Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Saat perang Amerika Serikat (AS) versus Iran belum rampung, Donald Trump ingin menjadi juru damai antara Rusia dan Ukraina. Presiden AS ini mendukung penuh usulan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menggelar pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump menganggap, pertemuan Putin dan Zelenskyy merupakan langkah positif untuk mengakhiri perang Rusia versus Ukraina. "Saya senang mereka mungkin membicarakan tentang pertemuan. Saya pikir kami memiliki banyak peran dalam hal ini," kata Trump, seperti dikutip AFP, Jumat (5/6/2026).
Menurut Trump, dialog langsung Zelenskyy dan Putin bakal mempercepat penyelesaian perang yang sudah berlangsung bertahun-tahun. "Saya pikir akan hebat jika mereka bertemu. Mereka harus menyelesaikannya," ucap Trump.
Ia menegaskan, perdamaian hanya dapat tercapai jika kedua pihak bersedia membuat kompromi. AS siap dan telah berperan aktif mendorong proses perdamaian antara kedua negara.
"Mereka berdua akan membuat kompromi, saya yang menyarankan kompromi tersebut. Anda tahu, kami telah banyak terlibat di dalamnya," kata Trump.
Baca juga : Bahasa Jembatani Siswa Dua Negara
Zelenskyy mengirim surat terbuka kepada Putin, Kamis (4/6/2026). Kantor Presiden Ukraina menyebut, surat tersebut juga telah dikirimkan kepada sejumlah negara, termasuk AS.
Dalam suratnya, Zelenskyy mengungkap keinginan bertemu Putin. Zelenskyy juga mengajak Rusia untuk segera mengakhiri perang.
"Ukraina mengusulkan mengakhiri perang ini melalui keterlibatan langsung antara kami dan Anda. Saya mengusulkan sebuah pertemuan," tulis Zelenskyy, dalam surat tersebut, seperti dilansir AFP, Jumat (5/6/2026).
Zelenskyy menambahkan, selama negosiasi berlangsung, pihaknya siap gencatan senjata secara penuh. "Ukraina siap gencatan senjata penuh selama negosiasi," sebutnya.
Zelenskyy mengklaim, mayoritas rakyat Rusia mulai lelah dengan dampak perang yang berkepanjangan. Menurutnya, serangan rudal dan drone Ukraina, inflasi yang meningkat, hingga kelangkaan bahan bakar, memicu rakyat Rusia ingin segera mengakhiri konflik.
Baca juga : Ajukan Diri sebagai Justice Collaborator, 1 TSK Kasus MBG Mau Buka-bukaan
Dalam surat itu, Zelenskyy juga menyoroti fokus perhatian AS yang saat ini lebih tertuju pada konflik di Iran. "Artinya, sebuah kesalahan jika hanya menunggu sampai perang di Eropa kembali menjadi pusat perhatian Amerika Serikat," ucapnya.
Menurut dia, AS punya kemampuan untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata. Dia mengusulkan penetapan tanggal yang jelas untuk pertemuan langsung dengan Putin. Dia juga menyebut sejumlah negara bisa jadi tuan rumah perundingan perdamaian, seperti Swiss, Turki, dan negara-negara Arab.
"Jangan takut untuk mengambil jalan keluar dari perang ini. Itulah hal utama yang saat ini dituntut dari Anda," tekan Zelenskyy.
Pihak Rusia menyatakan telah menerima dan melihat isi surat terbuka Zelenskyy. Rusia menyebut, Putin akan diberikan pengarahan mengenai isi surat tersebut.
Sebelumnya, Putin menolak kemungkinan para pemimpin Uni Eropa membantu negosiasi untuk mengakhiri perang di Ukraina. Putin bersikeras pada kesepakatan damai yang menurutnya telah disepakati bersama Trump di Alaska.
Baca juga : Pengusaha Mulai Ketar-ketir
"Bagaimana mungkin Uni Eropa atau negara-negara anggota dapat bertindak sebagai mediator ketika mereka secara langsung membantu negara yang sedang terlibat dalam konflik bersenjata dengan kami? Mediasi mengisyaratkan netralitas," kata Putin, dalam pertemuan dengan media asing, di St. Petersburg, Kamis (4/6/2026) malam.
Putin menegaskan kembali bahwa ia telah mencapai deal dengan Trump yang disebut kesepakatan damai kompromi pada KTT mereka di Anchorage Agustus lalu. "Negara-negara Uni Eropa dapat berperan dalam mengakhiri perang bukan dengan memasok senjata, tapi dengan berusaha meyakinkan otoritas Kyiv untuk menyetujui kompromi yang kami bicarakan," tegasnya.
Perang Rusia-Ukraina meletus sejak Februari 2022. Hingga kini, aksi saling serang masih berlanjut. Yang terbaru, seperti dilaporkan AFP dan Reuters, Selasa (2/6/2026), ratusan drone dan puluhan rudal Rusia menghujam sejumlah wilayah Ukraina. Rusia disebut mengerahkan lebih dari 600 drone dan puluhan rudal, termasuk rudal balistik yang sulit ditembak jatuh.
Dalam pernyataan via Telegram pada Selasa (2/6/2026), Angkatan Udara Ukraina mendeteksi 656 drone dan 73 rudal yang diluncurkan militer Rusia dalam semalam. Kyiv mengklaim, 602 drone dan 40 rudal Rusia ditembak jatuh pasukan pertahanan udara Ukraina.
Angkatan Udara Ukraina menyebut, gelombang serangan udara Rusia melibatkan delapan rudal hipersonik Zircon, jumlah terbesar pengerahan rudal hipersonik Rusia selama perang berkecamuk empat tahun terakhir. Laporan otoritas Ukraina menerangkan, 11 orang tewas dan lebih dari 100 orang luka-luka akibat rentetan serangan rudal dan drone Rusia terhadap sejumlah kota, termasuk Kyiv.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya