Dark/Light Mode

Perang Dengan Iran Habiskan Sekitar Rp 866 Triliun

Menhan AS Dicecar Senat, Ruang Capitol Hill Tegang

Sabtu, 2 Mei 2026 06:30 WIB
Seorang demonstran menunjukkan banner berbunyi “Jangan Ada Perang di Iran” di sidang Menhan AS Pete Hegseth dengan Senat, di Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (30/4/2026). Foto: Eric Lee/Reuters
Seorang demonstran menunjukkan banner berbunyi “Jangan Ada Perang di Iran” di sidang Menhan AS Pete Hegseth dengan Senat, di Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (30/4/2026). Foto: Eric Lee/Reuters

 Sebelumnya 
“Kita memulai perang ini karena ancaman nuklir yang disebut mendesak. Anda mengatakan semuanya sudah dilenyapkan. Lalu, sekarang apa?” singgung Smith dilansir dari Associated Press, Jumat (1/5/2026).

Hegseth membalas dengan menyatakan bahwa Iran belum meninggalkan ambisi nuklirnya dan masih memiliki ribuan rudal. Namun, Smith menilai konflik tersebut justru membawa AS kembali ke titik awal.

Anggota DPR John Garamendi bahkan menuduh Pemerintah telah menyesatkan publik.

“Anda telah berbohong kepada rakyat Amerika sejak hari pertama,” tuduh Garamendi. Dia menyebut perang ini sebagai bencana geopolitik dan kesalahan strategi.

Baca juga : Cegah BUMD Rugi, HET Beras Perlu Dievaluasi

Hegseth menolak tuduhan tersebut dan balik menyerang. “Anda sebenarnya berpihak ke siapa? Kebencian Anda terhadap Presiden Trump membutakan Anda,” balas menteri yang mantan penyiar televisi Fox News ini.

Hegseth juga adu mulut dengan dua politisi Demokrat Kirsten Gillibrand dan Richard Blumenthal. Keduanya menyudutkan klaim Hegseth bahwa perang tersebut mendapat dukungan publik yang luas dan telah mencapai tujuannya dalam mengalahkan Iran secara militer.

Padahal, Reuters mencatat, sejumlah jajak pendapat berulang kali menunjukkan, mayoritas publik AS menentang perang tersebut. Mereka khawatir tentang konsekuensi ekonominya dan risiko konflik yang lebih luas.

“Saya tidak tahu apakah Anda sepenuhnya memahami betapa rakyat Amerika tidak mendukung perang ini. Mengapa Anda terus melanjutkan perang yang tidak didukung rakyat Amerika?” tanya Gillibrand, Senator dari New York.

Baca juga : Jeni Rahmadial Fitri Nyamar Jadi Dokter, Gelar Finalis Putri Indonesia Dicopot

Blumenthal, Senator dari Connecticut, menimpali. “Anda terus menggambarkan perang dengan Iran sebagai keberhasilan militer yang menakjubkan. Tetapi rakyat Amerika tidak mempercayainya. Satu hal yang tak terbantahkan adalah Amerika tidak pernah berhasil dalam perang kecuali rakyat Amerika mendukungnya,” tegasnya.

Tidak hanya soal perang, Hegseth juga disorot terkait pemecatan sejumlah petinggi militer.

Menhan mencopot Kepala Staf Angkatan Darat Randy George. Sejumlah nama lain juga dicopot, termasuk Kepala Operasi Angkatan Laut Lisa Franchetti, dan Sekretaris Angkatan Laut AS John Phelan.

Menanggapi berbagai kritik, Hegseth menegaskan, serangan dari anggota Kongres terkait politik dibanding substansi.

Baca juga : Kehormatan Terakhir Napoli Di Tepi Danau Como

“Tantangan terbesar kita saat ini adalah pernyataan sembrono dan pesimistis dari Demokrat dan sebagian Republik,” sindir Hegseth.

Dia menegaskan, perubahan di tubuh militer merupakan bagian dari upaya membangun jiwa pejuang di Pentagon.

Dengan tekanan politik yang terus meningkat, perang Iran kini tak hanya menjadi isu militer, tetapi ujian besar bagi stabilitas politik di dalam negeri Paman Sam. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 2 Mei 2026 dengan judul "Perang Dengan Iran Habiskan Sekitar Rp 866 Triliun Menhan AS Dicecar Senat, Ruang Capitol Hill Tegang"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.