Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Batal Serang Iran, Pilih Berunding
Trump: Saya Tak Ingin Bunuh Orang
Selasa, 4 Agustus 2026 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Washington dan Teheran kembali memulai perundingan terkait ketegangan di Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Trump lebih pilih diplomasi.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut setelah membatalkan rencana serangan terhadap Iran pada Minggu (2/8/2026). Menurut dia, jalur diplomasi kini menjadi prioritas meski AS tetap siap mengambil langkah lain apabila diperlukan.
"Jelas mereka tak ingin diserang. Mereka mengetahui seberapa besar serangan yang akan terjadi karena mereka melihat persiapannya," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One usai kembali ke Washington dari New Jersey, dikutip Anadolu Agency, Minggu (2/8/2026).
Trump mengatakan, komunikasi dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran menjadi salah satu pertimbangan utama dalam membatalkan rencana serangan. Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan kini semakin terbuka.
"Mereka meyakini kesepakatan semakin dekat, terutama terkait Selat Hormuz dan menyangkut denuklirisasi. Sekarang yang kami lakukan adalah berbicara dengan mereka melalui jalur perundingan," ujarnya.
Baca juga : Geledah 6 Lokasi, KPK Sita Emas, Moge & Uang
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan lokasi maupun pihak yang akan terlibat dalam pembicaraan tersebut. Ia juga enggan menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk mencapai kesepakatan.
"Apakah saya lebih suka membuat kesepakatan? Jika perang terjadi, tak terhitung berapa banyak nyawa yang akan melayang. Kami tak menginginkan hal itu. Saya tak ingin membunuh orang," katanya.
Trump menambahkan, pemerintah AS akan memantau perkembangan proses negosiasi sebelum menentukan langkah berikutnya. "Tapi kami siap bertindak kapan saja jika diperlukan, meski saya lebih memilih kesepakatan," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Washington tidak perlu bertele-tele apabila ingin melanjutkan diplomasi. Menurut dia, AS cukup memenuhi seluruh komitmen yang telah disepakati dalam nota kesepahaman sebelumnya.
"Saya yakin memorandum ini akan menjadi pusat gravitasi hubungan luar negeri kita di masa depan," tulis Pezeshkian, dikutip Al Arabiya, Senin (3/8/2026).
Baca juga : Kalau Tidak Sesuai Spek, Silakan Foto, Laporkan!
Ia menilai, pelaksanaan komitmen secara konsisten akan memperkuat stabilitas kawasan. "Kita harus berupaya memaksa musuh untuk tetap berkomitmen pada apa yang telah mereka tandatangani," katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran Majid Ebn-e-Reza meragukan pernyataan Trump. Menurutnya, komentar Presiden AS tersebut merupakan bagian dari operasi psikologis.
"Yang jelas, militer Iran tetap tak akan lengah ataupun mengendurkan kesiagaannya," kata Majid, dikutip Anadolu Agency, Senin (3/8/2026).
Sejumlah pejabat militer Iran juga membantah klaim Trump mengenai adanya permintaan penghentian serangan dari Teheran. Mereka menyebut pernyataan tersebut tidak berdasar.
"Klaim Trump bahwa Iran meminta serangan dihentikan hanya sebuah kebohongan lainnya, dan bentuk putus asa," ujar sumber militer Iran yang dikutip Mehr News Agency dan dilansir Anadolu Agency, Minggu (2/8/2026).
Baca juga : Hadiri Pembukaan MTQ XXXIV Kalbar, OSO Beri Semangat Para Qari
Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran juga membantah kabar mengenai tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. "Belum ada kesepakatan yang dicapai," ujar sumber tersebut kepada Fars News Agency, Minggu (2/8/2026).
Sebelumnya, menurut laporan Axios, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menghubungi Trump pada Sabtu (1/8/2026) dan memperingatkan bahwa serangan besar-besaran AS terhadap Iran berpotensi memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi Saudi dan negara-negara Teluk. Setelah pembicaraan itu, Trump memutuskan membatalkan rencana serangan dan membuka kembali peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Optimisme pasar terhadap kemungkinan dimulainya kembali perundingan tersebut langsung menekan harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun 4,08 dolar AS atau 4,64 persen menjadi 83,85 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 4,01 dolar AS atau 4,74 persen menjadi 80,66 dolar AS per barel. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya