Dark/Light Mode

AS-Iran Berunding Di Swiss, Israel Masih Berusaha Gagalkan Perdamaian

Selasa, 23 Juni 2026 07:35 WIB
Dari kiri: Wakil Presiden AS JD Vance, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani dalam pertemuan perdamaian Timur Tengah di Swiss, Minggu (21/6/2026). (Foto: Reuters/Nathan Howard)
Dari kiri: Wakil Presiden AS JD Vance, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani dalam pertemuan perdamaian Timur Tengah di Swiss, Minggu (21/6/2026). (Foto: Reuters/Nathan Howard)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Swiss, telah berakhir. Kedua negara sepakat membuat peta jalan perdamaian dalam 60 hari ke depan. Namun, di tengah kabar baik tersebut, Israel sebagai sekutu AS masih berusaha menggagalkan perdamaian. 

Perundingan yang berlangsung di resor pegunungan Bürgenstock milik Qatar di Swiss itu dilakukan pada Minggu (21/6/2026).

Mereka yang terlibat dalam perundingan adalah Wakil Presiden AS JD Vance, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, hingga Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. 

Baca juga : Kloter Penutup Berangkat, Layanan Haji Makkah Rampung

Mediator dari Qatar dan Pakistan menyebut AS dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan tersebut. Kedua negara juga menyepakati pembentukan peta jalan menuju kesepakatan final. 

“KTT Danau Lucerne berlangsung positif dan konstruktif. Ada kemajuan tentang kesepakatan untuk pembicaraan teknis lanjutan,” demikian pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri Pakistan, seperti dilansir AFP, Senin (22/6/2026). 

Mediator menjelaskan, kedua delegasi sepakat membentuk Komite Tingkat Tinggi (KTT) yang akan mengawasi seluruh proses mediasi. Para kepala negosiator nantinya akan melapor secara berkala kepada komite tersebut. 

Baca juga : KPK Tuntut Bos BR Cargo 3 Tahun Bui-Denda 300 Juta

“Mereka akan memimpin kesepakatan isu nuklir, sanksi, serta kelompok pemantauan dan penyelesaian sengketa untuk memastikan MoU berjalan efektif, juga menangani berbagai isu lainnya,” bunyi pernyataan tersebut. 

Kedua pihak juga menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan, termasuk terkait Selat Hormuz dan situasi di Lebanon. Pembicaraan teknis lanjutan dijadwalkan berlangsung hingga akhir pekan ini. 

“Jalur komunikasi antara kedua pihak telah disebutkan di paragraf 5 MoU. Hal ini dilakukan guna menghindari insiden dan kesalahpahaman, serta menjamin kelancaran pelayaran kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz,” lanjut pernyataan itu. 

Baca juga : Eddy Soeparno: Momentum Untuk Percepat Transisi Energi

Delegasi kedua negara juga membentuk unit koordinasi guna mencegah eskalasi konflik yang melibatkan kedua pihak, Lebanon, dan para mediator. Mekanisme ini dibentuk untuk memastikan penghentian operasi militer di Lebanon dipatuhi sesuai nota kesepahaman yang telah disepakati. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membenarkan adanya kemajuan positif dalam perundingan di Swiss. 

“Mediasi Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar. Ekspor minyak dan petrokimia dibebaskan, blokade dicabut, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, rencana besar rekonstruksi serta pembangunan diluncurkan untuk Iran, dan untuk mengakhiri perang di Lebanon,” tulis Araghchi di platform X, Senin (22/6/2026). 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.