Dark/Light Mode

Profesor RI-Australia Ngumpul Bahas Masa Depan Pendidikan

Kamis, 28 Mei 2026 07:35 WIB
Transnational EducationnConnect 2026 yang digelar Kedubes Australia di Hotel Westin, Jakarta, Senin (25/5/2025). (Foto Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)
Transnational EducationnConnect 2026 yang digelar Kedubes Australia di Hotel Westin, Jakarta, Senin (25/5/2025). (Foto Larasati Dyah Utami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perkembangan teknologi, hingga pendidikan inklusif menjadi sorotan pada ajang Transnational Education (TNE) Connect 2026 yang digelar di Hotel Westin, Jakarta, Senin (25/5/2025). Forum ini membahas penguatan kemitraan pendidikan transnasional yang lebih berkelanjutan dan berdampak.

Kegiatan ini dibuka Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia Gita Kamath. Di acara ini, para profesor dan akademisi dari 18 institusi pendidikan tinggi Australia dan 16 perguruan tinggi Indonesia bertemu dan berbincang untuk memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi kedua negara.

“Pendidikan merupakan salah satu landasan utama hubungan bilateral kami dengan Indonesia. Forum ini menjadi wadah untuk membahas kerja sama yang praktis dan berkelanjutan,” kata Kamath.

Negeri Kanguru terus memperluas akses pendidikan tinggi melalui skema beasiswa Australia Awards. Kamath mengatakan, Australia Awards adalah program beasiswa luar negeri tertua di Indonesia yang telah berjalan selama 70 tahun.

Program ini telah melahirkan 200 ribu alumni di Indonesia yang berkontribusi di sektor pemerintahan, bisnis, akademik hingga masyarakat sipil.

Baca juga : Prof Tholabi: Idul Adha Momentum Perkuat Solidaritas

Program ini juga memberi perhatian khusus kepada pelamar dari komunitas marjinal dan penyandang disabilitas. Bagi Australia, memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentanvdan penyandang disabilitas menjadi salah satu fokus yang juga sama pentingnya.

“Kemitraan yang kuat tidak lahir begitu saja. Kemitraan dibangun melalui kepercayaan, visi bersama dan dialog yang berkelanjutan,” ujar Kamath.

Sesi pleno menghadirkan Profesor Jennifer Westacott AC, Australia’s Business Champion for Indonesia sekaligus Kanselir Western Sydney University. Hadir pula Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Indonesia Profesor Hermawan Kresno Dipojono, serta Rektor Deakin University Lancaster University Indonesia Profesor Greg Barton.

Di forum ini timbul pertanyaan mendasar, apakah model kuliah empat tahun masih relevan di era perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Profesor Westacott menilai, perkembangan teknologi tidak bisa dihindari. Indonesia dan Australia harus adaptif merespons cepatnya perkembangan teknologi dan transformasi ekonomi, sehingga kampus bukan sekadar menjadi tempat orang mengambil mata kuliah.

Baca juga : Wamen Fajar Ajak Industri Energi Hijau Bantu Pendidikan

“Kita harus bergerak melampaui hubungan yang sekadar transaksional. Pendidikan harus menjadi wadah pertumbuhan bersama, membangun kapasitas, berbagi pengetahuan dan menciptakan peluang baru bagi kedua negara,” ujarnya.

Profesor Hermawan Kresno Dipojono mengatakan, Indonesia memiliki visi menjadi pusat pendidikan internasional di kawasan. Menurutnya, pendidikan transnasional dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan riset nasional.

“Indonesia memiliki banyak persoalan kelas dunia. Ini menjadi peluang bagi para profesor dan peneliti Australia untuk berkolaborasi dan menghasilkan solusi bersama,” jelasnya.

Profesor Greg Barton menambahkan, kemitraan pendidikan Indonesia dan Australia harus dibangun dalam jangka panjang dan saling menguntungkan. Apalagi, kebutuhan pembangunan Indonesia sejalan dengan tantangan yang dihadapi Australia. Termasuk dalam hal transisi energi, perubahan iklim dan transformasi ekonomi.

“Ada potensi sinergi yang sangat besar jika kita melihatnya dalam gambaran yang lebih luas,” pungkas Greg. 

Baca juga : FISIP UNAS Gelar Diskusi Kritis Soal Masa Depan Pendidikan

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.