Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Proposal Baru Perdamaian
AS Buka Blokade Laut, Iran Buka Selat Hormuz
Kamis, 30 April 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum membuahkan hasil. Namun, proposal baru mulai disiapkan: AS menghentikan blokade, dan Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Upaya negosiasi untuk mengakhiri perang yang meletus 28 Februari 2026 masih terus dilakukan AS dan Iran. Perundingan pertama yang menghabiskan waktu 21 jam di Islamabad, Pakistan, mengalami kebuntuan.
Kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April. Setelah habis waktunya, Presiden AS Donald Trump kembali memperpanjang gencatan senjata sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Baca juga : Gandeng Saudi German Hospital, Layanan Kesehatan Haji Siap 24 Jam
Namun, gencatan senjata ini ini dinilai rapuh. Iran masih membatasi Selat Hormuz, sementara AS tetap menjalankan blokade di jalur vital tersebut, serta menambah kapal induk dan armada tempurnya ke Timur Tengah.
Kini, perundingan damai putaran kedua memasuki babak baru. Proposal perdamaian mulai ditawarkan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menyerahkan proposal kepada Pakistan yang menjadi mediator konflik.
Dalam proposal tersebut, Iran sepakat akan membuka kembali Selat Hormuz jika perdamaian permanen tercapai. Menurut laporan The Wall Street Journal, rencana ini dirancang untuk menghidupkan kembali pembicaraan yang sempat mandek. Proposal itu mencakup tiga tahap.
Baca juga : Zulfikar Arse Sadikin: Lembaga Ini Tidak Bisa Menjawab Persoalan Partai
Pertama, AS dan Israel mengakhiri perang serta memberikan jaminan tidak akan memulainya kembali. Kedua, mediator membantu menyelesaikan persoalan penutupan Selat Hormuz sekaligus mendorong kesepakatan pengelolaan jalur perairan tersebut. Ketiga, Iran bersedia memulai negosiasi terkait program nuklirnya serta isu lain, termasuk pendanaan kelompok proksi di kawasan.
Namun, Wakil Menteri Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik menegaskan, pelayaran di Selat Hormuz pascakonflik harus mengikuti aturan Iran. Hal itu disampaikannya dalam forum Organisasi Kerja Sama Shanghai di Bishkek, Kirgistan.
Iran juga berencana menyusun skema navigasi bersama Oman serta menarik pungutan dari kapal-kapal yang melintas, dengan tetap mengedepankan keamanan nasionalnya.
Baca juga : Lucius Karus: Positif, Untuk Cegah Kader Partai Korupsi
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran dalam kondisi tertekan dan telah meminta pembukaan blokade Selat Hormuz. Perwakilan Teheran, kata Trump, telah meminta kepadanya untuk membuka blokade jalur pelayaran di Selat Hormuz. "Mereka ingin kami membuka blokade Selat Hormuz.
Mereka di sisi lain mencoba menyelesaikan situasi kepemimpinan mereka," klaim Trump melalui Truth Social, dikutip Rabu (29/4/2026).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya