Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Penumpang AS Akan Diperiksa Khusus
Jubir Kemenkes Spanyol: Semua Penumpang Kapal MV Hondius Tidak Bergejala
Minggu, 10 Mei 2026 21:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, sebanyak 46 orang telah turun dari kapal pesiar MV Hondius yang terdampak hantavirus. Proses penurunan penumpang akan berlanjut hingga matahari terbenam, sebelum dimulai kembali pada Senin (11/5/2026) pagi.
Saat tiba di Tenerife, Spanyol, kapal tersebut dihuni oleh 146 penumpang dan kru.
"Sejauh ini, penumpang dari Spanyol, Prancis, Kanada, dan Belanda telah dievakuasi. Sisanya, diharapkan akan turun pada Senin (11/5/2026) malam," kata Kepala Operasi Kesehatan WHO, Diana Rojas Alvarez, seperti dikutip CNN International, Minggu (10/5/2026).
MV Hondius kemudian akan berlayar ke pelabuhan asalnya di Belanda. Kapal tersebut akan diawaki oleh 30 awak kapal, bersama dengan tim medis.
Seluruh Penumpang Tak Bergejala
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Spanyol mengungkap, semua penumpang yang berada di MV Hondius tidak menunjukkan gejala. Proses operasi evakuasi berjalan sesuai rencana.
Baca juga : Kementan, Kemenkes, Dan Kemenko PMK Perkuat Kemandirian Farmasi Berbasis Alam
Setelah MV Hondius berlabuh di Kepulauan Canary pada pukul 6.30 pagi waktu setempat seorang anggota kementerian naik ke kapal pada pukul 7.30 pagi untuk menilai kesehatan para pasien.
"Semua pasien tidak menunjukkan gejala," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan Spanyol.
Para penumpang Spanyol mulai turun dari kapal pada pukul 9.30 pagi waktu setempat. Penerbangan yang membawa mereka ke Madrid, telah meninggalkan pulau tersebut.
Penumpang AS Diperiksa di Ruang Khusus
Penumpang kapal pesiar asal AS akan menjalani pemeriksaan kesehatan di Pusat Medis di Nebraska AS. Fasilitas tersebut adalah satu-satunya pusat yang secara nasional ditunjuk khusus untuk tujuan pemantauan kasus hantavirus.
Kanselir Interim University of Nebraska Medical Center (UNMC) Dr. H. Dele Davies menjelaskan, pusat medis tersebut dilengkapi ruang bertekanan negatif, yang dirancang untuk memastikan bahwa penyakit menular berbahaya tetap terisolasi di dalam ruangan.
Baca juga : Pandangan Politisi Gerindra, MBG Jadi Investasi Pembangunan Manusia
Fasilitas itu memiliki sistem penyaringan udara untuk setiap udara yang keluar dari ruangan. Kamar-kamarnya dirancang menyerupai kamar hotel, lengkap dengan peralatan olahraga, layanan kamar, monitor, dan akses Wi-Fi.
Setibanya di pusat medis, para penumpang akan diperiksa untuk mendeteksi gejala awal hantavirus, seperti demam, nyeri otot, dan diare.
Jika ada pasien yang mulai menunjukkan gejala, pusat tersebut telah menyiapkan tenaga medis lengkap serta unit biokontainmen, tempat pasien COVID-19 dan Ebola sebelumnya pernah dirawat.
Ketika ditanya mengenai risiko bagi masyarakat luas di Amerika Serikat saat para penumpang kapal pesiar kembali, Dr. Davies mengatakan risikonya rendah.
“Hantavirus bukan virus yang mudah menular. Seseorang harus melakukan kontak yang cukup dekat dengan pasien yang sudah menunjukkan gejala. Karena itu, risiko penularannya rendah,” jelas Davies.
Baca juga : Penguatan Tata Kelola Otonomi Khusus Papua Untuk Pembangunan Inklusif Dan Berkeadilan
"Namun, jika seseorang terinfeksi, penyakit ini dapat berakibat sangat mematikan," imbuhnya.
Kronologis Kejadian
Wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang dioperasikan Oceanwide Expeditions, memuncak pada akhir April hingga Mei 2026.
Berikut kronologis kejadiannya:
- Awal April 2026: Kapal MV Hondius berlayar dari Ushuaia, Argentina, menuju wilayah Antartika.
- 6-11 April 2026: Kasus pertama muncul. Seorang penumpang pria asal Belanda mengalami gejala (demam, sakit kepala, diare) pada 6 April dan meninggal dunia di kapal pada 11 April.
- 24 April 2026: Jenazah kasus pertama diturunkan di St Helena. Istri dari penumpang tersebut, yang juga berada di kapal, kemudian dilaporkan jatuh sakit dan meninggal dunia.
- 27 April 2026: Seorang penumpang Inggris dievakuasi dalam kondisi kritis ke Afrika Selatan akibat sakit parah.
- Awal Mei 2026: Wabah terkonfirmasi sebagai virus hanta, menyebabkan kapal tidak diizinkan berlabuh di beberapa tempat dan terombang-ambing di dekat Tanjung Verde.
- 5 Mei 2026: Tiga orang dipastikan tewas (2 Belanda, 1 Jerman) dan 149 awak/penumpang menjalani proses evakuasi yang diprioritaskan bagi yang bergejala.
Virus ini diduga menular melalui kotoran/urin hewan pengerat yang terinfeksi di atas kapal, yang kemudian partikelnya terhirup oleh penumpang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya