Dark/Light Mode

Pengamat: Kunjungan Modi Momentum Bangkitkan Spirit Kejayaan Nusantara

Sabtu, 11 Juli 2026 11:45 WIB
Foto: Dok. Pribadi.
Foto: Dok. Pribadi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kunjungan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi ke Indonesia dinilai tidak sekadar menjadi agenda diplomasi bilateral, tetapi juga momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran Indonesia sebagai bangsa maritim yang memiliki sejarah panjang dalam jaringan perdagangan dan peradaban dunia.

Pengamat sosial-politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Cep Deni Muchlis mengatakan, hubungan Indonesia dan India sejatinya telah terjalin jauh sebelum kedua negara berdiri sebagai nation-state modern.

"Setiap kunjungan kepala negara atau kepala pemerintahan dari negara sahabat harus dimaknai sebagai momentum memperkuat kolaborasi. Khusus dengan India, hubungan kita sebenarnya telah terbangun jauh sebelum Indonesia dan India menjadi negara modern seperti sekarang," ujar Cep di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, sejak berabad-abad lalu kawasan Nusantara telah menjadi bagian dari jalur perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai pusat peradaban dunia.

Baca juga : Prabowo dan Modi Nikmati Kemegahan Candi Prambanan dari Udara

Pelabuhan-pelabuhan di Sumatera, Jawa, hingga Maluku menjadi titik pertemuan para pedagang dari India, Tiongkok, Timur Tengah, dan berbagai kawasan lainnya.

"Tanah yang kita pijak hari ini pernah menjadi ruang pertemuan berbagai peradaban besar dunia. Khususnya sejak abad ke-12 hingga ke-14, Nusantara telah aktif berinteraksi dengan pusat-pusat perdagangan internasional. Artinya, kita memiliki modal sejarah yang sangat kuat sebagai bangsa maritim dan bangsa perdagangan," jelas mantan wartawan tersebut.

Cep menambahkan, jejak sejarah itu juga terekam dalam catatan perjalanan penjelajah Muslim, Ibn Battuta, melalui karyanya The Travels of Ibn Battuta (1325–1354).

Dalam catatan tersebut, Nusantara digambarkan telah memiliki kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan perdagangan yang maju serta menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan dunia.

Baca juga : Ibas: Demokrat Harus Jadi Motor Pembangunan Dan Kesejahteraan Rakyat

Ia menilai, sejumlah negara saat ini berupaya membangun masa depan dengan menghidupkan kembali narasi kejayaan sejarahnya, seperti China melalui inisiatif Silk Road.

Karena itu, Indonesia juga perlu membangun visi besar yang berpijak pada kekuatan sejarah yang dimilikinya.

"Kedatangan Modi jangan membuat kita menjadi 'moodyan'. Maksud saya, jangan hanya antusias ketika ada tamu negara datang, lalu selesai begitu saja. Kita harus melihat setiap kerja sama internasasional sebagai bagian dari upaya membangun kembali kejayaan Indonesia sebagai bangsa yang sejak dahulu menjadi simpul penting peradaban dunia," katanya.

Menurut Cep, tindak lanjut pemerintah tidak boleh berhenti pada implementasi berbagai kesepakatan kerja sama yang telah dicapai. Lebih dari itu, pemerintah perlu membangun narasi besar mengenai posisi strategis Indonesia dalam sejarah peradaban dunia.

Baca juga : Menlu Sugiono Dan Ketua MPR Direncanakan Hadiri Pemakaman Khamenei

"Kerja sama tentu penting, tetapi membangun cara pandang bangsa jauh lebih penting. Jika setiap hubungan internasional mampu ditempatkan dalam kerangka besar kebangkitan peradaban Nusantara, maka kita tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi dan politik, tetapi juga kepercayaan diri sebagai bangsa yang memiliki sejarah besar untuk kembali diperhitungkan dunia," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.