Dark/Light Mode

Harga Kebutuhan Pokok Dan BBM Melambung

Warga AS Mulai Ngirit, Stop Layanan Streaming Dan Gym

Senin, 25 Mei 2026 06:10 WIB
Warga New York, Amerika Serikat, sedang berbelanja di salah satu swalayan, 19 Mei 2026. Foto REUTERS
Warga New York, Amerika Serikat, sedang berbelanja di salah satu swalayan, 19 Mei 2026. Foto REUTERS

RM.id  Rakyat Merdeka - Lebih dari separuh warga Amerika Serikat (AS) harus mengencangkan ikat pinggang alias berhemat, akibat perang Iran vs AS dan Israel. Konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan ini, membuat harga kebutuhan pokok, bahan bakar, hingga tarif listrik di Negeri Paman Sam melambung.

Pada momen menjelang Memorial Day alias Hari Pahlawan di AS, jajak pendapat CNN menunjukkan, 59 persen warga AS mulai berhemat dan mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

Dikutip dari The New York Times, Minggu (24/5/2026), warga AS mulai menghentikan langganan layanan streaming musik dan film, hingga membatalkan keanggotaan gym.

Lebih dari tiga perempat warga AS, termasuk 55 persen responden dari Partai Republik, mengatakan kebijakan Presiden Donald Trump telah meningkatkan biaya hidup mereka.

Berbagai survei menunjukkan, warga AS merasakan ketidakpastian ekonomi yang semakin meningkat. Hampir setengah dari seluruh pemilih memberikan penilaian terendah terhadap kondisi perekonomian AS.

Dalam survei yang dilakukan The New York Times dan Gallup, tingkat kepercayaan publik terhadap pertumbuhan ekonomi domestik terus menurun sejak akhir Februari lalu.

Baca juga : Paula Verhoeven, Pamer Status Cerai Hidup

Harga bensin di AS juga terus melonjak. Pada Februari 2026, harga bensin berada di angka 2,9 dolar AS (sekitar Rp 50.600) per galon. Namun per 20 Mei 2026, harganya naik menjadi 4,52 dolar AS atau sekitar Rp 80 ribu per galon.

Menurut jajak pendapat Fox News, Sabtu (23/5/2026), hampir 80 persen pemilih — termasuk mayoritas pendukung Partai Republik — menilai pemerintahan Trump bertanggung jawab atas kenaikan harga tersebut. Sebagian besar responden juga menyalahkan perusahaan minyak, perang di Iran, serta kebijakan Pemerintah yang dinilai tidak fokus pada pengembangan ekonomi dalam negeri.

Secara keseluruhan, 57 persen responden dalam survei Fox News mengatakan, kebijakan Trump telah merugikan negara. Angka itu naik dari sebelumnya, yaitu 51 persen untuk pertanyaan yang sama.

Kegagalan Trump

Meski Trump mengklaim berhasil menghancurkan banyak target militer Iran, kenyataan di lapangan berbeda. Situasi tersebut memunculkan keraguan apakah Trump mampu mengubah kemenangan militer taktis menjadi kemenangan geopolitik yang nyata dan meyakinkan.

Dikutip dari Reuters, Minggu (24/5/2026), sejumlah analis menilai, klaim kemenangan total yang berulang kali disampaikan Trump mulai terdengar hampa. Krisis pun dinilai masih jauh dari selesai. Sebagian pengamat melihat, masih ada peluang bagi Trump untuk menemukan jalan keluar yang menyelamatkan muka jika negosiasi berjalan sesuai kepentingannya.

Baca juga : Golkar Jatim Lakukan Inventarisasi Aset Partai

“Kita sudah memasuki bulan ketiga, dan perang yang awalnya dirancang sebagai operasi cepat kini berubah menjadi kegagalan strategis jangka panjang,” ujar mantan negosiator Timur Tengah untuk pemerintahan Partai Republik dan Demokrat Aaron David Miller.

Menurut Miller, situasi tersebut sangat sensitif bagi Trump, mengingat citranya selama ini identik dengan sosok yang anti terhadap kesan kalah.

Dalam konflik Iran, Trump mengerahkan kekuatan militer terbesar dunia melawan negara berkekuatan menengah, tetapi lawannya justru terlihat percaya diri memiliki posisi tawar lebih besar.

Sebagian analis juga menyebut Trump mungkin akan mencoba mengalihkan perhatian ke Kuba. Meski demikian, Trump masih memiliki pembela.

Mantan penasihat senior Trump pada periode pertama, sekaligus Chief Executive Officer (CEO) American Global Strategies Alexander Gray menolak anggapan bahwa kebijakan Trump soal Iran berada di ambang kegagalan.

Gray menilai, pukulan besar terhadap kemampuan militer Iran sudah merupakan sebuah kesuksesan strategis.

Baca juga : Panggil Mantan Gubernur BI, Prabowo Tanya Pengalaman Hadapi Krisis Ekonomi 2008

“Perang juga membuat negara-negara Teluk semakin dekat dengan AS dan menjauh dari China,” tandasnya.

Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales membela kebijakan Trump. Menurutnya, AS telah memenuhi bahkan melampaui target militernya dalam operasi yang disebut Epic Fury.

“Presiden Trump memegang kendali penuh dan dengan bijak tetap membuka semua opsi yang ada,” klaim Wales. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Senin, 25 Mei 2026 dengan judul "Harga Kebutuhan Pokok & BBM Melambung Warga AS Mulai Ngirit, Stop Layanan Streaming Dan Gym"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.