Ajaran tersebut berperan besar pada proses akulturasi antara Islam moderat dengan budaya nusantara yang terbuka, antara lain terwujud dalam nilai-nilai pencak silat hingga dapat diterima siapa saja. Saat ini Pencak Silat sudah mendunia dan terus diupayakan untuk menjadi cabang olah raga di Olimpiade.

Rektor JTSU Rashid Matkarimov menjelaskan, pencak silat semakin diminati warga Uzbek sehingga dipandang perlu untuk diajarkan secara formal, melalui suatu kurikulum yang terstruktur. Matkarimov yang saat ini masih aktif sebagai wakil ketua federasi angkat berat Uzbekistan, juga mengharapkan pihaknya dapat mengembangkan kerja sama lebih lanjut dengan universitas di Indonesia di bidang pendidikan dan ilmu olahraga, antara lain melalui pertukaran mahasiswa dan tenaga pengajar. 

Baca juga : Pindah ke SGB, Madura United Cari Energi Baru di Sisa Musim

KBRI Tashkent terus menggelar promosi budaya Indonesia di Uzbekistan, termasuk pencak silat. Sebelumnya KBRI Tashkent bekerja sama dengan Federasi Pencak Silat Uzbekistan dalam menggelar Kejuaraan Pencak Silat Asia ke-8 2024 di Bukhara pada tanggal 7-16 Oktober 2024 dan turnamen pencak silat Indonesia-Uzbekistan Cup pada 6-10 Desember 2025.

Bharata
Bharata
Fungsi Ekonomi KBRI Tashkent

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.