Dark/Light Mode

Pidato Bersejarah Raja Charles III Di Kongres AS Disambut Standing Ovation

Rabu, 29 April 2026 18:02 WIB
Raja Charles III berpidato di hadapan Kongres AS, di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (28/4/2026). (Foto via Politico)
Raja Charles III berpidato di hadapan Kongres AS, di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (28/4/2026). (Foto via Politico)

RM.id  Rakyat Merdeka - Raja Charles III melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Amerika Serikat (AS) sejak naik takhta pada September 2022. Pidatonya di hadapan Kongres AS langsung mencuri perhatian dan mendapat sambutan standing ovation dari para anggota parlemen dan senat AS, Selasa (28/4/2026).

Dilansir media Inggris, Sky News, agenda Raja Charles III dan Ratu Camilla selama 4 hari cukup padat di Negeri Paman Sam. Raja Charles III dan Ratu Camillia tiba di Joint Base Andrews, Maryland pada Senin (27/4/2026) sore. Keduanya disambut dengan upacara kehormatan. 

Agenda berlanjut di Gedung Putih. Raja Charles dan Ratu Camilla disambut langsung Presiden AS Donald Trump dan First Lady (Ibu Negara) Melania Trump. Keduanya diajak berkeliling kompleks Gedung Putih menghadiri jamuan minum teh secara tertutup.

Hari kedua, Selasa (28/4/2026), Raja Charles dan Presiden Trump menggelar pertemuan bilateral tertutup untuk membahas hubungan kedua negara di tengah konflik global. Puncak kunjungan adalah pidato Raja Charles di Kongres AS, Selasa (28/4/2026) malam. 

Pidato Pembatasan Kekuasaan

Dilansir media AS, Politico, Raja Charles menyoroti pengaruh Magna Carta dalam sejarah hukum AS serta prinsip pembatasan kekuasaan eksekutif.

“Mahkamah Agung Amerika Serikat melalui Historical Society mencatat bahwa Magna Carta telah dikutip dalam sedikitnya 160 kasus Mahkamah Agung sejak 1789, terutama sebagai dasar prinsip bahwa kekuasaan eksekutif harus tunduk pada sistem pengawasan dan keseimbangan,” tegasnya. 

Baca juga : Dilepas Polisi, Adik Raja Charles III Masih Diselidiki

Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah. Para anggota Kongres berdiri, bersorak, bersiul, dan memberikan tepuk tangan panjang.

Magna Carta merupakan dokumen yang ditandatangani pada 1215 yang menegaskan bahwa tidak ada pihak, termasuk penguasa, yang berada di atas hukum. Dokumen ini juga menjadi dasar berbagai prinsip hak asasi, termasuk proses hukum yang adil.

Dalam bagian lain pidatonya, Charles menyoroti pentingnya kerja sama AS-Inggris dalam aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan tantangan global yang semakin kompleks. Ia berujar, kebebasan sedang diserang, yakni merujuk pada perang Rusia di Ukraina serta meningkatnya ketegangan global.

“Rakyat kita telah berjuang dan gugur bersama dalam membela nilai-nilai yang kita hargai di kedua sisi Atlantik. Kita telah berdagang, berinovasi, dan berkarya bersama," katanya. 

Hubungan AS-Inggris

Ia juga menyinggung sejarah panjang hubungan AS-Inggris, termasuk pembakaran Gedung Putih oleh pasukan Inggris pada 1814. Charles menambahkan bahwa kemitraan Inggris dan AS dalam NATO dan AUKUS menjadi kunci menghadapi tantangan teknologi dan keamanan dunia.

AUKUS (Australia, United Kingdom, United States) adalah sebuah pakta keamanan trilateral antara Australia, Britania Raya, dan Amerika Serikat (AS) yang didirikan pada 15 September 2021.

Baca juga : Andrew, Adik Raja Charles III Ditangkap Polisi Terkait Skandal Epstein

Dalam jamuan kenegaraan, Raja Charles juga mencairkan suasana dengan humor. Ia mengatakan, “Kalau sewaktu-waktu Anda perlu menghubungi kami, cukup telepon saja.”

Sementara itu, Presiden Donald Trump memuji hubungan kedua negara. Trump menyebut pidato Charles luar biasa. Ia juga mengklaim bahwa Raja Charles sejalan dengannya dalam isu Iran. Kedua negara sempat tegang terkait perang Iran. 

“Charles setuju dengan saya, bahkan lebih dari saya sendiri. Kita tidak akan pernah membiarkan pihak itu memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

Kunjungan ini menjadi momen bersejarah karena merupakan perjalanan pertama Raja Charles III ke Amerika Serikat sejak menjadi raja. Inggris menegaskan kembali hubungan erat dengan Negeri Paman Sam di tengah dinamika global yang semakin kompleks. 

Insiden penembakan yang terjadi di dekat Gedung Putih sempat memicu kekhawatiran. Namun, tidak mengurungkan niat Raja Inggris untuk mengunjungi sekutunya itu.

Duta Besar Inggris untuk AS Sir Christian Tuner berujar, perjalanan ini menjadi kunjungan pertama seorang raja Inggris yang sedang berkuasa ke AS dalam hampir 20 tahun. Terakhir, Ratu Elizabeth II berkunjung atas undangan Presiden George W Bush pada Mei 2007. 

Baca juga : Latihan di Cisarua, 23 Marinir Jadi Korban Longsor, 4 Ditemukan Meninggal

"Sang Ratu juga pernah merayakan 200 tahun kemerdekaan AS pada 1976 dalam kunjungan di pesisir timur Amerika, sebagai wujud kedekatannya dengan Amerika Serikat sepanjang hidupnya." kata Sir Christian Tuner sebagaimana dikutip New York Post

Sir Tuner menekankan, kunjungan kenegaraan akan digunakan untuk menyamakan pemikiran aliansi di tengah konflik global. 

"Dalam satu dekade ke depan, Inggris akan menghabiskan 32 miliar dolar (sekitar Rp 544 triliun) untuk peralatan pertahanan buatan Amerika, serta bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Australia dalam AUKUS, sebuah kemitraan keamanan penting dan bersejarah," kata Tuner. 

Selain ke Washington DC, Raja Charles III dijadwalkan mengunjungi Virginia, dan New York sebelum melanjutkan ke Bermuda.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.